kekasihku setahun silam

862 33 11
                                        

Ketika kau membaca ini entah ketika waktu apa, percalah aku sedang mengucapkan selamat sebelum kau membaca seluruh isinya.

Teruntuk kau, Nova Hanggar Mahardika, kekasihku setahun silam.

Lelaki yang mencintaiku selama tiga tahun hampir pernah lelah lalu kembali lagi. Lelaki yang tak pernah putus asa ketika aku meracau tentang kerasnya dunia sambil mmenangis. Lelaki yang terus tersenyum sambil menyembunyikan ku dipelukannya. Lelaki yang bisa dibilang segala yang aku butuhkan.

Maaf, sudah dua bulan semejak ujian sekolah, ujian nasional, dan ujian kehidupan aku tidak menulis satupun surat lagi kepadamu. Kita pun jarang bertemu, saling sibuk mengejar mimpi masing-masing. Kalau kamu mungkin saja penasaran, kabarku sungguh luar biasa baik-baik saja. Bertemu dengan mu lalu berdamai dengan alasan kepergianmu serta bersahabat dengan kalian bertiga membuat aku mempunyai watu untuk hidup dan berbahagia. Terimakasih, kau mengajarkan banyak hal.

Aku tidak begitu penasaran dengan kehidupanmu, Nowenda sering sekali mengupdate instagramnya ketika sesekali kalian keluar bersama. Aku yakin kamu baik-baik saja apalagi waktu kita bertemu di resort ranu pane tadi pagi. Kamu sedikit gendut. Pipimu nampak lebih berisi, dan saat kita menata ulang carier tadi aku tidak menemukan rokok. Padahal dia selalu ada di carier mu ketika mendaki. Aku sangat bersyukur.

Setahun yang lalu selama tiga tahun kita bersama, menghabiskan malam di pegunungan sepi sambil berdiskusi dengan Bintang, atau sekedar bakar jagung ditepi pantai Malang Selatan. Sampai sekarang memori itu sangatlah candu. Kadang disaat dunia belum mampu membuatku bahagia, memikirkan kenangan kita lebih dari cukup. Sangat cukup. Kau dan kenangan kita adalah istirahatku.

Sekarang aku bersyukur bisa masuk di kampus impian, kampus yang didambakan semua orang -termasuk kamu. Tapi sekarang kamu lebih memilih bekerja. Aku ingat janjimu, kau hanya satu tahun bekerja lantas akan kembali menempuh pendidikan. Aku sangat ingat. Maka ketika kau membaca ini, ingat lah janjimu. Kembali lah bersekolah setelah setahun.

Ranu kumbolo dingin, tapi aku masih didepan tenda bersama api unggun dan zidhane yang masih dengan sabar menungguku. Tadi dia bertanya, "Kok belum tidur,  Ta?" ketika hendak buang air kecil dan mendapatiku membuka buku sambil memulai tulisan ini. Aku menjawab seadanya. Namun Zidhane sudah tau, aku akan menulis surat kesekian untuk mu.

Jika kau baca surat terakhirku, aku keluar berdua bersama Dirga. Surat itu sengaja ku beri judul Percakapan Senja. Karena hari itu senja, dan aku menangis memikirkan kehidupanmu. Karena terakhir kita pula ada di ujung senja, dan aku kehilanganmu.

Aku baru saja menengok kebelakang, takut-takut kau didalam tenda terbangun atau apa. Tapi ternyata yang terbangun Dirga. Dia menatapku sekilas dan menaikkan alisnya seolah bertanya apa yang aku lakukan. Jawabaku hanyalah tersenyum. Belum jenak pikiranku menulis, Zidhane kembali bertanya "kenapa, Ta? Ada apa?" aku hanya menggeleng. Selain kamu tidak ada yang boleh tau mengapa aku menulis surat ini.

Hari ini aku memutuskan menulis surat ini. Mungkin surat terakhir yang akan kutulis. Atau nanti pada saatnya aku akan menulis surat khusus untukmu ketika aku bertemu lelaki impianku kelak. Sebenarnya aku sudah lama merencanakan menulis surat ini. Namun, aku ingin menulis ditempat yang hangat. Biar nanti di akhir surat bisakutulis dimana aku menulis surat ini.

Dan ya, kita di Ranu kumbolo. Besok pagi kita akan memulai perjalanan untuk ke mahameru. Romantis bukan aku menulis surat diketinggian sekian meter diatas permukaan laut ini?

Nova, kesalahanku adalah terus memikirkanmu. Bahkan ketika aku akan tertidur kau menjadi bayangannya. Aku pun tak henti menulis surat kepadamu. Ketika aku rindu, bersama randy, atau bersama Dirga sekalipun. Itu adalah kesalahan maha besar. Karena kesalahan itu aku tak mampu melupakanmu. Aku tau itu masalah waktu. Namun itu sagat menyiksa, bukan? Apalagi yang namanya rindu, datang menghujam hati.

Nova, aku menulis surat ini untuk mendamaikan hatiku. Aku menulis surat ini sebagai surat terakhir sebagai tanda perpisahanku dengan kenangan kita. Kedepannya, aku akan menata hidupku, meraih mimpi dan cita-cita lalu dengan bantuan waktu, namamu tak akan menjadi luka saat aku mendengarnya.

Nova, teriamaksih untuk kebosanan yang kau Ajarkan. Setidaknya aku bisa menasehati diri sendiri bahwa kebosanan hanyalah sementara, dan perihal kebosanan bukan hanya satu pihak yang melawa. Tapi dua sejoli melawan kebosanan. Sebenarnya setelah aku berfikir, kebosanan lahir darkenyamanan  yang menjadi-jadi. Mungkin nampak nya kita akan betah berlama-lama setahun dua puluh tahun di ranu kumbolo karena kecantikannya. Namun aku yakin, suatu hari nanti pula kita akan bosan. Kita butuh kehidupan yang telah kita tinggalkan. Aku tidak peduli jika kau akan protes. Aku toh tak mendengarnya.

Nova, mungkin surat ini tidaklah panjang karena aku sangat takut berubah pikiran ketika aku sudah memantapkan melepaskanmu dan kembali mencintai diriku.

Maka dari itu,Nova,Izinkan aku berterimakasih. Terimakasih kau selalu ada untukku. Terimakasih kau selalu berada disampingku. Terimakasih kau telah meninggalkanku. Terimakasih untuk penyesalanmu.

Kau yang pertama bagiku, tidak mungkin segampang itu aku melupakkannya. Tidak mungkin. Tidak akan. Maka kenanglah kebaikan diantara kita. Jadikanlah kenangan kita sebagai kekuatan seperti yang telah aku lakukan. Aku sangat mencintai dulu, dan kini akan kucoba tidak merasakannya. Aku ingin hidup dengan kebahagiaan, tanpa bayangan masa lalu kita.

Walau kau bayangan masa kini ku, kau masih bayangan yang terindah.

Berbahagialah dengan hidupmu agar aku tidak menyesal menolakmu untuk kembali malam itu.

Aku mencintaimu dulu. Dan mungkin sekarang. Tapi akan kucoba menghapusnya.

Nova,
Zidhane kembali merengek menyuruhku menyelesaikan surat ini cepat. Adik kecilku itu sangat tidak suka ketika aku mulai melodrama mengenangmu. Dia tidak suka ada air mata tergenang diwajahku.

Aku akan mengirimkan semua surat yang pernah kutuliskan padamu. Tidak, aku tidak mengirimkannya padamu. Akan kukirimkan surat itu lewat ombak di pantai Selatan. Zidhane sudah berjanji mengantarkan.

"Ta, sudahlah. Jangan terlalu panjang kau menulis. Kepada siapa akan dibaca? Sudahi secepatnya, atau kau akan sukar kembali melepaskannya."

Aku akan mendengarkan Zidhane malam ini. Malam sebelumnya aku terlalu egois dengan mencintaimu secintaku.

Terimakasih, sayang. Selamat malam. Ditenda sedingin itu tidurmu tampak nyaman. Maaf jika sampai sekarang rasa itu masih ada. Maaf jika kau akan mendapatkan banyak surat. Tapi aku berjanji tidak akan mengirimkannya lagi. Aku akan berdamai dengan hati.

Ranu kumbolo, 2018.


Meuthia Asora. -kekasihmu setahun silam.

Kepada, [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang