Secrets

39 3 1
                                    

Sudah setengah jam lebih Soojung diam, tidak sedikitpun ia membuka suaranya, sementara laki laki di hadapannya bingung, harus memulai dari mana.

Terlihat sebuah plester penutup luka bergambar pororo menempel di pipi Soojung. Suara helaan nafas Soojung kini terdengar. Dari suara nafasnya dapat laki laki itu ketahui, bahwa gadis ini benar benar kesal.

"Lee Soojung!!!" Suara Hara dari kejauhan memecah keheningan kedua orang itu. Hara lalu mendekat ke arah keduanya "Aku mencarimu kemana mana, rupanya kau ada disini.. astagaaa!! Apa itu di pipimu?? Gadis itu keterlaluan akan kuberi pelajaran dia."

Entahlah, apakah si Hara sempat mengambil nafas saat mengatakan semua kalimat itu. Cara bicaranya sungguh cepat dan jelas tanpa jeda yang berarti.

"Hara.. kau berisik sekali.." jawab Soojung pelan. Benar benar hari yang melelahkan untuk Soojung. Sementara laki laki yang sedari tadi menemani Soojung dia sudah pergi entah kemana.

Halaman belakang sekolah menjadi saksi bisu dari semua yang dilakukan Soojung hari itu. Tentu saja bisu, karna kalaupun bisa berbicara ia juga tidak akan mengatakan apapun. Soojung hanya diam begitupula laki laki di hadapannya.

"Dia bahkan tidak mengatakan apapun.. kau keterlaluan Hwang Minhyun." Gumam Soojung dalam hati. Hara kemudian menarik Soojung kembali ke kelas.

••••••••

"Apa aku tidak salah dengar.. kau bilang Jungkook??" Hara membulatkan matanya mencoba memproses setiap kalimat yang Soojung lontarkan.
Sementara Soojung hanya mengangguk mengiyakan.

"Cepatlah mengaku Lee Soojung, kau ada hubungan spesial kan dengan si Jungkook itu?" Tanya Hara yang langsung di sambut dengan pukulan kecil di kepalanya.

"Berhenti bicara omong kosong Choi Hara, aish kau sudah gila." Sahut Soojung dengan ekspresi ketidak percayaannya atas apa yang Hara lontarkan. Sesungguhnya Soojung juga tidak mengerti, kenapa ia dan Jungkook menjadi dekat belakangan ini.

Ah.. bukan dekat, ia harus ralat pikiran itu. Hanya kebetulan bisa terlibat interaksi.

Soojung masih tenggelam dalam dilemanya, saat laki laki yang sedang menjadi topik pembicaraan dirinya dan Hara masuk ke kelas dan langsung duduk di mejanya. Seakan akan tidak terjadi apa apa tadi.

Masih teringat jelas di pikiran Soojung, saat tiba tiba Jungkook menepis tangan Yoojin yang hampir memberikan tamparan untuk kedua kali di pipinya. Ia juga ingat jelas saat Jungkook menarik dirinya menjauh, dan tidak mengatakan satu patah kata apapun.

Ia juga ingat ketika Jungkook menempelkan plester pororo itu di pipinya, bisa Soojung pastikan, bahwa laki laki itu belum sembuh benar. Terlihat jelas dari wajahnya yang masih terlihat pucat dan keringat yang membanjiri tubuhnya.

Hanya tubuh kekarnya saja yang berhasil mengelabui orang orang. Jika kau perhatikan lebih dekat, bisa terlihat jelas, kondisi laki laki bernama Jungkook itu saat ini sangat lemah.

"Bukankah ia tidak masuk kelas tadi pagi? Kenapa ia bisa tiba tiba datang melerai perkelahianmu?" Tanya Hara berbisik pada Soojung.

"Tanya saja sendiri padanya." Jawab Soojung meninggalkan pertanyaan lain di benak Hara. Apa mungkin benar dugaanya kali ini, bahwa dua orang ini sebenarnya menjalin kasih.

