Teman, mungkin sekarang aku pake point of view aku aja ya? Biar kalian gak pusing dan lebih ngerti alur ceritanya 😂
Kalo gitu langsung aja ya.. Selamat membaca!
***
Hanin merebahkan diri di kasur. Wajahnya bersemu merah tatkala mengingat kejadian semalam. Dia bahkan tak menyangka bahwa Daren bisa semanis itu padanya. Semalam, dunia berputar seolah seperti mimpi tidurnya yang panjang dan menyenangkan.
"Jadi sekarang gue pacarnya Daren?" Berulang kali Hanin bertanya pada dirinya sendiri, "Berarti gue gak digantung lagi yeay!" Teriaknya histeris.
Gavin yang berada dibalik pintu kamar Hanin hanya menghela nafas sesaat. Ia merasa bersalah karena telah memaksakan keinginannya pada Hanin. Namun apa daya, semuanya telah terjadi dan tak akan bisa diubah.
"Lo gak akan bisa lama-lama pacaran sama Daren, " Gavin masuk ke kamar Hanin tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Hanin berjengit kaget, "Ih lo masuk kok kagak ngetuk pintu dulu, " Ucap Hanin kesal, "Maksud lo apa heh?"
"Kalian cuma punya waktu beberapa hari sebelum lo tunangan sama Rafa, "
Hanin semakin memperdalam kerutan di dahinya, "Maksud lo?"
"Semalem gue udah ngomong sama pacar lo itu. Dan dia udah menyanggupi semua konsekuensi yang bakal dia terima kalau kalian pacaran. "
"Konsekuensi? Pertunangan? Maksudnya apa sih?"
"Sebentar lagi lo tunangan sama Rafa, Hanin. " Jawab Gavin lirih. Matanya beradu dengan mata coklat milik adiknya yang kini mulai berkaca-kaca.
"Tu-tunangan?" Tanya Hanin tak percaya.
Gavin bangkit dan berlalu tanpa menjawab pertanyaan adiknya. Namun sebelum ia menutup pintu ia mengatakan esuatu, "Nikmatin hari-hari lo sama Daren sebelum semuanya berakhir, "
***
Daren dan Daniel berjalan di koridor dengan langkah santai. Padahal bel masuk sudah berbunyi sejak tiga puluh menit yang lalu, namun kedua insan ini malah berleha-leha dengan lirikan nakal pada setiap siswi yang mereka lewati.
"Thanks, Bro. Lo udah bantuin gue semalem, " Ucap Daren seraya menepuk pundak Daniel dengan jantan.
"Halah, gue kan cuma bantuin lo naruh surat sama bungan doang. Semuanya kan lo yang handle, " Balas Daniel sembari tertawa, "Oh ya, gue baru tau kalo lo se-lebay itu bikin puisi, "
"Anying, lo ngejek gue?" Daren melotot tak terima.
Daniel berjengit dan menatap Daren was-was. "Weleh, sabar dong, bwank. Gue kan cuma becanda, "
"Becandaan lo kelewatan, goblok!" Daren menjitak Daniel seraya tertawa, "Tapi lo bener juga, kok gue yang ganteng gini bisa selebay itu ya?"
Daniel geleng-geleng kepala melihat tingkah temannya itu, "Lah itu lo baru nyadar? Lo tadi kerasukan setan toilet ya?"
"Bangsat! Bukan kerasukan setan, tapi kerasukan virus gombalan dari lo yang bikin mual setengah mati, " Tukas Daren.
KAMU SEDANG MEMBACA
Three Bad Boys
Fiksi Remaja(BELUM DI REVISI, MAAF JIKA MASIH BANYAK KESALAHAN) Mungkin cerita ini gak sebagus Dear Nathan, gak sekeren My Ice Girl, gak semenarik Mariposa, gak semenakjubkan MeloDylan, gak se-amazing SIN, gak sebaik Darka, gak se-wow Artha, dan gak se-booming...
