.
.
Pagi-pagi sekali, Lisa sudah duduk sambil menyantap sarapan paginya di meja makan bersama dengan Hanbin, Jungkook, dan kedua orangtua mereka.
"Jungkook, bagaimana kabar Jennie? Kenapa dia tidak diajak main kemari? Eomma dengar, dia sudah pulang dari Belanda."
Detik itu juga Lisa tersedak. Entah kenapa, Lisa terkejut mendengar jika eomma Jungkook ternyata sudah mengenal Jennie sebelumnya.
"Jungkook sudah bertemu, jadi untuk apa aku mengajaknya kemari."
"Tapi eomma belum bertemu dengan Jennie. Eomma rindu sekali. Kau harus mengajaknya kemari nanti."
"Hm. Baiklah." Jungkook mengambil tas dan kunci mobil kemudian pergi dari ruang makan.
"Jungkook, kau belum habiskan makananmu!!" teriak ibunya dan hanya dibalas lambaian tangan oleh Jungkook.
Melihat itu, Lisa cepat menghabiskan makanannya agar bisa cepat berangkat menuju kampus. Selesai makan, Lisa berpamitan kepada kedua orangtua Hanbin.
"Kau tidak mau membawa makanan?" tawar ibu Hanbin.
"Ahh.. tidak, bibi. Lisa sudah terlambat." Lisa tersenyum.
"Kau kan satu kampus dengan Jungkook, kenapa tadi tidak berangkat bersama saja? Sepertinya Jungkook juga masih diluar."
"Mmm.."
"Biar ku antar." Hanbin menarik tangan Lisa secara tiba-tiba dan membawa Lisa menuju mobilnya.
Lisa menatap Hanbin yang fokus mengendarai. Entah kenapa, Lisa tau jika Hanbin saat ini terlihat seperti cemburu. Cemburu jika nantinya Lisa akan diantar oleh Jungkook. Namun apa itu bagian dari perjanjian? Atau memang kecemburuan itu diluar perjanjian? Pertanyaan itu masih sering terlintas dipikiran Lisa dan Lisa masih terus mencoba untuk mencari jawabannya.
Setelah sampai didepan kampus, Lisa turun dari mobil Hanbin. Hanbin membuka kaca mobilnya dan menyuruh Lisa untuk mendekat kearahnya.
chu~.
Hanbin tiba-tiba mencium pipi Lisa dan Lisa hanya bisa membulatkan matanya. Hanbin mengacak-acak rambut Lisa kemudian pergi meninggalkan Lisa yang masih mematung sambil memegangi pipinya.
D-dia mencium pipiku? Arghh.. andwae!! pipiku sudah ternodai. Andwae, andwae!!!
"Andwae!!" Lisa berteriak sambil menghentakkan kedua kakinya secara bergantian.
"Hei, Lisa kau ini kenapa? Pagi-pagi sudah berteriak tidak jelas." tanya Rose menggelengkan kepalanya melihat tingkah Lisa.
"Arghh.. andwae, dia mencium pipiku. Huwaa, pipiku ternodai." Lisa mengusap pipinya bekas ciuman Hanbin tadi.
"Apa? Siapa yang mencium pipimu? Biar aku habisi dia. Cepat katakan" Rose melotot sambil memegang kedua bahu Lisa.
"Hanbin."
Rose mengerjapkan matanya dan menelan ludahnya.
"Kenapa? Kau mau menghajarnya kan? Cepat hajar dia, Rose."
Rose tersenyum sambil menggaruk tengkuknya.
"Sepertinya lainkali saja aku menghajarnya, aku masih punya banyak tugas yang belum aku selesaikan. Aku pergi dulu, Lisa." Rose menepuk pundak Lisa kemudian pergi meninggalkannya.
Lisa berjalan menelusuri lobi kampus sendirian. Kali ini Lisa datang terlalu awal jadi kampus masih terlihat sepi.
Lisa menghembuskan nafas, pagi ini cuaca dingin. Dan Lisa hanya memakai hem tipis dengan celana jeans panjang berwarna biru dongker.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE ICE PRINCE✔
FanfictionJungkook, namja dingin dan misterius berhasil membuatku terus berkorban demi mendapatkannya. - Lalisa. ° Bahasa baku! Annyeong! ini ff gw tentang lizkook yang pertama kali gw buat. Dan saranku, liat storynya jangan cuma di chapter 1 doang, sampe u...