Jika setiap manusia di ciptakan dengan satu wajah lagi di belakang kepalanya, mungkin wajah Hara yang satunya sedang tertawa geli karna memikirkan kemungkinan kemungkinan itu.

Sementara itu, Soojung kembali kedalam lamunannya sambil menatap pohon Cherry Blossom yang perlahan mulai berguguran.

•••••••

Terdengar suara bel menandakan waktunya untuk pulang. Soojung masih mengemas bawaannya, saat Hara meminta izin untuk pulang lebih dulu, ia harus bergegas untuk latihan hari ini.

Sementara itu hanya tersisa dirinya dan Jungkook dikelas. Jungkook masih tidak mengatakan apapun. Dan Soojung belum sempat mengatakan terima kasih atas apa yang telah Jungkook lakukan.

"Jungkook-ah.." akhirnya Soojung membuka suaranya. Yang disambut dengan tatapan dari mata bulat milik Jungkook.

"Terima kasih." Hanya itu.. hanya itu yang bisa Soojung katakan. Yang dibalas dengan seulas senyum dari Jungkook. Seulas senyum yang aneh, senyumnya terlihat tulus, namun juga seperti menyembunyikan arti lain di dalamnya.

•••••

Mereka kembali duduk bersebelahan di dalam satu bis yang sama. Masih tidak ada kalimat apapun yang terucap dari bibir mereka berdua. Sementara Jungkook hanya diam sambil menunduk memejamkan matanya.

Jauh di dalam hati Soojung, sebenarnya ada perasaan khawatir. Apa yang anak bodoh ini lakukan. Jika ia masih sakit kenapa ia tidak beristirahat saja di rumah.

Sementara tubuh Jungkook sudah dibanjiri oleh keringat dingin. Ia tidak bisa terbaring lemah lagi di hadapan Soojung. Sudah cukup harga dirinya ia biarkan menguar saat kemarin ia tergolek lemas diatas sofa rumah Soojung.

"Sudah sampai.." ucap Soojung, yang menyadarkan Jungkook. "Kau baik baik saja?" Tanya Soojung yang terdengar sedikit khawatir bagi Jungkook.

Sementara Jungkook merasakan sedikit nyeri di dadanya. Ia tetap memaksakan diri untuk berdiri dan turun dari bus, ia tidak ingin terlihat lemah untuk kedua kalinya dihadapan Soojung.

Jungkook tidak sedikitpun menoleh ke arah Soojung sepanjang perjalanan di bus, begitu pula saat ini, ketika mereka sudah turun dari bus, Jungkook bahkan mempercepat langkahnya, ingin segera sampai rumah.

•••••••

"Tuannn!!" Teriak wanita paruh baya itu ketika melihat Tuannya terduduk di depan pintu rumah. Peluhnya bercucuran, wajahnya pucat pasi.

Jungkook memegangi dadanya. Nyeri yang ia rasakan semakin menjadi. Sudah lama sejak terakhir kali ia mengalami hal ini.

Bibi Yoon hanya bisa menangis ketika suaminya membantu Jungkook berdiri dan membawanya ke rumah sakit. "Bertahanlah Tuan.." itulah yang bibi Yoon ucapkan ketika mobil yang membawa Jungkook menghilang dari pandangannya.

•••••

Wanita yang terlihat bijaksana itu terlihat sangat khawatir, ia tidak bisa menyembunyikan raut wajahnya yang menggambarkan pikirannya yang tidak stabil. Sementara suaminya sibuk menenangkannya.

Ketika dokter keluar dari ruangan, segera ia berdiri dan menghujani dokter itu dengan rentetan pertanyaan. Dokter muda itu terlihat tenang dalam menjawab setiap pertanyaanya. Dan membiarkan wanita itu menemui anaknya.

Dilihatnya alat alat yang menempel di tubuh anak laki laki yang sangat ia cintai itu. Entahlah mungkin semacam trauma, air mata langsung saja turun membasahi pipinya ketika melihat pemandangan itu.

"Jangan lagi Jungkook-ah.. jangan membuat ibu menderita lagi.."














Dan langit mendung kembali menyelimuti siang itu..

The Moon and The StarTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang