BUNYI WEKER yang memekakan telinga berhasil membangunkan seorang gadis yang tengah terlelap. Hanin mengulet, tangannya mencoba menggapai weker yang berada diatas nakas. Tidak ada matahari pagi itu karena tertutup awan kelabu yang menurunkan rintik-rintik hujan.
Seseorang membuka pintu kamar dengan pelan. Hanin mendengus saat mengetahui siapa yang datang.
"Pasti lo mau marah-marah kayak orang gila, iya 'kan? Udah sana hus-hus, lagian gue udah bangun ini. " Cecarnya.
Gavin mendengus. "Sialan lo! Gue kesini mau ngasih ini, suudzon mulu lo sama abang sendiri. " Gavin menyerahkan sebuah boneka Doraemon berukuran besar yang langsung disambut tatapan heran oleh gadis itu.
"Kok lo jadi baik gini? Sejak kapan lo mau beliin gue boneka? Apa jangan-jangan tadinya lo mau ngasih ke kak Reina tapi dianya gak mau? Ish, lu ngasih gue barang bekas dong. "
Gavin yang merasa jengkel sontak menjitak kepala adiknya itu. "Lama-lama otak lu harus gue cuci dulu deh biar gak negative thinking mulu. Kagak lah, ya kali gue ngabisin uang cuma buat barang-barang gak penting, pemborosan itu. "
"Halah, lu nya aja yang pelit bego! Banyak alesan, " Hanin mencibir, "Terus ini dari siapa?"
Gavin mengedikkan bahu tak acuh. "Dari tukang asin di pasar kali. " Pemuda itu berdiri, "Gue nemuin itu di teras depan. "
"Gue kira dari tukang cabe, "
"Bisa jadi, cabe nya kan elo. "
Hanin menggeram dan melempar guling kearah Gavin, "Bangsat lo!" Umpatnya.
Gavin terkikik dan berlari keluar, "Mandi woy! Badan lo bau jigong. "
"Anying, dasar sialan!" Umpat Hanin kesal.
Gadis itu beranjak menuju kamar mandi sambil bersiulan. Beberapa pertanyaan muncul di benaknya tentang boneka itu, senyum samar menghiasi wajah gadis itu ketika bayangan Daren melintas dibenaknya. Namun cepat-cepat gadis itu menepisnya. Tidak, tidak mungkin.
Hanin menghampiri kedua temannya yang berdiri di depan pintu kelas. Sebelah alisnya terangkat saat menyadari kedua temannya itu menatap lurus ke depan, lebih tepatnya lapangan sekolah, mereka tersenyum girang.
"Are you crazy? Kalian kenapa senyum-senyum gaje kek orang gila? " Tanya Hanin.
Rara dan Vania menoleh. "Sianying, aeng gak gila boloho, " Tukas Vania sebal. "Liat tuh, bentar lagi acara perpisahan dan yups! Gebetan aeng bakal jadi pangeran sehari, anjir!" Pekik Vania heboh.
"Hooh, Nin. Perpisahan tinggal dua hari lagi, siap-siap galau ye gegara abang Daren bakalan pergi, " Timpal Rara dengan raut sedih yang dibuat-buat.
Hanin diam tak berkutik. Matanya mengikuti arah pandangan Vania, lapangan disulap menjadi sebuah tempat yang begitu indah dengan berbagai hiasan dan sebuah panggung berukuran cukup besar.
"Eh ya, gue denger-denger si Elis sama si Daniel jadian yak?" Sambung Rara.
"Manakuteng-teng, gak tau dede. " Vania mengangkat bahu tak peduli, "Tanyain lah sama Babang Fahqi, dia kan sohibnya. "
Tepat setelah Vania berucap, Fahqi datang, pemuda itu langsung diserang beribu pertanyaan dari Rara.
"Eh onyet, si Daniel sama si Elis jadian kah? Kapan mereka jadian? Kok bisa? Padahal waktu itu kan gosipnya si Elis di php-in, lah tetiba ada gosip mereka jadian. Bener gak tuh?"
Sebelah alis Fahqi terangkat, "Terus?"
"Jawab, peak!"
"Ah ya... " Fahqi menggantung kalimatnya dan beralih menatap Hanin yang berdiri disamping Rara. "Gue gak tau. "
KAMU SEDANG MEMBACA
Three Bad Boys
Dla nastolatków(BELUM DI REVISI, MAAF JIKA MASIH BANYAK KESALAHAN) Mungkin cerita ini gak sebagus Dear Nathan, gak sekeren My Ice Girl, gak semenarik Mariposa, gak semenakjubkan MeloDylan, gak se-amazing SIN, gak sebaik Darka, gak se-wow Artha, dan gak se-booming...
