Hari ini, Malang Tempo Dulu digelar. Tua, muda, pasangan, sendiri, sahabat, musuh, saling aduk mengaduk disana. Sayang, tidakkah kau kemari? Di festival ini, kau selalu bersemangat, memakai pakaian tradisional, berjalan sambang-sambang, berfoto dengan para pegiat onthel yang berujung di warung kopi.
Kau selalu suka kesini. Katanya, Malang yang dulu sangat lah Indah. Guyub rukun, aman, damai, dingin, dan luar biasa. Namun sayang, bisa tidakkah kau melihat aku disini? Oh jika kau kemari. Aku yakin kau sibuk mengurusi gadismu itu. Dia ingin kau mengantarkannya ke sesi pemotretannya? Apakah dia tualangmu sekarang?
Ah sudahlah sayang, Malang Tempo Dulu tahun ini hanya digelar sekali. Tapi masih sama, ada pagelaran tari, teater jalanan, musik jalanan khas '90 an. Tidak mungkin kamu tidak datang. Dan tidak mungkin aku menemukanmu di antara ribuan manusia yang tertumpah disini.
Hari ini gerimis.
Tiba-tiba seseorang menarikku ketepian, dilahan kosong pemisah rumah tinggalan Belanda. Sedikit terkejut aku, tapi aku juga merasa sadar dengan tangan siapa aku ditarik sedemikian. "Akhirnya kau pergi sendiri kesini, bukankah ini adalah festival kesukaan lelakimu? Wah-wah. Sudah berani menjejakkan kaki lagi kau rupanya? Ada apa? Ada yang membuatmu sadar?"
Kalau rindu yang benar-benar rindu adalah hal yang membuatku tersadar. Maka ya.
"Kita kesana dulu, aku ingin beli es gandul tali merang" aku mengangguk, mengikuti langkah kaki nya yang tergesa. Badannya menyelinap diantara orang-orang, lalu ikut mengantri bersama anak kecil berbaju batik. "Kamu mau rasa apa? Biar aku belikan." aku menggeleng, aku tidak dalam keadaan bodoh, membeli es saat hujan jelas menetes dikepala kami, dan besok? Aku tryout.
"Sudahlah, kalau sakit juga, tidak masalah. Tidak ada yang mengkhawatirkanmu, tenang saja." Ujarnya sambil memberikan beberapa lembar uang dua ribuan.
Kami duduk di tepian, melihat orang-orang berlalu lalang. Wah, seramai ini, mana bisa aku melihatmu? Lagi pula apa yang ingin aku lihat, jika kini bukan trekking pole yang kamu genggam, melainkan tangan seseorang. Lalu, mana bisa aku lebih jauh melihatnya. Ah, sudahlah.
"lalu, bagaimana keadaanmu selepas dari Jogja?"
Seperti biasa, rindu tambah rindu, haru tambah haru. Tapi seperti katamu, aku harus keluar dari semua ini, jika dia saja bisa meninggalkan aku, mengapa aku sebodoh itu berdiam dirumah, menghindari kenangan? Ketakutan tidak untuk dinikmati, namun dihadapi.
Dia membentuk mulut sedemikian rupa seperti sedang memahami perkataanku, "Tapi kau apa? Melihat kanan kiri dan berharap bertemu dia disini bukan?"
Kau cocok membuka jasa peramal. Tapi sejujurnya aku tidak terlalu berharap. Untuk apa aku berharap sesuatu yang menyakitiku? Es gandulku menetes ke jilbab, lelaki ini melihatnya. "Apa dia juga membasuh jilbabmu saat kotor seperti ini?"
Tidak. Jawabku singkat.
"Kalau begitu, apa aku ada ruang untuk membasuh jilbabmu? Atau sekadar mengingatkan, lihat jilbabmu kotor terkena es yang kubeli?"
Ada, lagi pula, ada apa kau bertanya seperti itu? Dalam pertemanan, hal seperti itu bukankah suatu kewajaran? Kau sedikit banyak membuatku tergelitik.
"Aku takut tindakanku mengingatkan tentangnya."
Jangan khawatir, semua tindakan, entah kecil atau pun besar, entah biasa atau luar biasa, entah sederhana atau istimewa, setiap detak manusia mengingatkan aku, bahwa ada jantung yang pernah berdetak dekat denganku. Jangan sekhawatir itu, aku lebih banyak tidak peduli, daripada peduli terhadap sesuatu.
"Aku tidak ingin menyakitimu, lebih dan berlebih."
Aku terdiam, sepertinya kata-katanya terlampau serius. Iya, terimakasih. Lalu, dia tertawa, "Bagaimana, kita lanjut atau bermellow-mellow saja?"
Ayo ke miniatur barak tentara disana. Tunjukku. Lelaki itu mengangguk. "Mana yang kau tunjukku sebenarnya? Barak tentara atau tulisan Malang sejuta kopi disana?"
Apa bedanya? Mari saling mampir setelahnya.
Dia mengangguk. Menarik tanganku masuk ke dalam saku jaket hitamnya, "Nanti kau lepas tau-tau menghilang diantara orang-orang, atau kau mencari kopi sendiri di warung kopi bawah jembatan layang depan stasiun kota lama, atau hal-hal lain yang membuatku mencarimu."
"Aku tak mau serepot itu."
Tapi aku tak seanak kecil itu. Aku melepaskan tanganku dari sakunya, berjalan dengan tangan masuk kesaku jaketku. Aku adalah Ratu atas diriku sendiri. Tidak ada orang yang sepintas saja kuperbolehkan mengatur langkahku, deruku, petualang bahkan kepulanganku. Aku adalah Ratu yang membawa pedang, pasukan berkuda dibelakangnya hanyalah formalitas kerajaan, selebihnya, aku adalah Ratu yang menjadi Ratu atas dirinya sendiri.
Dia mengacak Puncak kepalaku, "Bagaimana aku bisa sebangga ini kepadamu? Wanita yang aku kenal ditebing breksi Jogja lalu saling bercerita sampai kembali ke rumahnya?"
Paceklik.
siang itu dikedai kopi Malang Tempo Dulu di berkata, "Dalam hal tidak bisa melupakan kamu tidak salah, dia tidak menjelaskan mengapa dia pergi secara sedetailnya, kamu waktu ltu tidak punya ruang untuk sekedar bicara, hatimu jelas butuh penjelasan, walaupun sedetik lagi kau akan menyanggahnya."
Aku tersenyum getir.
"Itu wajar, mengingat atau melupakan itu wajar. Jangan membuat wajah seolah-olah kamu malu. Jika itu terjadi padaku, hal yang sama akan aku lakukan."
matanya bersungguh-sungguh "Maka darinya, aku disini, membantumu keluar dari hal-hal yang mengurungmu dalam diri sendiri. Ingat, Ratu tidak tunduk kepada apa saja, bahkan atas deritanya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Kepada, [TAMAT]
Novela JuvenilDi hadapan Ranu Kumbolo gadis itu kembali menatap kabut yang mulai turun. Dibelakangnya dua sosok manusia sedang berpelukan melawan suhu dingin yang menerpa. Salah satu diantara mereka bertiga menunggunya mulai menulis. "Ta, sudahlah." Aku akan men...
![Kepada, [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/108485033-64-k393437.jpg)