(31) Penulis Lepas

46 1 0
                                        

~Membebaskan segala waktu tanpa perlu mengikat ~

Entah kenapa status Instagram teman baruku seolah menjadi tempat pemberitaan yang paling update. Macam-macam deh bentuknya. Namun aku bersyukur mereka semua seperti jalan yang akan mengajakku pada zona aman. Meskipun aku tidak mengenal mereka.

Aku baru menyadarinya, setelah membuat akun Instagram baru atas nama pena. Akun ini rencananya kugunakan sebagai tempat untuk mengikuti sesama penulis dan berita yang terkait. Beda sekali dengan akun Instagramku yang pribadi. Perbedaan profesi dan keinginan membuatku sering merasa rendah diri. Mereka hanya butuh  sensasi dan ketenaran belaka. Jika mungkin dulu aku selalu iri dengan aktivitas mereka di Instagram. Kini tidaklah lagi. Aku hanya butuh kata-kata semangat yang memprovokasi impian.

Ah, rasanya tidak sabar bisa menerbitkan buku dan dibaca oleh sejuta umat. Bahkan namaku selalu hangat diperbincangkan di setiap komunitas maupun seseorang yang menyukai dunia literasi. Tapi, ada sesuatu yang mengganjal begitu dasyat dalam dada.

Mau aku kemanakan ilmu fisika itu?

Ah, mungkin ide menuliskannya di blog adalah pilihan terbaik. Meskipun aku tidak tahu pasti mekanismenya seperti apa. Kisah sukses orang-orang yang berada di blog juga tidak kalau jauh dengan para vlogger. Bahkan ada yang bisa jalan-jalan gratis lagi dari blogger perjalanan.

Setelah membaca beberapa cerita yang bertema medis dan ditulis langsung oleh sang dokter. Perjuangan mereka memang sangat berat. Lebih berat daripada yang kujalani saat ini. Mereka harus sigap dan waspada kapan pun. Bangun lebih pagi dan membuang rasa ego yang bersarang. Intensitas begadang hingga larut malam pun juga enggak kalah denganku.

Ah, aku itu harus selalu ingat di mana posisi sebenarnya. Ada banyak yang harus dipertimbangkan. Termasuk tingkat pencapaian suatu tugas.

Hingga kini aku sendiri tidak berani memprediksikannya. Ah, mau sampai berapa lama lagi aku seperti ini? Selalu membiarkan mereka menertawakan keputusanku yang teramat carut marut bagiku. Aku sungguh jengah melihat status teman yang sudah bekerja dan menghasilkan lebih banyak uang. Sedangkan aku sendiri, sepeser pun tidak punya. Menyebalkan, bahkan waktu yang kupunya terasa sangat singkat dan terlihat pula kedokku sesungguhnya.

Terlebih lagi setelah mengetahui teman-teman blogger juga pada sukses setelah menggeluti dunia tulis menulis. Aku seperti remahan rengginang ketika melihat prestasi mereka. Rasa iri yang mendekam, seperti sebuah pertanyaan bermunculan. Aku kapan ya?

Ah, tidak mungkin aku bermunafik bahwa menulis ini merupakan sebuah peleraian hati saja. Nyatanya, aku memang butuh pencapaian sebagai pembuktian dan menenangkan hati. Kesabaran itu juga ada batasnya.

"Mana buktinya?!" tantang abang Zain sembari memberikan sulut kemarahan lewat kedua bola mata yang menatap.

Aku terdiam dan mematung dengan hentakan suara itu. "Santai saja Bang. Roda akan berputar. Tidak selamanya aku berada di bawah," jawabku mencoba mengangkat rasa sakit yang menikam. Jujur ini menyakitkan ketika ia bertanya lagi tentang hasil dari kegiatan menulisku. Bahkan waduk mulai menggenang di kelopak mata. Menyebalkan, aku sebal dengan suasana seperti ini.

Bagiku, abang Zain hanya tidak mengerti saja kalau kegiatan menulis ini lebih menjanjikan. Apalagi jika sampai terlenal. Pasti penghasilan yang akan kuterima tidak sebanding dengan bayaran mengajar dari guru honorer.

Kegiatan menulis ini fleksibel dan tidak membutuhkan keterikatan waktu selain batas akhir dalam pengumpulan. Bahkan masih bisa disandingkan dengan pekerjaan lain. Misalnya menjaga rumah kapan pun yang aku mau.

Ini yang aku mau sejak dulu. Bisa  memastikan kondisi keluargaku baik-baik saja namun tetap berduit. Ah, terlalu banyak impian yang kusemaikan. Namun belum pula bertumbuh sebagaimana mestinya.

Menulis bukan hanya terpatok pada ranah fiksi saja. Melainkan juga non fiksi. Hanya saja kalau bagian non fiksi inilah yang membutuhkan pertanggung jawab lebih. Orang-orang yang membacanya termasuk kategori melek literasi. Tidak sembarangan, rata-rata akademisi.

Ah, aku lupa. Pekerjaan membuat konten seperti konten kreator juga menarik. Aku bisa melakukan itu sebenarnya. Terlebih lagi sudah masuk ke dalam komunitas Ajar Belajar. Tempat para akademisi bisa membagikan ilmu lewat video. Lagian, mengalihkan pembelajaran berupa video tutorial penjelasan juga menjanjikan sepertinya. Terlebih lagi, aku hampir menyandang gelar sarjana sebentar lagi. Meskipun tidak tahu kapan pastinya.

Aku terlalu serius memikirkan biaya bersebab tekanan sana-sini. Andai saja aku bisa fokus ke salah satunya dan percaya bahwa  keuanganku baik-baik saja. Hingga kini, tak satu pun dapat menenangkan kalbuku.

"Ra, kau selesaikan skripsimu. Kalau bisa segera menyelesaikannya. Kau bisa memilih jalan hidupmu," ucap Abang Zain sembari menyandarkan diri di kursi plastik berwarna cokelat.

Kedua bola mataku berbinar, memikirkan makna ucapannya. "Benarkah?" Seakan ada rasa tidak percaya yang bersemayam.

"Kau dengar cakap abang!"

Waduh, abang Zain memang tidak main-main. Ia bukanlah orang yang mudah berubah pikiran. Sekalinya memiliki azam untuk melakukan sesuatu. Ia akan menyegerakan.

Beda sekali dengan karakteristikku yang masih selalu menunggu saat yang tepat. Hasilnya tidak selalu ada ketepatan dalam bertindak. Relungku selalu salah dalam mengartikan setiap arti kehidupan.

Apakah aku bisa, tetap berjuang tanpa harus meninggalkan?

Apakah aku bisa, tetap teguh tanpa harus membawa perasaan ketika terluka?

Apakah aku bisa, belajar mengerti keadaan ketika aku ingin mengerti diri sendiri?

Apakah aku bisa percaya, jika ada keraguaan yang mengganjal dalam dada?

Ah, pertanyaan itu menekankan kesiapan mentalku dalam berjuang menyusuri kepenulisan ini. Aku sudah sangat mencintai jalan ini.

Maka izinkalah aku berproses sebagaimana yang kuinginkan. Ya, aku memang tidak boleh mundur. Sekali maju harus bisa mencapai garis finish.

Aku telah tenggelam dalam ranah kepenulisan. Maka basahkan saja seluruhnya, agar aku tahu bagaimana rasanya menyelami kepenulisan dengan baik. Meskipun aku tahu ilmuku sangat sedikit dan sakit kepala jika memikirkannya. Aku tidak boleh berhenti sampai menggapai keberhasilan itu sendiri.

Keberhasilan? Ah, siapa pun pasti menginginkannya. Hal itu selalu menjadi pemantik semangat saat berjuang. Bahkan lebih cepat daripada perkiraan. Tidak peduli apakah ia dalam kondisi baik-baik saja atau sebaliknya.

Ya, aku harus membuktikan kalau aku memang bisa melalui serangkaian permasalahanku. Itu pun harus dalam jangka secepatnya. Tidak boleh berlama-lama. Bahkan membiarkan mereka tertawa sepuasanya ketika aku dalam kondisi terpuruk.

Aku telah melalui serangkaian jalan acak adul selama hidupku saat ini. Sudah cukup semua remehan mereka. Aku tidak mau lagi terus-terusan dalam belenggu kenestapaan.

Meskipun konsekuensinya berupa kerasnya hati. Aku memang harus mempersiapkan diri dan tidak boleh mewek. Sebab Zahira yang sekarang ini berbeda. Tidak akan sedih apalagi terbelenggu nestapa hanya karena berbeda. Perbedaan itu tidaklah menjadikan suasana menjadi rusak. Tetapi indah bila ada yang mengalah. Ya, tetaplah mengalah jika bersangkut paut pada ocehan mereka. Tetapi tidak mengalah pada keadaan.

Bersambung

Physics Not DoctorsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang