SESUM 13 Februari 2018
By : Upil
Tema : Pelakor
Genre : Thriller
Notes : Harus sudut pandang pelakor
Keyword : buttplug, mata-mata, plagiat
***
[ Just One Night ]
Detak jantung yang memburu, alur napas yang menyempit, adrenalin yang terpacu, rasa terbakar di semua jengkal tubuh saat berhenti memaksa diri bergerak adalah denyut memabukkan yang sangat sayang untuk diabaikan begitu saja.
Suara teriakan dari yang diburu dan dengus licik dari pemburu, menjadikan malam kelam dengan hiasan rintik-rintik hujan hari itu sebagai sesuatu yang sangat menggiurkan baginya.
Tentu terasa demikian bagi si pemburu, bukan?
"Tolong! Siapa saja! Tolong aku ... to--aahhk!" Ia tersungkur jatuh mencium aspal yang basah oleh guyuran hujan dengan bunyi debum nyaring.
Ia mengerang di sela-sela napasnya yang tersengal-sengal, "Uughh ... ahhk ...." Ngilu di pergelangan kaki kanannya sama sekali bukan sebuah bantuan yang ia butuhkan.
Langkah sepasang kaki mendekatinya dalam tempo tetap. Tidak tergesa-gesa ataupun melambat santai. Sosok yang meringkuk dalam tangis ketakutan di aspal basah, kembali memaksa sekujur tubuhnya yang sudah berteriak lelah untuk menghindar.
"A-apa ... yang kau inginkan ... dariku?" rintihnya seraya tertatih menarik diri sejauh dan sebisanya dengan luka baru di kakinya, " ... tolong, jangan sakiti aku ...."
Seringai di wajah tampan terbalut kecantikan itu semakin lebar. Rintih dan tangis ketakutan yang ia lihat di depan hidungnya, di bawah kakinya, adalah hal yang ia inginkan sedari awal.
Sikap angkuh dan tidak tahu diri empunya yang selalu hadir dulu, sudah menguap dalam lelehan air mata ketidakberdayaan.
Ya. Itu yang ia ingin lihat, yang ia nikmati.
Ia kemudian berjongkok di sisi tubuh wanita yang meringkuk menyedihkan sampai menyentuh onggokan kantung sampah, yang tidak bakal mungkin dibiarkan menyentuh tubuh tadinya, sekarang sudah dijadikan sandaran untuk sekadar menghindar sia-sia.
"Sudah kukatakan, bukan? Aku serius soal jangan berada di dekatnya. Kau sudah kuperingatkan, Nyonya ..., " ujarnya.
Meneguk tangis, balasan pun diterima, "I-iya ... maafkan aku. Aku akan pergi darinya. Aku janji. Aku janji ... tapi tolong, jangan mengejarku lagi ... jangan sakiti aku ...."
Degup tangis itu melepaskan suara pilu saat empunya dibantu untuk bangkit dari keterpurukan. Rasa lega menghinggapi saat perlahan dan dengan penuh kelembutan tetes air mata yang menyatu dengan air hujan itu diusap oleh jemari lentik yang tidak kalah cantik dari si wanita.
"Tentu ... tentu saja. Asalkan kau berjanji dan menjauhinya. Aku mana tega menyakiti wanita sebaik dan secantik dirimu, Nyonya Jeon," ucapnya pelan.
Mengangguk cepat, ia berkata, "Aku janji ... aku janji, Taehyung ...."
Seulas senyum diberikannya pada si wanita plagiat penyuka buttplug yang munafik itu. Senyum yang juga sering dipamerkan untuk menarik perhatian lawan jenis, kini digunakan untuk alasan yang sama.
Menipu.
Seketika senyum itu lenyap. Wajah datar nan bosan ganti menduduki ketampanan yang indah di sana.
Rasa takut yang sempat terangkat, kembali menghujam.
"Sudah terlambat, bukan?"
Hantaman punggung tangan mendarat telak di pipi yang basah. Suara erang kesakitan dirasanya belum cukup. Kepalan tinju pun melayang. Dua kali ia melayangkan buku-buku jemari kanan mengepal itu untuk menghantam kuat, sebelum akhirnya terhenti dengan napas terengah.
KAMU SEDANG MEMBACA
SeSum - Selasa Mesum
RandomKompilasi cerita Mesum untuk yang berumur 21++ Makasih banget buat yang dengan setia dan sabar menunggu hingga hari Selasa, menunggu Apdet Sesum. *geleng geleng pala*
