Conflict

8.1K 442 11
                                        

Author POV 

          Seketika kelas berubah menjadi pasar dadakan saat ketiga badboys pentolan SMA Merpati memasuki kelas XI-IPA 7. Daren menenteng kantung kresek di tangannya dan menghampiri bangku Hanin. Seisi kelas berteriak heboh menyaksikan Daren memberikan bekal untuk Hanin.

"Lo belum sarapan 'kan? Nih buat lo, " Daren memberikan kantung kresek yang berisikan bekal beserta segelas air mineral. Gadis itu memang belum sempat sarapan karena terlambat bangun.

Melihat Hanin yang berdiri memaku dengan tatapan tak percaya padanya, Daren meraih tangan Hanin dan memberikan kantung itu untuknya. Hanin tersentak mendapati sentuhan lembut Daren di tangannya, entah kenapa dada Hanin serasa di penuhi dengan bunga-bunga.

"Di makan ya? Gue gak mau lo sakit, " Kata Daren seraya tersenyum.

"ANJIR ROMANTIS BAT!"

"Gue juga pengen ih, "

"Yash, gue gerah hati njer!"

"Cielah kisah kasih di sekolah nih ceritanya, "

Kicauan anak-anak kelas IPA 7 membuat Hanin tersadar dari keterkejutannya dan segera mengendalikan perasaannya. Ia menatap Daren tidak suka dan memberikan kode agar Daren segera pergi dari tempat itu. Daren mengangguk mengerti, "Gue sayang lo," Bisik Daren di telinga Hanin.

Tubuh Hanin bergelenyar mendengar ucapan Daren. Pemuda itu menghampiri Daniel yang sedang menggoda Elis dengan gombalan basinya. "Bentaran lagi dong, Dar. Gue masih betah ngeliatin bidadari di depan gue ini, " Daniel mengedipkan sebelah matanya pada Elis yang blushing.

"Jiah modus lo, Dan!" Fahqi menepuk bahu Daniel dan mengajaknya pergi, "Pangeran lo gue pinjem dulu ya? Bi ei bi ei way, Babay!" Fahqi melambaikan tangan pada Elis ala-ala princess Syahrini.

"Jijik lo, nyet. " Daren menoyor temannya itu.

Ketiga pemuda itu berlalu dan kelas kembali hening. Rara dan Vania menghampiri Hanin yang masih menatap pemberian Daren. "Hanin, kok lo malah ngeliatin itu makanan? Nasinya ganteng ya?" Kata Vania yang sontak membuat kedua temannya tertawa.

"Yekali nasi jadi cogan, " Rara masih setia dengan tawanya. "Bukan nasinya yang ganteng, tapi orang yang ngasihnya ganteng, " Sambung Rara.

"AZEIK!" Vania terkekeh pelan, "By the way, kayaknya enak ya kalo pacaran sama Daren? Mungkin tiap hari dia kirim makanan buat gue, jadinya kan duit jajan gue awet, "

"Itu namanya lo matre dums, " Sahut Rara mencibir, "Ngomong-ngomong lo udah jadian sama si Daren, Nin?" Tatapan Rara beralih kepada Hanin yang masih setia melamun sambil menatap bekal pemberian Daren.

Hanin mengerjap-ngerjapkan matanya dan terbatuk mendengar pertanyaan menohok Rara. Hanin bahkan tidak tau nasibnya sekarang, apakah ia berstatus sebagai pacar Daren, atau hanya dianggap barang taruhan pemuda itu. Nasibnya benar-benar digantung saat ini.

"L-Lo na-nanya gu.. e?" Hanin tiba-tiba tergagap ditanya seperti itu.

Vania dan Rara memutar mata jengah. "Lo kira gue nanya tembok, heh? Ya lo lah, " Kata Rara kesal.

"Gue gak tau, "

"WHAT?!"

Hanin berjengit mendengar histeria kedua temannya ini. Rara dan Vania saling melempar pandangan dengan dahi berkerut. "Maksud lo, Hanin? Lo di gantung Daren?" Vania menatap Hanin dalam-dalam.

Hanin berjengit mendapat tatapan seperti itu, "Biasa aja kali, gak usah melotot segala. Entar kalo mata lo lepas kan berabe, "

"Anying tai, " Umpat Vania.

Three Bad BoysTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang