Seorang pemuda berjalan gontai memasuki sebuah kamar yang penuh dengan kenangan manis. Beberapa bingkai foto menghiasi dinding kamar berwarna pinky itu. Daren meraih sebuah bingkai foto yang merupakan foto keluarga Tryantoro. Disana terlihat sosok ibu dan adiknya yang sedang tersenyum bahagia, begitu pula sosok Daren kecil yang sedang dipangku ayahnya. Dulu, mereka terlihat harmonis dan bahagia. Tetapi tidak dengan sekarang ini.
Daren duduk di sebuah single sofa yang menghadap kearah jendela sambil memeluk foto itu dengan tatapan kosong ke depan. Bayangan manis tentang keluarganya terputar jelas di benaknya.
Saat itu, Ririn kecil tengah menangis di pangkuan ibunya karena Daren yang menjahilinya. Dian, Ibunya Daren, mengelus puncak kepala Ririn dengan sayang, "Jangan menangis, sayang. Sudah ya? Kakakmu itu hanya bercanda. "
"Huh, dasar cengeng! Bisanya hanya mengadu, " Cibir Daren. Gadis kecil itu mengerucutkan bibirnya dan kembali menangis. "Tuh kan, dia mengejekku lagi. " Tuturnya sembari sesenggukan.
Pintu kamar terbuka dan nampaklah Hendra yang saat itu masih terlihat muda. Ririn lantas berlari kearah ayahnya dan mengadu, "Ayah, dia mengejekku terus. Bisakah ayah memarahinya?" Pinta Ririn dengan puppy eyes. Hendra beralih menatap istrinya yang tersenyum. "Baiklah, aku akan memarahinya untukmu. " Hendra memasang tampang menyeramkan dan mendekati Daren sembari memangku Ririn. "Kakak! Jangan mengejek adikmu terus! Kasihan dia, selalu menangis gara-gara ulahmu. "
Daren berlarian kesana-kemari ketika Hendra mencoba untuk menangkapnya. Daren menjerit saat ayahnya ternyata berhasil menangkapnya. Mereka semua tertawa kemudian sambil membicarakan hal-hal yang lucu.
Daren memejamkan matanya untuk beberapa saat. Mengenang hal manis itu membuat air matanya berlomba-lomba untuk jatuh, namun Daren mencoba untuk menahannya, "Don't cry please... " Namun sia-sia saja usahanya, karena pada akhirnya pemuda itu menangis juga.
Jangan mengatakan Daren seperti banci. Sekuat apapun seseorang, pasti memiliki sisi rapuh juga. Kalian hanya tak akan mengerti bagaimana sakitnya di posisi Daren saat ini karena kalian tidak merasakannya. Pemuda itu mencengkram ujung sofa dengan kuat, rasanya ia ingin berteriak sekencang mungkin namun tidak bisa.
Bayangan kelam itu kembali merasuki pikirannya. Bedanya, kali ini ia tak ingin menghentikannya. Ia ingin melepaskan semua yang ia rasa sebelum pergi. Daren melihat ruangan di sekitarnya berubah menjadi sebuah jalanan kota yang ramai oleh kendaraan. Peristiwa yang terjadi dua tahun yang lalu.
"Kak Dar, sebentar lagi kan Ririn masuk SMP. Kalau suatu saat nanti Ririn punya pacar, Kak Dar bakal restuin hubungan Ririn sama dia gak?" Tanya seorang gadis kecil yang duduk di samping Daren.
Daren mengernyit, " Pacar? Kamu masih kecil, belum boleh pacaran dulu, " Ujar Daren tanpa menatap Ririn di sampingnya.
Ririn mengerucutkan bibir mungilnya, "Tapi kalo cowoknya ganteng kan sayang kalo dibuang, "
Daren terkekeh mendengar ocehan adik kesayangannya itu. "Yaudah jangan di buang, simpen aja dulu di dalem lemari. Nanti kalo udah waktunya, baru kamu ambil dia dari lemari, "
"Ih kak, Daren! Emangnya dia baju apa? Masa di masukkin lemari, " Daren yang gemas melihat tingkah laku adiknya itu, mencubit pipi chubby Ririn.
Daren sibuk mencubit pipi Ririn sampai-sampai tak memperhatikan jalanan di depan. Ririn menjerit histeris ketika sebuah truk dari arah berlawanan datang, "Kak Daren, awas!" Pekik gadis itu ketakutan.
Semuanya terlambat. Truk besar itu menabrak mobil yang ditumpangi Daren dan Ririn. Daren sempat tak sadarkan diri sampai ia terbangun dan melihat orang-orang berbondong-bondong untuk menolongnya. Daren menoleh kearah Ririn yang berada di sampingnya, dilihatnya gadis itu berlumuran darah dengan mata tertutup.
KAMU SEDANG MEMBACA
Three Bad Boys
Teen Fiction(BELUM DI REVISI, MAAF JIKA MASIH BANYAK KESALAHAN) Mungkin cerita ini gak sebagus Dear Nathan, gak sekeren My Ice Girl, gak semenarik Mariposa, gak semenakjubkan MeloDylan, gak se-amazing SIN, gak sebaik Darka, gak se-wow Artha, dan gak se-booming...
