Maura
👧👧👧👧
Sepanjang perjalanan, aku memandang jauh ke depan... kusadari aku benci bersebelahan dengannya, namun tak ada pilihan, karena jikapun bukan Rillan pasti ada lelaki lain yang jauh lebih menyebalkan menggantikannya, sementara Rillan asik bercerita tentang bisnisnya, rencana liburannya ke Amerika dan beberapa hal lain menyangkut hobi dan kebiasaanya.
"Minggu depan kamu luangin waktu dong, satu minggu aja... kita ke US, mumpung lagi winter disana." Katanya.
"Aku gak bisa..."
"Aku yang mintain ijin yah?" Aku menoleh, memamdang Rillan kasar.
"Ngapain? kamu kan tau masa magang aku tuh 6 bulan!" Bentakku. "Mana ada orang magang bisa seenak jidat minta liburan."
"Sejak kapan kamu peduli sama kerjaan?" Rillan tersenyum sinis menyindir prilaku ku yang sok adil dan jujur. Pertanyaan itu seolah menyadarkan diriku tentang kepribadian burukku yang mengabaikan tanggung jawab, bersikap seenaknya, tak peduli dengan apapun selain diri sendiri. "Kamu pernah bilang sama aku, kalau kamu dewasa nanti kamu bakalan nanem saham segede-gedenya di prusahaan-prusahaan dan kamu hanya diam di rumah menikmati hasilnya." Kenang Rillan. "Sejak kapan kamu suka kerja?"
Aku teringat, di saat pertama kami berjumpa di London, saat liburan SMA. Aku dengan tegas mengatakan pada Rillan aku tak suka bekerja, dan mengatakan semua yang di katakan Rillan padaku. Betapa banyak hal yang tidak ku hargai, termasuk proses menjadi sesuatu. Aku suka berada di puncak tanpa lelah. Tapi belakangan prilakuku berubah, aku menyukai proses, aku menyukai ketika tubuhku lelah, berkeringat, aku menyukai shift malam yang awalnya ku bilang itu menyebalkan. Akupun bertanya pada diriku, mengapa demikian?
Tiba-tiba Rillan tertawa melihat ekspresi diamku yang seolah memikirkan perkataanya.
"Jangan bilang kamu baru sadar kalau sikap kamu itu begitu?" Ledeknya. Aku menghela nafas.
Aku benar-benar menerawang jauh ke masa laluku... masa dimana hanya ada seorang Maura sombong yang egois, Maura yang suka foya-foya dan malas, Maura yang teledor, ceroboh dan cuek pada siapapun dan kondisi apapun. Aku tertunduk memandang lekat-lekat kedua tepak tanganku yang terbuka, kulitnya yang merah dan halus, saking halusnya aku jadi sadar aku tak pernah memakainya untuk membantu siapapun bahkan orang tuaku. Ku tanyakan pada mereka. Sudahkah kalian aku pakai untuk hal berguna?
"Sayang..." suara Rillan menyadarkanku dan ku pandangi ia dengan tatapanku yang mulai melemah. "Ko bengong sih?"
"Aku baru sadar kalau sikap aku seburuk itu Ri." Bibirnya melengkungkan senyum, seolah tanda bahwa ia merasa lega karena tak dapat semprotan pedas dariku.
"Aku tetep suka ko... kamu selalu keren dimata aku." Jawabnya. Aku tiba-tiba teringat Darren, teringat ia berjuang dengan keras mempertahankan kewarasannya di tengah kesendirian dan kegelapan yang selalu ia temui. Mengapa ia selalu tersenyum kepadaku? Mengapa bahkan tubuh lemah dan tatapannya justru menguatkanku... dan tiba-tiba menyadarkanku akan hal yang tak aku sadari sebelumnya.
"Ri... sebagai laki-laki kamu lebih seneng terkurung sendiri di rumah atau di luar?" Rillan tertawa seolah menganggap pertanyaanku konyol.
"Gak ada laki-laki yang seneng terkurung... aku hanya suka berada di kamar ketika aku lelah, kadang pas lelahpun aku butuh seseorang... intinya aku gak bener-bener suka sendirian." Jelasnya. Lagi-lagi yang ku ingat adalah Darren, padahal Rillan sedang menjelaskan tentang dirinya, namun entah mengapa aku merasa Darren pun demikian.
"Pas kamu lelah... dan merasa kesepian, hal terbaik apa yang bisa buat kamu merasa lebih baik?" Rillan memadangku dengan alis yang terangkat, aku yang tak biasa banyak bertanya tiba-tiba menerkamnya dengan beberapa pertanyaan sekaligus. Tangan kirinya menyentuh tanganku dan menggenggamnya perlahan. Tangan besar itu menutupi sebagian besar tanganku, kulitnya terasa hangat namun aku tak menyukainya.
KAMU SEDANG MEMBACA
HOPEless
Romancemenceritakan seorang laki-laki yang memiliki penyakit langka yang membuat dia tak bisa keluar dari kamarnya, tapi semangatnya tinggi, dia selalu percaya suatu hari dia akan sembuh dan bisa kembali melihat Sunrise dan Sunset yang sangat ia sukai. nam...
