AUTHOR P.O.V
Soojung yang sedari tadi mengamati langit sore yang indah dari atas atap gedung sekolahnya membiarkan wajahnya diterpa angin musim semi yang lembut. Ia juga membiarkan rambutnya yang terurai merasakan lembutnya sapuan angin tersebut. Ia memejamkan matanya. Pikirannya melayang, membayangkan mimpi buruk yang selalu ia alami. Ia tidak pernah mengatakan mimpi itu kepada siapapun, bahkan kepada sahabatnya Minhyun ataupu Hara. Ia biarkan angin yang berhembus membawa pergi semua mimpi buruk yang ia alami.
"Apa kau sudah selesai dengan adegan music video mu ini Lee Soojung?" Suara yang menurut Soojung cukup menyebalkan itu kembali terdengar.
Minhyun yang sedari tadi duduk tenang sambil membaca buku kini sudah berdiri tepat di sebelah gadis yang menurutnya lemah hanya saja ditutupi dengan "casing" kuat itu.
"Aku hampir selesai dengan adegan akhir yang dramatis, kalau saja suaramu itu tidak mengganggu adegan pentingku ini" Jawab Soojung Sarkastik dengan sedikin decakan kesal.
"Aku mau pulang, kau mau ikut atau tidak?" Sahut Minhyun tanpa mengatakan basa basi lainnya.
"Pulang saja duluan, aku masih ada urusan."
"Yasudah, hati hati.. jaga dirimu."
"Yaaa"
Soojung pun kembali dalam ketenangannya, ia berfikir apabila mimpi itu semakin buruk, dan ia tidak bisa mengatasinya, ia akan pergi menceritakannya kepada terapis nya. Ia memang sering berkonsultasi dengan seorang dokter sekaligus sepupunya Kim Seokjin.. ia yang siap sedia mendengarkan keluhannya dan memberinya beberapa jalan keluar salah satunya obat penenang yang selalu ia konsumsi setiap sebelum tidur. Tentu saja tidak ada yg tahu akan hal ini. Bahkan Minhyun sekalipun. Soojung sangat tau jika Minhyun mengetahui hal ini, ia pasti akan membuang semua obat penenangnya, karena menurut Minhyun, obat penenang hanya memperburuk kondisi, dan bukan sebuah "jalan keluar."
•••••••••••••••
Langit sudah gelap, Soojung melirik jam tangannya yang sudah menunjukan pukul 20.00 p.m. Ia pun segera keluar dari perpustakaan sekolahnya, setelah Si manusia es meninggalkannya sendirian di atap, tidak lama dia turun kebawah menuju perpustakaan.. Ia hanya ingin menenggelamkan dirinya diantara khayalan khayalan tentang romansa remaja yang penuh dengan kejutan, dari pada terjebak dalam mimpi buruknya. Tanpa ia sadari ia terlelap.
Sekolahnya masih terang, banyak anak anak yang mengambil kelas tambahan, mengingat ujian seleksi perguruan tinggi semakin dekat. Tapi itu tidak berlaku untuk Soojung. Dia dianugerahi otak yang cerdas, sehingga apa yang disampaikan dikelas sudah cukup untuknya.
Ketika menyusuri koridor sekolah yang cukup panjang itu, ia berhenti sejenak, bayangan aneh itu muncul lagi, ia diam sebentar menenangkan dirinya, sebelum akhirnya melanjutkan langkahnya menuju gerbang sekolah.
Ketika sampai di depan gerbang sekolah, ia terkejut ketika menangkap sosok laki laki, duduk diatas motor sport, seperti sedang menunggu seseorang, mirip dengan potongan di dalam mimpinya. Samar samar bayangan itu terukir kembali diingatannya, seakan ia pernah bertemu dengan laki laki itu. Kepalanya mulai berdenyut nyeri. Ia mendekat kearah lelaki itu, seakan semua mimpi yang ia alami adalah penggalan film yang pernah ia tonton. "Apakah ini sebuah dé javu?" Ucapnya dalam hati, seraya melangkahkan kakinya semakin dekat.
Belum sempat ia melihat wajah laki laki itu, sakit kepalanya semakin terasa. Soojung memekik kesakitan seraya memegang kepalanya. Rasanya seperti di hantam oleh ribuan batu giok. Laki laki yang tadi sedang duduk diatas motor pun menoleh kearahnya. Soojung bisa mendengar dengan samar ketika laki laki itu berkata "Lee Soojung!!" Dan menarik lengannya, Soojung bisa merasakan hangatnya tangan yang menarik lengannya itu. Satu hal yang terbersit dipikirannya saat itu, sebelum akhirnya semuanya gelap.
"Tidak ada yang lebih hangat dibanding tangan itu...
Hwang Minhyun."
•••••••••••••••••••
SOOJUNG P.O.V
Aku membuka mataku dan mendapati diriku sudah berada kamarku. Aku tidak ingat apa apa kecuali...
Segera aku tegakan tubuhku hendak turun dari tempat tidur sebelum akhirnya aku dikejutkan dengan tatapan dingin itu.
"Hh..Hw..Hwang Minhyun.." ucapku seraya tersenyum. Bukan tersenyum manis, tapi tersenyum getir, karena tatapannya seakan akan ia akan menghujamkan sebuah sabit maut kearahku.
"Apa yang kau lakukan di.." belum sempat aku lanjutkan kalimatku, dia sudah membuka mulutnya terlebih dahulu.
"Ya.. Lee Soojung.." suaranya yang lemah ketika memanggilku begitu lembut, namun juga penuh penekanan, dia pasti marah aku tahu itu. Bisa kulihat dari tatapannya yang serius. Aku akan bersiap untuk serentetan ceramahnya.
"bukankah sudah kubilang untuk menjaga kesehatanmu. Apa kau kemarin benar benar sudah menghabiskan makan siangmu? Atau sama sekali belum kau sentuh? Aku yakin kau juga melewatkan makan malam mu? Apa kau pikir dengan hanya belajar tubuhmu juga mendapat nutrisi yang cukup? Jangan membuat semua orang khawatir dengan mu. Paman Jang tidak berhenti mendapatkan telpon dari ayah ibumu di Inggris yang khawatir dengan keadaanmu sekarang. Sekarang makan dan habiskanlah buburmu lalu minum obatmj dan kembalilah istirahat, jangan pikirkan apapun."
Setelah itu ia berdecak dan berjalan keluar memunggungiku. Bisa kudengar kalimat yang ia ucapkan sebelum hilang dibalik pintu. Suara lembut yang tidak pernah berubah, yang selalu bisa menghangatkan hatiku.
"Lee Soojung, berhentilah membuatku khawatir."

KAMU SEDANG MEMBACA
The Moon and The Star
Fanfiction"Kalau ku ibaratkan.. Ia bagaikan bintang yang berhamburan di langit luas.. memenuhi langit malam yang sulit kau tebak.. Bintang yang tidak pernah berubah.. Hanya saja disuatu malam ia akan muncul dan di malam berikutnya ia akan hilang.. Lalu.. Baga...