(8) Fight Fire

97 7 13
                                        

~Mari kita lanjutkan cerita yang belum selesai~

Sore hari seperti biasa, khususnya malam minggu. Pasti berbagai undangan dari berbagai penjuru datang. Walaupun aku tidak diundang. Aku selalu menemani Mamaku undangan. Lumayan perbaikan gizi gratis. Busana yang aku kenakan seperti biasa sederhana dengan warna navy. Serta tidak ada polesan make up. Sedangkan Mamaku memakai baju muslim merah.

Setelah sampai di tempat pesta. Perhatian tidak lagi tertuju pada orang-orang di sekitar apalagi panggung yang sedang dia. Seperti apa yang sedang mereka lakukan dan bagaimana kesejukan malam ini? Aku mulai mengambil menu makanan satu per satu. Ada nasi dan beberapa lauk lainnya tidak terkecuali sop dan kerupuk. Setelah itu duduk di kursi makan bersama Mama. Kuamati perlahan makanan tersebut, terlihat enak. Namun, aku tidak berselera sama sekali. Perutku bawaannya penuh.

Menyebalkan. Ini pasti karena Mukhlis. Iya, pasti dia biang keroknya. Dasar makhluk astral. Tanpa berpikir panjang dan berkompromi terlebih dahulu kepada hati dan pikiran. Aku memutuskan untuk menge-chatnya lagi

Nadia Zahira, Sudah makan?

Muhammad Mukhlis Muflih, Sudah pakai udang tadi. Kau sudah makan?

Nadia Zahira, Wuah enak dong. Aku lagi makan pakai lele. Tapi enggak selera.

Muhammad Mukhlis Muflih, Kenapa?

Nadia Zahira, Sepertinya ini karena aku jatuh cinta sama kamu.

Send, aduh gawat sudah terkirim pula. Malah tidak bisa ditarik kembali pesanku. Ini semua salah tanganku.

Muhammad Mukhlis Muflih, Tapi aku enggak bisa menerima kamu.

Astaghfirullah, bukan begitu maksudku. Padahal aku tidak berniat untuk menjadikannya pacar. Hanya saja sekedar pengungkapan. Lagian aku juga tidak ingin pacaran, ungkapku dalam hati.

Nadia Zahira, Eh bukan maksudku seperti itu. Aku hanya ingin kita berteman saja.


Padahal cuaca sedang cerah malam ini namun, tidak dengan cuaca di hatiku. Rasanya aku ingin menutupi wajahku dengan kaleng. Alat apa sajalah itu yang penting tidak terlihat lagi wajah yang tengah malu ini. Aku yakin rumput yang sedang bergoyang sedang menertawakan salah tingkahku.

Aku merasa seperti sangat agresif. Pasti orang lain beranggapan bahwa tidak ada istilah ovarium mengejar sperma. Eh, aku ngomong apaan sih. Anak kecil yang baca ini jangan dilihat ya. Konten lapak menuju dewasa. Jemari mendadak kaku. Rasanya ingin melemparkan ponsel ini jauh-jauh hingga tak kutemukan lagi keberadaannya. Tapi sayang harganya mahal. Entar Ayahku ngamuk kalau kubuang.

Setelah pulang. Rasa keingintahuanku terus saja bergemuruh. Jika dengan ponsel tidak dapat memuaskan rasa penasaranku. Aku menggunakan LCD yang berukuran 17 inchi. Sebut saja itu notebook karena tidak memiliki kriteria sebagai laptop yang berkapasitas 64 bit. Notebook ini hanya berkapasitas 32 bit. Susahnya itu tidak bisa masuk aplikasi yang berat-berat. Tapi ini tidak ada hubungannya dengan hatiku yang kacau balau. Walaupun begitu, hatiku tetaplah sama. Namanya masih terperangkap dalam jeruji kalbu dan belum dapat kukeluarkan saat ini. Namun, daripada aku men-stalkingnya lagi yang membuat dada semakin sesak, lebih baik aku mengerjakan laporanku ini. Huh, sepertinya aku akan begadang lagi malam ini. Tapi aku ngantuk hiks.

*
Ia seperti api yang siap membakar kulit tanpa ampun. Meski kata terbungkam menahan nyerinya rindu.

Ia seperti api yang siap memelukku dengan ilusi. Terbakar tanpa kasat mata. Hangus bersama kepingan luka.

Ia seperti kobaran api yang siap memakan ingatanku tanpa berpamitan. Lalu padam membawa perihnya rasa gemuruh.

Aku berada dalam lingkaran api yang disuguhi dengan rasa semu. Padamu aku menyapa. Sedangkan rasa ini terasa bersalah.

*
Saat ini percakapan yang paling menyenangkan adalah mendiskusikan kejadian tadi malam dengan pihak yang terkait. Sebenarnya aku masih tidak habis pikir apakah ini miskonsepsi atau bukan? Yang jelas aku tidak salah apa-apa. Aku hanya menyatakan perasaan bukan berarti memintanya untuk menerimaku. Namun, walaupun begitu mudah-mudahan aku salah.

Inaya hampir tersedak ketika aku mengatakan hal ini dengan suara yang pelan padanya di kantin. Padahal aku mengatakannya dengan nada dasar yang paling rendah. Sedangkan suasana di tempat keramaian. Bisa ya telinganya sangat tajam.

"Yaiyalah Ra. Yang sabar ya. Itu secara enggak langsung kamu nembak dia," ungkapnya penuh yakin sembari menepuk bahuku. Tangan kirinya membentuk lorong bisikan di telingaku.

What the he ... ll?

Bagai sambaran petir di siang bolong. Ingin sekali menjedotkan kepala ini ke dinding ataupun menggigit jari. Tapi enggak jadi entar dikila gila karena korban depresi. Punya pikiran kok pintar amat ya. Aku terdiam sejenak kemudian melanjutkan tingkat kealayanku.

"Gimana itu Nay, please tolong aku?" Mataku berkedip sambil menangkupkan kedua telapak tangan beberapa saat guna memastikan permohonanku diterima olehnya. Ia menggeser ke kanan sehingga menciptakan jarak yang lebih renggang.

"Dia kawan aku SMAku Ra. Aku dulu pernah dekat sama dia. Tapi enggak dekat kali lah. Enggak usah terlalu dipikiri itu," ungkapnya santai namun menurutku ia sedang memasang rasa was was.

Ah, aku cemburu. Prasangka kini terlalu berlebihan. Padahal dia kan tidak salah apa-apa. Malahan aku sendiri yang salah. "Nay, jangan bilang ke dia ya kalau kita satu kuliahan," bisikku di telinganya dan berhasil membuat dia geli sembari tersenyum.

*
Ngomong-ngomong setelah menuliskan rangkaian kata dengan api. Pernah enggak terpikir api benda apa? Masa iya dosenku pernah bilang api bukanlah benda gas. Aku penasaran lagi dan segera meluncurkan jari-jari lentikku di papan tombol notebook pagi ini. Dengan bantuan hotspot dari ponselku. Informasi dengan cepat terbaca di dalam notebookku

Menurut pemisalan yang kubaca dari lilin yang menyala akan menimbulkan panas. Panas inilah yang merupakan hasil reaksi kimia dari lilin dan oksigen. Panas yang ditimbulkan akan memanaskan udara di sekelilingnya. Kalau diperhatikan api yang paling dekat berwarna biru karena suhunya panas, sedangkan yang sudah agak jauh akan berwarna kuning karena sudah mulai kehilangan panas. Sebagian besar api adalah gas yang dipanaskan sehingga bercahaya. Namun, ada sebagian kecil api yang suhunya terlalu tinggi. Di daerah ini, molekul-molekul gas lilin dan udara kehilangan elektron sehingga menjadi plasma.

Wuah pantas saja kalau melihat kompor gas yang berwarna biru kelihatan ada dan tiada. Ternyata warna biru dari api sangatlah panas. Namun, terlihat menyejukkan. Jadi ingin menulis rangkain kata lagi akunya.

Kau bagaikan birunya api antara ada dan tiada namun menghanguskan harapanku seketika.

Sejuk dalam pandangan namun memusnakan segala yang berkecamuk

Kau seperti plasma yang menyambarkan panasnya cemburu buta.

Eh, kata yang kutujukan untuk siapa itu? Duh, entahlah. Gatswat, waktu telah menujukkan pukul 06:10 WIB sedang laporanku masih banyak. Rasanya tulang-tulangku pada remuk dan ingin tidur di kasur. Aku berhasil memanfaatkan waktu mengerjakan laporan selama empat jam. Namun melupakan Tahajud yang kunanti. Astaghfirullah, rasanya sayang sekali tidak menemu Tuhan di sepertiga malam ini. Padahal ada banyak hal yang ingin kubagi saat ini. Tentang kebodohan yang seharusnya tidak kulakukan.

TBC

Kalau begini ada yang mau komentarkah?
Ayo pada rekomendein ke teman-teman kalian ya. (promosi yang terselubung #plak)

Salam Rindu
Harumpuspita

Physics Not DoctorsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang