~Cerita akan berlanjut jika dihadirkan masalah.~
"Kak Ra!" sahut Yuliana. Ia baru saja menjejakkan kaki ke dalam rumah.
"Iya," balasku cepat. Aku masih berkonsentrasi belajar membuat essai, tapi ini benar-benar sulit. Ah, seharusnya aku sering-sering baca essai. Otakku menjadi panas tidak karuan. Sedangkan lembaran kerja yang ada di notebook-ku benar-benar suci.
"Kak nggak usah deh," ia memainkan ujung kerudung toskanya, "Yuli nggak jadi ikut. Nggak papa. Lagian kan Yuli masih pemula."
Duh, kesannya malah jadi nggak enak nih. Namun buat apa aku mempertahankan sesuatu yang tak bisa kulakukan. "Baiklah, yaudah nggak papa." Aku tahu benar, mau dipaksa bagaimanapun Yuliana akan tetap memberontak.
Aku beralih ke pekerjaan selanjutnya. Wattpad. Mataku berbinar seperti bintang yang tengah berimigrasi ke kelopak mata. "Ehem, tengok nih dek." Aku mulai pamer dengan tulisan yang kubuat. Sebentar lagi novel pertama tamat dan akan kuluncurkan novel kedua. Novel ini penuh dengan hayalan. Imajinasi yang terperangkap dalam hayalan amatir tentang cinta.
"Kak updetlah cerita terbaru, biar Yuli rekomendein nih ke temen-temen Yuli."
Jujur sebelumnya belum ada orang yang menawarkan itu. "Cius nih?"
"Iya, apa sih yang enggak buat kakak," ucapnya dengan tatapan gemas.
Ah aku jadi malu, pengen lebay dengan tingkat alay.
*
2 Mei
Well, meskipun mahasiswa, kampusku wajib mengadakan upacara pada hari-hari nasional. 2 Mei adalah hari pendidikan nasional. Ah, Aku selalu menjadi urutan orang terakhir yang datang. Namun, jika berurusan mendengarkan ceramah aku cukup tanggap dengan menyimak seksama.
Bisa jadi dari momen ini aku semakin semangat dalam mencapai impianku. Impian yang sempat kutulisakan beberapa, kini masih meringkuk tertumpuk di antara buku-buku. Tapi hiks, aku tak memiliki ambisi yang kuat untuk merealisasikannya. Nyaliku sudah ciut duluan saat berada di gerbang pilihan.
And true, nasihat bapak Rektor cukup memotivasi moodku hari ini. Setelah sekian jam berdiri, akhirnya barisan dibubarkan sebagai isyarat selesai.
Hujan panas untuk kesekian kalinya. Kini aroma tanah menguar ke seluruh penjuru. Serta jejak kecil telah tercipta pada jalanan berlubang. "Ah, cahaya kemerahan itu," gumamku setelah melihat spektrum yang terpancar dari Matahari. Seolah senja akan datang.
Setelah sampai di rumah, aku sekadar membuka BBM untuk melihat caption-nya Yuliana yang ikut berpartisipasi sebagai pengibar bendera. Pasti terlihat elegan dan keren. Dari dulu aku sungguh takjub melihat orang yang ikut paskibra. Seperti ada ketertarikan tersendiri.
Wait, ada apa dengan status semua orang. Kok pada memposting gambar yang sama di BBM dengan caption mahasiswa membunuh dosen. Satu, dua, tiga, ..., sepuluh. Seolah sedang berlangsung siaran langsung. Duh, ngeri malah ada darahnya lagi. Tapi buat penasaran. Aku mengirim pesan pada orang yang belum kukenal secara acak.
Nadia Zahira, eh itu kejadiannya gimana?
Muhammad Mukhlis Muflih, setelah dosen keluar dari kamar mandi mau sholat ashar, mahasiswa tersebut langsung menikamnya dari belakang hingga tewas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Physics Not Doctors
ChickLitNadia Zahira bercita-cita menjadi guru sejak Sekolah Dasar. Namun, setelah memasuki Sekolah Menengah Pertama ia bercita-cita menjadi seorang dokter. Keinginannya diperkuat dengan mempelajari olimpiade Biologi sejak Sekolah Menengah Pertama hingga Se...
