Lama tidaknya sebuah luka sembuh bergantung pada dua pilihan, kamu memilih melupakan atau tetap tinggal dalam ingatan.
***
Bel sekolah berbunyi nyaring menandakan saatnya pulang. Gue meraih handphone dari dalam saku dan menelpon Gavin.
"Hah? Lo gak bisa nganterin gue pulang lagi?" Tanya gue via telepon.
"Iye, maap. Enyak kite mau ke rumah temennya, dia minta gue yang ngenterin, "
Gue mendengus sebal, "Kan ada Mang Dadang, kenapa mesti lo sih? Terus gue pulang sama siapa?"
"Sama si Rafa aja sih, susah amat, " Titah Gavin seenaknya.
Gue memutus sambungan secara sepihak. Gue berjalan melewati koridor yang cukup ramai, langkah kaki gue berhenti saat sebuah suara memanggil nama gue, "Hanin!"
Sial!
Gue nengok ke belakang dan membuang nafas kasar. Bener dugaan gue, ini curut satu masih ngintilin gue terus. "Ngapain sih lo manggil-manggil? Ngefans heh?"
Pemuda itu tersenyum. "Bukan ngefans, gue kan calon tunangan lo, "
Gue berjengit dan bergidik, "Ogah banget gue tunangan sama lo, jangan ngimpi! Gue gak akan ngebiarin acara sialan itu terjadi, "
Gue beranjak pergi menuju gerbang, gue memaku saat menangkap sosok Daren di parkiran yang tengah memeluk seseorang. Jantung gue mencelos, entah kenapa ada sesuatu yang nusuk-nusuk hati gue. Cewek itu memeluk Daren erat, dan ngeliat hal itu ngebuat air mata gue jatuh. Rasa sesak itu memenuhi dada gue, gue bener-bener kecewa.
Rafa menghampiri gue dengan tawa mengejek. "Makanya jangan berharap sama badboy. Lo sih bodoh banget pake mau segala sama si Daren, "
Mendengar perkataan Rafa sukses membuat air mata gue kembali melolos. Bener kata Rafa, seharusnya gue gak perlu berharap sama sosok badboy kayak Daren. Dan gue ngerasa apa yang diomongin Daniel semalem emang bener, gue cuma mainan Daren.
Gue beranjak pergi dalam keadaan menangis. Gue gak peduli sama semua tatapan yang tertuju ke gue. Rafa masih terus mengejar gue, berusaha untuk menenangkan gue.
"PERGI!"
Teriak gue histeris. Rafa masih mencoba untuk menenangkan gue.
"Gue bilang pergi ya pergi! Gue muak sama kalian semua!"
Gue memekik keras sampai-sampai ngebuat Rafa tersentak. "Lo emang cewek gak tau diuntung! Udah bagus gue baikin lo, gak usah terlalu jual mahal jadi cewek. Muak tau gak, "
Rafa pergi ninggalin gue. Air mata gue semakin bercucuran. Gue berjalan entah kemana, sampai akhirnya gue sampai di taman kota dan duduk di salah satu bangku taman.
"Gue...terlalu jual mahal?" Tanya gue pada diri sendiri. Air mata gue melolos untuk kesekian kalinya. Gue menangkup wajah gue dan menangis terisak-isak.
"Hanin, "
Sebuah tangan menyentuh pundak gue. Gue terkejut saat ngeliat siapa yang ada disamping gue. "Fa-Fahqi? Ngapain lo disini?"
"Jangan nangis, " Fahqi mengusap lembut air mata yang membasahi pipi gue, "Jangan dengerin omongan mereka, "
Gue terhenyak saat Fahqi menarik gue ke pelukannya. Dia mengelus puncak kepala gue dan gue semakin terkejut atas sikap Fahqi yang berubah tiba-tiba, "Gue sayang lo, " Desis Fahqi.
Gue mengurai pelukan, "Apa?"
"Eh enggak, " Fahqi tergagap, "Gue anterin lo pulang ya?"
"Iya, "
KAMU SEDANG MEMBACA
Three Bad Boys
Teen Fiction(BELUM DI REVISI, MAAF JIKA MASIH BANYAK KESALAHAN) Mungkin cerita ini gak sebagus Dear Nathan, gak sekeren My Ice Girl, gak semenarik Mariposa, gak semenakjubkan MeloDylan, gak se-amazing SIN, gak sebaik Darka, gak se-wow Artha, dan gak se-booming...
