Jogja Seistimewa itu

339 26 2
                                        

Sayang, pagi ini aku bersubuh di Wonogiri. Tak perlu kau repot-repot bertanya dengan siapa aku disana, aku akan menjawab dengan yang sama seperti jawabanmu ketika aku bertanya dengan siapa kau menaiki gunung Agung di Bali; dengan sesiapa yang bahagia. Kau ingat tidak, bahwa ketika aku sudah tak memiliki sepeser alasan untuk bersyukur, kau suruh aku bangun pagi buta melihat cakrawala dan bersubuh didaerah yang berbeda.

Pagi ini aku menemukan jawaban mengapa aku disuruh guru agama, dan guru disegala disiplin ilmu untuk bersyukur. Sayang, kau masih faham betul bukan, sunrise adalah sesuatu yang kudamba? Pagi di Wonogiri ini dia malu-malu membuka selimut diantara kabut, lalu selepas ku lipat mukenah dan meninggalkan masjid, rona pipi merahnya bersemu.

Matahari pagi adalah pada siapa aku jatuh hati selain padamu.

Sayang, kau tau benar, entah terbitnya matahari atau senja adalah jeda. Namun aku dan mereka -sesiapa yang bahagia terlalu tergesa dan melanjutkan perjalanan. Aku terlalu kaku bukan ketika menceritakan indahnya pagi di Wonogiri? Benar bukan? Memang sayang, tak lama aku menikmatinya. Hanya sejenak, setelah mereka semua selesai dengan kewajibannya pada Tuhan, aku kembali menderu dalam kendaraan.

Bukannya aku lupa atas kata-katamu diatas kereta yang mengantarkan kita ke stasiun lempuyangan, aku tidak lupa. Aku masih fasih betul dengan kata katamu "Sayang, selepas subuh adalah ajang Tuhan untuk pamer atas kebesar-Nya, janganlah kau tertidur. Nikmati musikalisasi puisi matahari, kicauan burung dan berkokoknya ayam. Nikmati pagi selepas subuh. Terjagalah." aku masih fasih. Namun Yogyakarta terlalu istimewa jika hanya ditempuh satu jam dua jam.

Perjalananku terlalu panjang, lelahku dan egoku pula yang membuatku tidak terjaga, diantara musikalisasi puisi pagi dari Tuhan untuk semesta.

Sayang, kepada tidurku yang sedikit miring ke arah jendela kaca, aku sedikit membayangkan kita dan Jogja setahun silam. Betapa selepas Isya' kita susuri tugu Jogja hingga malioboro, Menapaki dengan kaki-kaki kecil kita hanya untuk sekedar  pembuktian kata-kata "Setiap sisi Jogja itu romantis", dan kau berjalan setengah menghardik "Iya, setiap sisi jogja itu Romantis, tapi tiap sudut nya tragis." Aku ingat malam itu dimalioboro kau sedikit marah dan banyak berjalan cepat, ketika banyak angkringan membuka menu makanan, tapi disudut-sudut jalan masih banyak pengemis yang berteriak sesenggukan;  dia kelaparan.

Ya benar sayang, Aku akan ke Jogja, namun kali ini sendiri. Tanpamu yang selalu marah-marah kepada para pedagang angkringan yang tak mau sekadar membagi setusuk pentol bakar kepada pengemis disebrang jalan.

Kali ini aku benar-benar sendiri, bersama orang-orang yang menganggap dirinya pendatang dan tamu untuk Jogja yang terlalu angkuh untuk sekedar berbaur, berjalan atau sekadar berkeliling diantara Masyarakat.

Aku juga benar-benar sendiri, diantara orang -orang yang selalu peduli akan kebahagiaan dan kenyamanannya tanpa dia sadar, bahwa memberikan kebahagiaan adalah bentuk hakiki dari kebahagiaan.

Entah apa yang baru kulewatkan, satu lengkungan ban bus berhasil membuatku terbangun sedikit terbentur kaca jendela. Disebrang jalan, dua orang tergambar dengan senyum merakyat, memakai dasi dan berjas menuliskan "Selamat datang di Jogja, Jogja tetap istimewa" -Iklan kepolitikan. Walaupun kau selalu sinis pada mereka-mereka yang membawa kemurnian Jogja dalam baliho kepolitikan, namun ini sedikit benar. Jikapun ketika Indonesia bergoyang dan tak ada embel-embel Daerah istimewa Yogyakatta, Jogja Tetaplah Jogja, selalu istimewa.

Seperti halnya Jogja; Kau adalah Jogja. Kau adalah sama, seistimewa Jogja.

Hm, Sayang, Selamat pagi, Kau dapat salam dari matahari pagi Jogja.

Kepada, [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang