chapter 5

816 91 3
                                        

👧👧👧👧

Maura

Aku memparkir mobilku seperti biasa, dan berlari menuju rumah meski aku yakin dirumah sudah tidak ada siapa-siapa karena seperti biasa papi pasti sudah berangkat ke kantor, begitupun dengan mami yang pasti juga sudah pergi ke klink. Kak Arif? Dia sudah menikah 1 bulan yang lalu dan memilih tinggal di rumah barunya. Kak Mey, sedang membuka cabang butik di Bandung, tentu saja dia jarang pulang karena amat sangat sibuk. Benar saja, ketika ku buka pintu tak ada satu orang pun yang masih di rumah. Hanya beberapa pegawai yang lalu lalang. Bisa dikatakan aku rindu mereka... bisa dikatakan rasanya setelah melihat Darren aku jadi menyadari betapa penting mereka dalam hidupku.

Kakiku melangkah putus asa menuju ke dalam ruangan, menyisir setiap ruangan berharap ada jejak yang mereka tinggalkan. Di tangga ku dengar suara mami tengah mengoceh pada mba Lia asisten pribadinya, tiba-tiba bibirku melengkungkan senyuman dan berlari menghampiri.

"Kan ibu udah bilang kalau nyari front office tuh harus bener-bener... gak cuman fisik aja... kan kalo udah gini siapa juga yang repot. Pokonya ya, sebelum jam makan siang kamu udah dapet. Masa ia kita harus pake Hani terus, dia kan banyak kerjaannya." Omelnya. Mami terhenti ketika ia mendapati anak bungsunya tengah tersenyum manis di bawah anak tangga.

"Mamiiiii!!!" Segera Maura memeluk ibunya erat. Mami mengendus-ngendus mencium bau tidak enak dari rambutku.

"Morning sayang... rambut kamu ko tumben sih, bau apek deh." Aku mengabaikannya dan terus memeluk mami erat. "By the way... ada apa tumben banget dateng-dateng peluk mami?"

"Aku kangen..." bisik Maura. Mami tertawa merasa lucu mendengar ungkapan polos dari mulutku yang amat jarang sekali ia dengar. Aku melepas pelukan mami dan menatapnya. "Seandainya... Maura punya penyakit langka yang gak ada obatnya... mami mau gimana?"

"Husss kalo ngomong!!!" Sentak mami.

"Seandainya mi!!!" Rengek Maura.

"Apa lagi yang bisa seorang ibu lakukan selain mencari berbagai cara agar anaknya bisa bertahan... apapun." Jawab mami, tiba-tiba aku merasa terharu, aku mengingat betul ekspresi wajah kedua orang tua Darren. Aku yakin, meski mereka tau tak ada jalan bagi Darren untuk semubuh mereka akan tetap berusaha. "Ya udah kamu mandi dulu gih... terus makan, terus istirahat... mami mau ke klinik dulu ada masalah penting." Jelas mami sambil mengecup hangat keningku. "I love you..." aku mengangguk, antara mengiyakan kalimat terakhir yang mami beri dan tak ikhlas mami pergi begitu saja padahal aku masih membutuhkannya.

Aku menaiki anak tangga, satu persatu... entah mengapa aku mengkhawatirkan Darren, entah mengapa aku selalu terbayang setiap kemalangan yang ia alami, entah mengapa rasanya aku ingin masuk kedalam kehidupannya dan mencerahkan kegelapan yang ia jalani, entah mengapa aku ingin sekali melihat kehidupannya lebih jauh, entah mengapa... meski kondisiku bisa dikatakan sempurna aku merasa memiliki kesamaan dengan Darren... dan aku merasa Darren lebih memahamiku dari pada siapapun.

"Oh iya honey!!!" Seru mami. Langkahku terhenti dan menoleh ke arah mami yang masih di bawah tangga bersama mbak Lia. "Nanti malem, mami suruh Rillan jemput kamu..." aku menghela nafas.

"Aku gak mau mi... dia cerewet banget!" Jawabku.

"Come on sweetheart!!!" Bujuknya. Lagi-lagi aku tak bisa menolak, karena memang harus begini jalan kehidupan kami. Aku mengangguk setuju dan membuat mami tersenyum hingga membuat lesung pipinya yang indah.

Kakaku yang pertama, ia menikah di jodohkan dengan anak rekan bisnis papi. Aku rasa ia baik-baik saja. Dan sepertinya kakaku tak mempermasalahkan hal itu, karena istrinya sangat cantik, elegan, pintar dan kaya tentu saja.

HOPElessTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang