Bagaimana kita bisa bertemu?

134 20 2
                                        

Hari ini aku berada di kedai kopi didaerah padat Malang. Kedai kopi ini banyak dikunjungi mahasiswa lusuh dengan rambut gondrong dengan jaket khas pecinta alam. Aku kenal salah satu dari mereka, namanya kak Zul, iya kawan satu divisi dikelompok pengajar bawah jembatan. Yang dulu kau buat dia sungkan karena kau tiba-tiba datang menjemputku padahal aku akan pergi ke kantor pariwisata bersamanya.

"Coba ceritakan bagaimana kalian bisa bertemu." pinta Randy. Sejak hari itu di panderman, kami sering keluar untuk meminum kopi bersama atau sekedar ke perpustakaan mencari novel, atau menemaniku mencari bakso enak.

Baik, tapi kau tau aku adalah pencerita yang hebat. Mungkin, kita bisa disini dua sampai tiga jam lagi. Apakah kamu sanggup?

"Ranu Pane. Katamu kau suka desa kecil itu, aku waktu itu bilang 'baiklah, aku akan jadi Ranu Pane agar kesedihan mu bisa tertampung dalam cekung ku' maka kini aku menjadinya. Seperti katamu Pane berarti telinga, maka aku adalah telinga. Sesuatu yang kau suka."

Kau selalu pintar berkata-kata. Belajar dari siapa?

"Dari ahlinya," katanya sambil mengedipkan sebelah mata, "Ngomong-ngomong berjanjilah kepadaku untuk ke Ranu pane bahkan semeru setelah semua petarungan kelas ini selesai."

Ada yang mengajakku ke Rinjani, selepas ujian. Kau lupa?

"Siapa?" aku hanya mengedikkan bahu.

Dulu, aku ingin sekali masuk sekolah favorite untuk skala sekolah menengah pertama. Namun nilaiku tidak cukup. Aku memtusukan untuk tidak bersekolah. Jika kau tanya bagaimana bisa, itu karena gengsi semata. Tidak lebih.

Tapi, orang tua ku terus sabar membujuk. Aku tidak ikut masa orientasi siswa, atau bahkan minggu pertama pelajaran. Aku memulai pelajaran di minggu kedua. Kau tau, ketika aku berontak, aku selalu menjadi apa yang aku mau. Demi apa, aku mengecat kukuku warna ungu, menghiasnya dengan manik. Lalu, aku masuk sekolah dengan pita dimana-mana. Memakai rambut palsu bewarna ungu bekas teater. Semua mata seperti memandangku. Jika aku mengingat nya itu sungguh memalukan.

Aku memakai rok panjang memang, dengan kemeja pendek yang aku gulung sesukanya. Memakai gelang, kalung, kaos kaki warna-warni, anting. Aku hanya ingin menunjukkan perlawanan. Bahwa 'silahkan keluarkan aku, akupun tak sudi sekolah sepinggiran ini' seperti itu.

"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana wajahmu saat itu. Berlenggak bak model, berdandan bak tidak ada yang lebih cantik daripadamu." Randy tertawa. "Bagaimana bisa?"

Entahlah. Aku dalam posisi harus melawan entah apa dengan apa. Aku hanya berfikir bagaimana cara dibenci lantas dikeluarkan dari sekolah lalu tidak bersekolah. Sesimpel menjadi karyawan toko kelontong cita-citaku.

Lalu, semua orang menatapku aneh. Tidak semua. Hanya beberapa. Hingga ada yang tertawa lalu menjadi temanku hingga sekarang, namanya Dirga. Laki-laki tangan kanan bos geng sekolah. Dia bertanya bagaimana bisa aku bertingkah seperti itu. Karena dia satu-satunya orang yang menghargai apa yang aku perjuangkan, lalu aku bercerita. Lantas, dia melepas wigku, kalung, gelang dan anting. Dia berkata bahwa melawan seperti ini hanya membuat dunia sekolahku makin buruk.

Guru-guru tidak akan melepasku. Dia akan menghajarku sampai aku sendiri yang memutuskan keluar. Padahal, cita-citaku bukan seperti itu. Aku ingin guru-guru muak dan menyuruhku keluar. Jadi aku tidak perlu repot-repot membuat susah ormasuk dua dengan mengurus surat keluar.

Pikiran ku picik sekali, bukan?

Akhirnya, Dirga membawaku kebanyak pengalaman. Mulai dari membolos ditengah jam pelajaran. Melompati pagar sekolah lalu kembali di jam akhir untuk menghapus daftar siswa tidak masuk di buku jurnal. Aku benar-benar mempunyai banyak teman. Hampir seluruhnya adalah anak putus sekolah, anak jalanan yang lebih dikenal dengan punk. Aku tidak peduli dengan mereka dianggap seperti apa. Tapi, mereka selalu menghargaiku seperti teman. Mereka adalah tempat aku berlari dari mimpi, menghinggapkan kaki di truk bak terbuka, lalu pergi ke Bendungan hanya untuk bermain air sekaligus mencari mati. Kalau pikiran mu adalah aku pergi dengan berbaju smp, maka kau benar.

