Author POV
Dena menjerit ketika tangannya tersengat listrik saat hendak menyalakan proyektor. Kelas seketika heboh karena proyektor kelas yang susah menyala.
"Hati-hati tersetrum, " Pak Budiman menurunkan kacamatanya.
Dena yang masih mengibas-ngibaskan tangannya merasa kesal, "Telat pak, telat! Saya kan udah terlanjur tersengat listrik, "
Pak Budiman menatap Dena tajam, "Kamu berani meninggikan suara di depan saya? Saya kurangi nilai kamu, "
"Loh, jangan dong, Pak. Ah elah Bapak baperan amat, saya kan cuma bercanda, " Dena terlihat panik.
"Karena kalian semua tidak bisa menyalakan proyektor, maka dari itu nilai kalian semua merah!" Teriak Pak Budiman keras-keras.
"Pak! Bukan nilai kami yang merah, tapi tinta pulpen bapak yang merah!" Sahut Erick.
Pak Budiman melirik pulpen merahnya, "Oh iya, ternyata kamu tak sebodoh yang saya kira, Rick. "
"Sialan!" Umpat Erick pelan, "Saya itu pintar, Pak! Cuma Bapaknya aja yang kurang peka sama kecerdasan tersembunyi saya, "
Tawa seisi kelas pecah. "Heh, nyet. Lu kira kecerdasan itu perasaan? Pake acara peka segala, " Timpal Radith, biang kerok IPA 7.
"Ya cowok emang seharusnya peka!"
Semua mata tertuju pada seorang gadis dari bangku depan, Elis. Gadis itu mengerucutkan bibirnya. "Wah curhat dia, gara-gara di PHP-in Daniel, Ratu Elisabuk kita ini gegana, alias gelisah galau merana!" Teriak Erick dari belakang.
Seisi kelas bersorak heboh. Memang ada gosip yang menyatakan bahwa Elis di PHP-kan oleh Daniel, si playboy kelas teri SMA Merpati.
Pak Budiman berusaha untuk membuat kelas kondusif lagi, "Sudah-sudah! Dena, duduk kamu. " Titah Pak Budiman. "Kalian para pemuda, ayo nyalakan proyektor jika kalian tidak ingin punya nilai nol!" Perintahnya.
Semua siswa laki-laki tak ada yang maju. Para siswi mencibir mereka. Sampai akhirnya, Fahqi yang sejak tadi hanya diam melangkahkan kakinya ke depan dan menyalakan proyektor dengan mudahnya.
"Wah si Babang Fahqi bisa jadi Superman-nya kelas kita nih!" Kata Vania heboh.
Kelas kembali ribut dan membuat Pak Budiman pusing tujuh keliling. Hanin hanya menggeleng sesaat melihat tingkah teman-temannya yang sinting akar tiga. Hanin kembali melanjutkan aktivitasnya, membaca novel sambil diam-diam mendengarkan musik lewat earphone.
Fahqi kembali duduk ditempatnya, pemuda itu menatap Hanin dari belakang. Entah kenapa, ada rasa sakit setiap kali ia membayangkan sosok Hanin sedang bersama Daren.
"DIAM!"
Teriakan Pak Budiman membuat kelas hening. "Buka buku paket kalian halaman seratus delapan!" Titahnya. "Kerjakan soal-soalnya dan presentasikan di depan!"
Hanin mengerjakan tugasnya dengan tekun. Gadis itu terkejut saat tiba-tiba Fahqi duduk di sebelahnya seraya merebut buku catatan Hanin dengan paksa. Tetapi, Rara dan juga Vania yang sedang sibuk menyontek, merasa tidak terima. Mereka merebut buku Hanin dari tangan Fahqi.
"Heh, lo kalo mau nyontek jangan serakah gitu dong! Harus berbagi sama orang, " Kata Rara seraya mendelik sebal.
"Lo kira sedekah apa?" Fahqi kembali merebut buku Hanin dengan kasar.
"HEH OTAN-OTAN! ITU BUKU GUE BISA RUSAK KALO GINI CARANYA!"
Hanin yang tak tega melihat bukunya diperebutkan lantas menggebrak meja sampai-sampai membuat Pak Budiman yang sedang ketiduran terlonjak kaget. "Hanin! Apa-apaan kamu?! "
KAMU SEDANG MEMBACA
Three Bad Boys
Teen Fiction(BELUM DI REVISI, MAAF JIKA MASIH BANYAK KESALAHAN) Mungkin cerita ini gak sebagus Dear Nathan, gak sekeren My Ice Girl, gak semenarik Mariposa, gak semenakjubkan MeloDylan, gak se-amazing SIN, gak sebaik Darka, gak se-wow Artha, dan gak se-booming...
