Kau ingat, hari ini satu tahun yang lalu?
Pagi buta kau menjemputku dirumah ibu, berpamitan dan berjanji untuk mampir setelah pulang. Ibu berpesan supaya menelfon beliau ketika sudah sampai ditanah tumpah darah. Kau mengangguk, aku pun jua.
Pagi kau bopong carrier miringku, "Sudah berapa kali kita berjalan, tapi kamu selalu buruk dalam penataan." Kau mengeluarkan isinya dan menatanya ulang. Aku hanya diam melihat saja. Kau masih mengomel karena kau kira aku terlalu mendadak mempersiapkannya. Aku masih diam.
Pukul sembilan pagi di gerbang rinjani, kau seduh secangkir kopi bersamaku, berbicara tentang liku jalan dan beberapa genangan lumpur yang tadi sudah diceritakan. Kau berpamitan sebentar mengurus simaksi pendakian, aku mengangguk.
Kau tau, kau bukan laki -laki yang tampan setelah mandi, memakai parfum, berkeringat, bermain bola, mendaki gunung, berpetualang atau sebangainya.
kau tampan, karena tuhan, dan gunung
kau tau, kenapa carrierku selalu miring? karena kau tampan saat menatanya, aku ingin melihatmu menata carrierku, mengomel semaumu dan memastikannya nyaman dipunggungku. Kau tau, kenapa aku tak pernah ikut mengurus administrasi pendakian? Karena kau sangat tampan saat mengurusnya, karena kau tampan ketika berbicara, menulis dan membahas soal Medan dan trek yang akan kita lalui. Kau tau, kenapa aku lebih memilih memasak daripada memasang tenda? Karena kau terlalu terlalu tampan ketika mendirikannya, kau tampan ketika memastikan pasak tertancap, kau tampan saat memastikan tendaku aman dari angin dan hewan buas. Kau tau, mengapa aku suka berjalan dibelakangmu, walaupun aku ingin menjadi yang lebih dulu menjejakkan kaki di tanah tertinggi? Karena kau sangat tampan saat memimpin perjalananku.
Jika tidak ada tuhan maka tidak wudhu dan sholat, maka tidak ada ketampanan diwajahmu
jika tidak ada Gunung maka tidak ada simaksi, carrier, leader, tenda, pasak, tali temali, maka tidak ada ketampanan diwajahmu.
Kau ingat, senja itu kita sudah sampai di segara anakan? menikmati bola kuning yang mirip telor ceplok yang baru saja kau makan? kau ingat, kau pernah berkata.
"Masuk tenda sana, yang!" perintahmu sambil mengusirku cepat-cepat. Aku yang heran hanya bisa menatapmu tak jelas, "Masuk, yang!" perintahmu lagi.
"Senjanya mau mempercantik diri hari ini, tapi dia malu, soalnya ada kamu."
Aku hanya tersipu hari itu. "Yang, bilangin sama senja, jangan khawatir, masih lebih cantik dia dari pada aku."
"Loh, gak bisa gitu yang, Senja emang selalu cantik dimataku ketika sore, namun selain itu, kamu yang paling cantik, senja kalah saing."
"Huss." Aku menampar lembut bibirmu.
"Aku jadi percaya sama kata kata penulis kesayanganku," Katamu sambil menggiling bebijian kopi, "Tuhan dalam mood yang sama dalam menciptakan kamu, ranu kumbolo, dan segara anakan."
Tapi itu dulu, hari ini setahun yang lalu. Dan hari ini ditahun ini, kau telah mendaki kehidupan yang sebenarnya, meninggalkanku diantara gemerlap lampu lampu pendakian, meninggalkanku diantara bisingnya kota dan carrierku yang masih sama miringnya.
Sayang, kamu berkata, bahwa pergi untuk kembali, lantas, kemana kau dua Bulan ini? Membangun rumahkah kau diatap rinjani? Menunggu senja yang lebih cantik darikukah kau disegara anakan? atau sedang apa dirimu dipikiranku kala aku sedang menangismu?
KAMU SEDANG MEMBACA
Kepada, [TAMAT]
Teen FictionDi hadapan Ranu Kumbolo gadis itu kembali menatap kabut yang mulai turun. Dibelakangnya dua sosok manusia sedang berpelukan melawan suhu dingin yang menerpa. Salah satu diantara mereka bertiga menunggunya mulai menulis. "Ta, sudahlah." Aku akan men...
![Kepada, [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/108485033-64-k393437.jpg)