Dirga dan aku tumbuh menjadi dua orang yang menantang. Guru-guru dan bimbingan konseling menjadi makanan kita. Kalau boleh jujur, walaupun aku masuk disekolah pinggiran, nilaiku berada diurutan paling atas. Hari itu ada pergantian walikelas, beliau bernama Pak Nur. Seperti namanya, dia adalah cahaya bagi kehidupanku.

Aku dan Dirga diajak untuk berbicara. Pak Nur orangnya sangat baik, menghukum kami dengan cara yang seru. Sampai, akhirnya beliau bertanya apa yang kami suka. Kau tau sendiri aku suka berteater, tapi aku lebih suka puisi. Dan Dirga, dia adalah pemain gitar handal, suaranya pun lebih baik jika dibandingkan dengan aku. Mulai saat itu, Pak Nur memperkenalkanku dengan dunia musikalisasi puisi, dunia dimana Dirga dan aku mempunyai ruang berkarya dibandingkan dijalanan menunggu pickup bak terbuka.

Dari situ aku dan Dirga sering masuk sekolah dengan alasan latihan musikalisasi puisi. Kami diajak manggung kemana-mana, mulai acara MGMP, acara sekolah, bahkan upacara 17 agustus di Balai kota.

Pak Nur mempunyai cara sendiri untuk membuat kami betah dengan sekolah. Dari situ aku lebih banyak menghabiskan waktu disekolah, daripada bermain bersama teman-teman Dirga. Pak Nur tidak meralang aku untuk menemui mereka, bahkan beliau membuatkan kami puisi untuk anak jalanan, agar ketika kami bertemu dengan mereka, aku dan Dirga dapat berpuisi sebentar.

Nah, waktu itu, aku membuat konser kecil kecilan atas musikalisasi kami dipinggir jalan. Banyak yang memberikan kami receh sambil lewat, ada pula yang mendengarkan sampai selesai lalu menyalamiku dengan uang sepuluh ribuan. Hari itu uang kami banyak sekali, hingga Dirga dan kawanannya memutuskan untuk membeli rokok. Dari dulu, walaupun mereka merokok aku tidak pernah sekalipun ikut mencobanya. Aku hanya ikut menghirup asapnya. lalu, hari itu kami kembali duduk di pos satpam salah satu perumahan di dekat sekolah kami. Disana aku bertemu dengan lelaki itu pertama kali.

Waktu itu, aku dan mereka tertawa, menertawakan apa-apa. Sampai akhirnya, temanku menawari sebatang rokok. Kau tau betapa labilnya aku hari itu, dengan euforia, aku tiba-tiba menerima tawarannya, menyalakan api. Dibalik itu, kawan-kawanku berteriak-teriak, "Sudahlah, hidup apa tanpa rokok?" , "Benar, kau akan merasakan bagaimana rasanya surga dunia" dan lain sebagainya.Lalu tiba-tiba, dia yang sedari tadi melihatku dari jauh tiba tiba menarik tanganku dan mencengkram pergelanganku.

Matanya menatapku tajam-tajam. Tangannya yang mencengkram tanganku bergerak membantingnya. Rokokku jatuh. "Apa!" Ujarnya saat semua mata tertuju padanya. Dia menatapku tajam, cengkraman tangannya masih kuat, lebih menguat. Dirga marah ketika dia melihat tanganku menggeliat, dibenturnya dada laki-laki itu. Dan dia, menarikku dibelakang punggungnya "Boleh saja kalian berteman, tapi urusi hidup masing-masing, jangan menyuruh orang lain berbuat yang tidak pernah dia pikirkan." Dirga hendak melawannya, tapi dia menangkap kodeku agar tidak melakukan apa-apa.

Lelaki itu menarikku menjauhi kerumunan. Melepaskan tanganku tepat di depan sepeda motor matic keluaran terbaru, "Maaf, aku mencampuri urusanmu. Lagipula, jangan rusak tubuhmu. Sayang." herannya, dia tiba-tiba mengeluarkan rokok kretek dan menyalakan. "Aku merokok karena ingin membunuh diri sendiri, dan tak pernah sekalipun aku mengajak orang lain untuk mati bersama, jadi sekarang kamu pergi jauh dari sini. Atau," dia menjeda "Kembali kesekolah."

Kau tau, Ran, aku benar-benar bisu. Aku hanya mengangguk -entah malu atau apa, lalu melambai keteman-teman dan pergi kesekolah. Hebatnya aku tidak dihukum, karena katanya, ini adalah kemajuanku, kembali kesekolah ketika adzan berkumandang.

"Begitu? Kesan pertama yang tidak kau lupakan pasti. Aku tau benar mengapa dia berharga untukmu. Bahkan Dirga." Aku sedikit terkejut, "Dimana Dirga sekarang? Aku tidak pernah melihat kau bersamanya."

Kepada, [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang