Gadis itu memukul-mukul bahu seorang pemuda yang telah berhasil membuat jantungnya hampir copot. Pemuda itu hanya meresponnya dengan tawa geli karena pukulan gadis itu tak memberi efek rasa sakit sedikitpun pada tubuhnya.
"Gue punya pacar kok lebay banget sih?" Daren menepikan motornya di pinggir jalan, "Jangan marah-marah, entar mukanya keriputan lho, " Goda Daren sembari tertawa geli.
"Bangsat! Terus kalo gue keriputan kenapa? Lo gak mau jadi pacar gue heh?" Tanya Hanin dengan mata mendelik.
Daren mencolek dagu Hanin dengan jahil, "Cieelah, Bunda marah beneran. Jangan marah dong, Bun. Ayah jadinya gak tenang ngeliat bunda kayak gini, "
Hanin berjengit, "Lo waras gak sih? Jijik gue dengernya,"
Daren turun dari motornya. Ia memperhatikan gadisnya yang masih duduk di motornya dengan wajah ditekuk. "Cewek emang manja kayak gini ya? Ya kali digodain dikit langsung tancap gas, " Ujar Daren seraya menatap gadis itu.
"Bukan manja, lo seharusnya peka dong!"
"Peka untuk apa?"
"Ya, peka!"
Daren mengusap wajahnya gusar, "Lo mau gue ngapain biar gak ngambek lagi?"
"Peka aja sih, "
"Peka, peka, peka, " Daren mengulang-ulang kata tersebut, "What is the peka?" Daren menaikan sebelah alisnya.
"You know what your girls want, " Hanin melipat tangannya di dada.
Daren berpikir keras. Bagaimana caranya ia mengembalikan mood gadisnya itu? Ia berusaha mengingat taktik untuk meluluhkan perasaan perempuan yang pernah ditontonnya di Youtube dan tentu saja dari playboy gadungan SMA Merpati, Daniel.
Sebuah ide muncul di kepalanya. Pemuda itu segera menaiki motornya kembali dan pergi ke suatu tempat.
"Mau kemana?" Tanya gadis di belakangnya.
"Ke tempat perdagangan manusia, " Jawab Daren asal.
Gadis itu membelalakan matanya, "HEH LO--" Gadis itu baru saja ingin mengeluarkan lava panas dari mulutnya, namun Daren segera memotong ucapan gadis itu.
"Enggak bawel, liat aja nanti. " Sela Daren.
Kini mereka berada di sebuah taman bermain anak-anak. Hanin mengernyit bingung, kenapa Daren membawanya ke tempat ini?
Daren memandang sekitar, matanya menangkap sosok seorang pria dewasa yang tengah membawa gitar. Daren meninggalkan Hanin dan bergegas menghampiri pria dewasa itu. Tak lama, pemuda itu kembali dan menarik Hanin ke tengah-tengah kerumunan anak-anak yang sedang asyik bermain.
"Adek-adek! Sini-sini, " Daren menyuruh anak-anak itu agar mendekat. "Kakak mau nyanyi, dengerin ya. Ini buat teteh yang itu, " Daren menunjuk seorang gadis yang berdiri tak jauh darinya.
Mereka semua melihat kearah yang ditunjukkan Daren. Mereka semua berteriak heboh dan bertepuk tangan. "Kakak mau nyanyi lagu Pelangi ya?" Tanya seorang anak laki-laki yang berusia sekitar empat tahun.
"Ish, bukan Farel. Masa mau nyanyi itu? Mereka kan lagi pacaran, " Tukas seorang gadis kecil berumur enam tahun.
"Wah gilaak! Anak kecil aja udah tau yang namanya pacaran. " Pekik Daren tak kalah heboh seraya melirik gadisnya. "Anjir! Gue aja kalah sama mereka, "
Hanin melotot tajam. Gadis itu bergegas menghampiri Daren yang kini duduk di sebuah batu seraya menenteng gitarnya.
"Jangan bilang yang kasar-kasar di depan anak-anak!" Kata Hanin, "Bisa-bisa mereka sama kayak lo..." Hanin sengaja menggantung kalimatnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Three Bad Boys
Dla nastolatków(BELUM DI REVISI, MAAF JIKA MASIH BANYAK KESALAHAN) Mungkin cerita ini gak sebagus Dear Nathan, gak sekeren My Ice Girl, gak semenarik Mariposa, gak semenakjubkan MeloDylan, gak se-amazing SIN, gak sebaik Darka, gak se-wow Artha, dan gak se-booming...
