(17) Dua Sisi Waktu

54 2 0
                                        

~Bagai musim pancaroba dadakan. Efek down menerkam, sesaat setelah menyadari diri tercekat.~

Tidak masalah bagiku untuk mengulang. Namun melanjutkan adalah sebuah misi yang tidak terbantahkan. Termasuk mengulang pelajaran tentang Fisika Matematika yang membuat otakku mampet. Eh, bukan berarti aku mendapatkan nilai E dan mengulang tahun depan ya. Ini hanyalah bagian dari printilan pelajarannya saja.

Siang ini cuaca tidak terlalu cerah. Mendung, namun tidak memberikan kesan akan hujan secepatnya. Sedangkan aku baru saja mendapatkan sebuah pesan sms yang bertanda Radit. Dahiku berkerut seketika. Fatia bilang akan memberikannya kepada komting. Tapi kok malah orang ini yang menghubungiku.

081xxxxxxxxxx
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Zahira, ini Radit selaku penanggung jawab pengumpulan peserta MTQ. Diharapkan kehadirannya di fakultas lantai tiga pukul 14.00 WIB.

Aku juga tidak mengerti bagaimana kedudukannya sebagai penanggung jawab kegiatan tersebut. Ingin kutelepon untuk mengonfirmasi kebenarannya. Kok malah enggak punya pulsa. Sepulang kuliah nanti akan kucek sendiri deh.

Setelah pulang kuliah, aku tidak sempat menemui Fatia. Entah ke mana dia sekarang. Tapi yang jelas cara kerjaku mempersiapkan diri untuk pulang itu terlalu lama. Seisi kelas sudah pada kosong sedangkan aku sendiri malah ketinggalan. Kondisi keuangan yang semakin minus membuatku tidak dapat berpikir jernih. Kalau begini, aku ingin menerima saja tawaran mengajar privat.

Aku menyusuri koridor gedung dan melihat seseorang yang juga baru keluar dari kelas. Lelaki bertulang berisi dengan dada bidang sedang membawa sebuah tas yang sengaja ia peluk. Aku yakin sekali itu adalah proyektor. Lelaki itu bercelana cingkrang dan mengenakan kemeja biru laut. Tapi siapa ya dia? Jangan-jangan abang stambuk lagi. Kalau dilihat dari perawakannya dari belakang terlihat lebih tua. Subhanallah, aku lupa ada pertemuan siang ini. Sembari memastikan pesan yang kubaca tadi pagi. Aku menarik sedikit rokku untuk menciptakan ruang gerak yang sedikit bebas. Kalau begini, enggak bisa nyantai lagi deh. Ini sudah pukul dua siang lewat sepuluh. Kedua kaki sengaja kupercepat dan berkolaborasi dengan detakan jantung. Pipiku pun juga ikut memanas.

Payah, baru saja aku masuk ke fakultas. Fokusku malah beralih si pria berkacamata. Siapa lagi kalau bukan Rangga. Ia tersenyum dari kejauhan dan membuatku sukses salah tingkah untuk tersenyum juga. Ketika aku sudah berada di pintu kaca malah ia sudah pergi. Aku mendadak merasa aneh begini. Ah, gara-gara mencoba move on. Otakku mendadak tidak waras ketemu pria. Bawaannya merasa doyan. Eh, apaan sih?

Aku sudah berada di fakultas lantai tiga. Tidak ada siapa-siapa di sana. Bahkan suara langkah kaki saja menggema. Ah, jangan-jangan sudah selesai lagi. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah tiga. Malah perutku mendadak keroncongan lagi. Aku mencoba mengirim sms kepada orang yang telah memberitahuku tadi pagi. Semoga saja pesanku dijawab dengan segera.

Nadia Zahira
Dimana?

081xxx
Maaf ya Ra, tadi Pak WD III bilang pertemuannya besok karena ada rapat. Tapi kabarnya MTQ akan diadakan dua minggu lagi.

Aku menyipitkan kedua bola mata dan bersiaga melirik ke sekeliling. Siapa tahu ada yang bisa kutanya-tanya dengan mode sok kenal dan sok dekat. Kecewa sih iya. Tapi ya mau bagaimana lagi. Beginilah nasip orang yang selalu sendirian. Tapi enggak apa-apa deh. Setidaknya aku memiliki banyak waktu untuk mempersiapkan diri. Pokoknya Ra itu enggak boleh malu-maluin.

Aku menerima tawaran sebagai guru privat. Kegiatan itu langsung dikonfirmasi hari ini. Maka setelah habis maghrib nanti aku langsung menuju ke TKP.

Ya, meskipun merasa belum pantas. Setidaknya aku ingin memiliki sedikit penghasilan agar tidak merengek dan mengerang sebal di pertengahan bulan. Kali ini pasienku cukup dekat dari rumah. Kepleset langsung sampai. Kalau ditanya perkara ilmu, sungguh aku masih belajar. Sedangkan pelajaran ini tak akan pernah usai hingga akhir hayat.

Ah, yang benar saja. Persepsiku terhadap mengajar sedikit berbeda. Padahal memikirkan persiapan mengajar saja membuatku kesal kepalang tanggung. Persiapannya begini, eh faktanya begitu. Tapi ada kok aku berada di kondisi asal berani mengajar. Palingan konteks bahasannya yang masih mudah. Muridku kali ini berjumlah dua orang. Mereka berdua satu kelas dan sepertinya sangat akrab. Pokoknya aku wajib serius nih. Apalagi kelas mereka sudah tingkat tinggi. Enggak ada istilah berleha-leha. Entahlah, aku berharap pilihanku ini tidak salah dan menjadi kesia-siaan belaka.

Jadi komplit deh permasalahanku kali ini. Belum sempat memasuki fase optimal manajemen waktu. Setelah pulang mengajar malah lelah duluan dan belum sempat mengerjakan laporan. Uh, sebal deh. 

Aku melihat sekeliling ruangan yang ditempati oleh beberapa orang. Tidak banyak, hanya saja aku mulai menyadari bahwa aura mereka berbeda-beda. Hal yang jelas kami satu fakultas. Hanya beberapa wajah saja yang kukenal di pendidikan fisika. Namun otakku mendadak konslet jika melihat seorang laki-laki yang menurutku tampan. Begitu kharismatik hingga membuatku bingung harus memilih yang mana.

Kami semua dikumpulkan dan diarahkan untuk mempersiapkan diri menghadapi kompetisi ini dua minggu ke depan. Meskipun aku tidak terlalu yakin dengan kemampuanku. Tapi ah, sudahlah. Barangkali ada sesuatu  yang akan kupelajari di kemudian hari. Waktu yang kumiliki itu sungguh sangat sempit. Semoga saja tidak lupa bernapas pada saat itu.

Aku menyenggol sikut abang Zain malam itu. Ia masih menuliskan huruf khot yang menurutnya belum pas. Padahal jika kulihat dari sudut mana pun bentuknya sudah sangat rapi.

"Apaan sih, Ra?" Ia mendengus sebal dan mengetukkan beberapa kali tinta di ujung bambu.

"Bang, ajarin Ra ya. Ra mau ikutan lomba kaligrafi soalnya." Aku tahu ini waktunya enggak pas. Masa belajarnya pada saat butuh saja. Eh, maksudnya ya pada saat ada kompetisi. Ini mah ada maunya saja istilahnya. Lagian keahlian itu tidak didapatkan secara mendadak. Jadi pemikiran untuk mendapatkan nominasi di kompetisi ini sepertinya harus disingkirkan deh. Semoga saja aku tidak masuk ke jurang pengharapan. Payah, takutnya enggak bisa keluar dari lingkaran itu nantinya.

"Yaudah, siapinlah tempat dan barang-barangnya," pinta abang Zain serius meskipun tidak menatap lawan bicara.

Setelah mendengar titahnya, aku menjadi yakin kalau dulunya ia merupakan orang yang disegani karena keterampilan di bidang seni kaligrafi ini. Dulu ia pernah bercerita kalau selama di pesantren rajin mengikuti ajang MKQ tingkat nasional. Bukan hanya sekadar keseruannya saja, tetapi ia juga mengatakan bahwa hidupnya sejahtera dan sangat bangga pada saat itu. Bahkan diberikan uang saku lagi. Eh, kalau ngomongin duit, mataku mendadak ingin berwarna hijau. Aelah, siapa sih yang enggak terketuk hati kalau dibayang-bayangin perihal hutang?

MTQ juga pernah di cabang hafalan sepuluh juz. Malangnya aku nyaris tidak pernah lagi mendengar ia menggemakan tasbi sejak lama. Entah mana yang harus kupercayai. Setidaknya ucapannya harus kuiyakan bukan?

Bersambung
Ada yang ingin komentar? Silahkan, dengan senang hati.

Physics Not DoctorsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang