Selamat Ulang Tahun,Sayang.

194 23 0
                                        

21 November,

Selamat ulang tahun, sayang.

Bagaimana kabarmu setahun ini? Apa kamu makan teratur?  Sering-sering aku khawatir kepadamu. Kamu sering melewatkan makan, lalu balas dendam ketika ingat. Aku selalu membawa obat maag di tasku, kamu tidak pernah tau kan? Aku tau kamu pengidap maag, tapi kamu hanya tak ingin aku khawatir. Tapi sebenarnya sayang, bukankah sudah menjadi tugasku untuk khawatir? Sampai detik inipun aku masih khawatir.

Semoga diumurmu yang kini bertambah satu tahun, kamu semakin dewasa. Dengannya, gadis yang selalu kau bilang adalah petualanganmu, semoga kamu bersama selamanya. Entahlah, sedikit sakit hati aku mengatakannya. Kau tau sendiri, bagaimana bisa melihat tangan yang biasanya ku genggam, kini menggengam orang lain.

Lagi, selamat ulang tahun, sayang.

Selain makan, kau juga suka sholat di waktu akhir. Tapi kamu selalu mengomeliku ketika aku tak sengaja melakukannya. Aku benar tidak sengaja, sayang.  Tapi aku berharap, gadis mu itu tak bosan mengingatkan mu untuk sembayang, dan melupakan semangkok soto atau pecel hasil perayuan penggemarmu.

Ulang tahun kali ini kamu kemana?

Apa kamu ketempat biasa yang selalu kamu kunjungi setiap ulang tahunmu? Apa kamu dan petualangmu itu akan mengunjungi waduk selorejo? Aku sebenarnya heran, kamu adalah seorang petualang. Tanah tanpa buatan manusia adalah hal yang kamu gemari. Tapi kamu bilang, waduk selorejo adalah tempat terfavorit menghabiskan hari ulang tahunmu "Waduk ini mengajarkan aku untuk lebih dewasa. Waduk ini juga yang mengingatkanku, bahwa antara manusia dan alam adalah keselarasan, bukan yang seperti tahun-tahun lalu dalam hidupku, aku terlalu buta akan kemanusiaan." ujarmu sambil menyantap bakso dipinggiran waduk "Dia mengajarkan aku tentang kemanusiaan, sesuatu yang selalu ingin aku dapatkan disetiap ulang tahunku." begitu permohonanmu tiap ulang tahun dipinggir waduk. Tidak ada kue, lilin, bahkan kado. Kamu sendiri selalu melarangku untuk memberi sesuatu jika itu bukan dari hasil keringatku. Katamu, kita tidak boleh seanak-anak itu memeras keringat orang tua demi apa yang kita cinta.

Benar juga.

Pagi ini, minggu, aku ingin merayakan ulang tahunmu. Aku tulis pesan singkat untukmu, kutulis selamat atas bertambahnya usiamu, dan beberapa harapan untuk masa depan. Terimakasih, kau sempat sekali menjawab "terimakasih, semoga doanya kembali pula kepadamu."

Terimakasih.

Aku sudah meniati, hari ini aku akan memacu motor maticku, mengendarai ke waduk selorejo. Memakan seporsi bakso, satu gelas es degan muda, dan beberapa bungkus jajanan ringan. Aku benar-benar ingin merayakan ulang tahunmu.

Jika dipikir, kita tak lagi dewasa. Sejoli yang pernah bersatu, kita, kini bagaikan dua orang yang tak pernah saling bersilangan. Dua orang yang saling menjauh, padahal dulu saling membahagiakan. Benar-benar sekecil itukah kita? Atau hanya aku yang terlampau perasa.

Hal yang paling tidak kau suka dari aku, adalah aku yang perasa. Aku suka sekali bersedih untuk hal yang kecil, merumitkan sesuatu yang lurus, dan memutar balikkan hal-hal yang ada. Tapi diantara semua orang, kamu juga yang paling menerima sifat burukku. Iya, maafkan aku, dan terimakasih.

Oh,  bagaimana diulang tahunmu aku malah menulis tentang aku?

Sebenarnya, aku menulis ini dibawah pohon apa ya? Aku juga tidak tau. Tapi dari daunnya, terlihat seperti pohon jambu. Tempat ini adalah tempat favorite mu melihat waduk. Tapi bodohnya, bertahun kita merayakannya disini, tak kunjung pula aku tau pohon apa ini. Iya, semua begitu tampak nyata ketika aku kesepian lagi sendiri.

Biasanya, pukul sembilan kita sampai disini, menunggu bakso lewat, sholat dzuhur,  membeli es degan, dan berjalan-jalan kecil memutari kompleks.  Benar-benar. Aku rindu.

Lagi pula, sekarang benar pukul sembilan, lewat dua menit malah. Dimana kamu dan petualangmu? Sedangkah kau merayakan ditempat asing yang lain? Dengan filosofi yang lain?

Sayang, jangan begitu. Sejujurnya aku ingin kau datang kesini, menyapaku, memperkenalkan aku pada gadismu, lalu aku akan memantapkan hati. Bahwa benar ada yang menjagamu, selain aku.

Sayang, aku yakin kau tak datang disini. Aku yakin kau pergi mencari tempat yang lain. Apa filosofi ditempat baru itu? Aku harap tetap tentang kemanusiaan. Karena pandanganmu tentang manusia dan pemikirannya terlalu picik.

Lagi, aku juga sudah selesai dengan surat ini. Bingung untuk harapan mana lagi aku harus menjelaskan padamu. Kurasa semua jelas.

Ah sudahlah, maaf,  aku hanya ingin memanjangkan isi surat.

Ah sayang, aku benar - benar rindu.

Lagi, sekali lagi, selamat ulang tahun sayang, semoga panjang umur dan sehat selalu, semoga kamu bahagia dengan atau tanpa seseorang disampingmu, semoga kesuksesan akan dunia dan akhiratmu di realisasikan.

Semoga semua harapan dan doamu menjadi nyata.

Sayang, sumpah ini yang terakhir, selamat ulang tahun.

Dariku yang merindu, pasti kamu tau siapa aku.

Kepada, [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang