Kebenaran mengenai kepergian Jungkook masih terus menghantui Lisa. Lisa yakin Jungkook tak akan membohonginya sekalipun memang iya, Lisa tak akan bisa memendam rasa kecewanya pada Jungkook.
Lisa masih terdiam memikirkan hal itu. Kepergian Jungkook membuat Lisa tak tenang sepanjang hari. Ingin rasanya dia menanyakan kebenaran ini namun Lisa tak tau lagi harus bertanya pada siapa.
"Oy. Kau ini kenapa bengong?" Daniel datang dan memecah lamunan Lisa sesaat.
Lisa tersenyum.
"Kau kenapa disini? Bukankah kau ada kelas pagi?"
"Sstt. Aku bolos pagi ini.". Daniel meliat keadaan sekitarnya berharap teman sekelasnya tidak mengetahui keberadaannya.
"Mwo? Hei, kau harus masuk. Masih ada waktu 2 menit untuk kembali ke kelas. Cepat masuk sebelum terlambat."
"Tidak mau. Aku bolos kan untuk menemanimu disini. Aku tau kau sedang sedih kan? Maka dari itu aku bolos untuk menghiburmu. Lagian aku juga jarang bolos, jadi biarlah aku bolos pagi ini."
"Tapi kan--"
"Ssstt. Don't say anything." Daniel menempelkan jari telunjuknya pada bibir tebal Lisa.
"Ikut aku." Daniel menarik tangan Lisa menjauh dari area kampusnya.
©
"Untuk apa kita disini?" Lisa mengerutkan keningnya merasa heran dirinya dibawa disebuah Taman tak jauh dari kampus.
"Kau tunggu disini. Aku akan kembali." Daniel pergi meninggalkan Lisa.
Apa yang dilakukan anak itu?
5 menit kemudian Daniel datang membawa sebuah gitar dan sebuah lolipop.
"Untuk apa semua benda itu?"
Daniel tak menjawabnya, dia duduk dibawah Lisa tepat dihadapan Lisa. Tangannya mulai mengarah ke senar gitar lalu mulai memetiknya pelan.
Oh, there she goes again
Every morning it's the same
You walk on by my house
I wanna call out your name
I want to tell you how beautiful you are from where I'm standing
You got me thinking what we could be 'cause
I keep craving, craving, you don't know it but it's true
Can't get my mouth to say the words they want to say to you
This is typical of love
Can't wait anymore, I won't wait, I need to tell you how I feel when I see us together forever
Lisa sangat terkejut dengan pilihan lagu Daniel. Lisa menikmati permainan gitar Daniel.
In my dreams you're with me
We'll be everything I want us to be
And from there, who knows, maybe this will be the night that we kiss for the first time
Or is that just me and my imagination
We walk, we laugh, we spend our time walking by the ocean side
Our hands are gently intertwined
A feeling I just can't describe
All this time we spent alone, thinking we could not belong to something so damn beautiful
So damn beautiful
I keep craving, craving, you don't know it, but it's true
Can't get my mouth to say the words they want to say to you
This is typical of love
Can't wait anymore, I won't wait I need to tell you how I feel when I see us together forever
In my dreams, you're with me
We'll be everything I want us to be
And from there, who knows, maybe this will be the night that we kiss for the first time
Or is that just me and my imagination
Daniel selesai memetik gitar lalu memandang wajah Lisa.
Deg! Lisa merasa aneh dengan pandangan Daniel padanya kali ini.
Setelah mendengar lagu Imagination dari Shawn Mendes tadi Lisa merasa Daniel begitu mahir dalam meresapi lagu itu hingga sekarang mungkin Daniel masih terbawa dengan pembawaan lagunya.
"Lagunya bagus. Suaramu juga indah. Aku sangat terhibur. Terima kasih." Lisa tersenyum.
"Kau harus tetap tersenyum, Lisa. Jangan terus bersedih hanya karna Jungkook. Aku siap menghiburmu kapan pun bila kau sedang terpuruk." Daniel tersenyum.
Kenapa Daniel menjadi canggung seperti ini?
"Ini permen untukmu. Aku tau kau pasti masih menyukai lolipop kan?"
"Ya. Kau masih mengingatnya." Lisa tertawa lalu membuka permennya.
Setelah mereka terlalu lama di Taman, Daniel mengajak Lisa ke sebuah supermarket terdekat untuk membeli minuman dan beberapa camilan untuk menemani mereka.
Masuklah mereka pada supermarket tersebut. Daniel memilih beberapa camilan dan Lisa memilih beberapa minuman untuk dibeli.
"Apa ya minumannya? Umm.. cola terlalu keras, susu terlalu hangat, apa ya?" Lisa mengetuk dagunya dengan jari telunjuknya.
"Ahh.. Sepertinya jus dengan rasa buah lebih segar. Aku pilih ini." Lisa mengambil dua botol dari lemari es lalu menghampiri Daniel.
Brukkkk!
"Maaf. Maaf, saya tidak sengaja." Lisa membungkukkan badan merasa bersalah.
Namun Lisa dibuat terkejut dengan sosok yang telah ditabraknya. Dia adalah Jungkook.
"Jungkook? Kau--kau disini? Bukankah kau.." Lisa tak tau lagi harus berkata apa menatap pria yang berada didepannya sekarang.
"Permisi." Jungkook melewati Lisa begitu saja.
"Tunggu!" Lisa mengejar Jungkook sebisa mungkin. Dia tidak mau menyimpan teka teki lagi. Dia harus menyelesaikan kebenaran ini pada Jungkook.
Lisa terus mengejar Jungkook. Dia menarik tangan kekar Jungkook dan berhasil menghentikan langkahannya.
"Jelaskan padaku apa arti ini semua? Kau membohongiku? Jika iya, untuk apa? Jelaskan Jungkook. Aku tidak mau terus terbayang dengan kebenaran itu." Lisa menahan tangan Jungkook agar dia tidak bisa lari darinya.
"Iya. Semuanya bohong. Kau sudah tau kan? Biarkan aku pergi." Jungkook menunduk tak mau memandang Lisa.
"Untuk apa? Untuk apa semua kebohongan itu, Jungkook?! Kau mau membuatku menjadi gila karna menunggumu? Kau berbohong untuk apa?! Kau mau tau seberapa sabarnya aku menunggu kedatanganmu? Iya?!"
"Lepaskan tanganku."
"Kau salah Jungkook. Kebohonganmu ini akan membuatku menjadi berfikir untuk membencimu. Kenapa? aku yang terlalu bodoh terus berusaha mendekat padamu bahkan merelakan apapun untukmu. Tapi kau sama sekali tak peduli seolah aku hanya seperti penggemarmu. Terlalu bodoh bukan selama ini aku mengira kau benar-benar menyukaiku. Ternyata kau hanya menjadikanku wanita pengisi pada waktu luangmu saja. Terima kasih, Jungkook. Karna kebohonganmu ini membuka mataku untuk melihat ternyata kau tak pantas untuk kucintai." Lisa pergi meninggalkan Jungkook.
"Bencilah aku sesukamu. Aku memang pantas untuk kau benci." Jungkook mengacak-acak rambutnya sendiri.
Lisa berlari kembali menuju tempat dimana Daniel berada. Dengan air mata yang masih mengalir, Lisa berusaha menutupi kesedihannya didepan Daniel. Dengan segera Lisa menghapus air matanya dan mulai tersenyum ketika sampai didepan Daniel.
"Bukankah itu Jungkook? Dia bukannya kembali ke Belanda? Lalu kau tadi sudah menemuinya kan, kenapa tidak ikut dengannya? Kau merindukannya kan?" Daniel terus bertanya ketika Lisa sudah dihadapannya.
"Dia bukan Jungkook. Aku salah orang tadi. Mereka mirip bukan?" Lisa tersenyum.
Daniel mengerutkan keningnya.
"Benarkah?"
Lisa mengangguk.
"Oh ya kau sudah bayar minumannya? Maaf tadi aku lupa membayarnya karna mengejar orang itu. Nanti ku ganti deh."
"Tidak apa. Aku akan mentraktirmu kali ini." Daniel mengusap puncak kepala Lisa.
Aku tak bisa harus berpura-pura tegar seperti ini.
Aku lelah.
Aku ingin meluapkan semuanya.
Tbc ya gaes!
Maap ya author update lama:v
Nunggu banyak votenya dulu, tapi nyatanya dikit yang coment.
Yaudah author ngerti kok.
Nextnya,
rahasia deh nggak mau kasih bocoran:v
Votement dulu ntar up nya cpt.
Gomawo✌.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE ICE PRINCE✔
FanfictionJungkook, namja dingin dan misterius berhasil membuatku terus berkorban demi mendapatkannya. - Lalisa. ° Bahasa baku! Annyeong! ini ff gw tentang lizkook yang pertama kali gw buat. Dan saranku, liat storynya jangan cuma di chapter 1 doang, sampe u...
