Berak ZigZag. pfft!

3K 23 7
                                        

Tema: aura model majalah mesum
Genre: horror, romance, humor
Keyword: viagra, ,semut, majalah porno , chef.

By : uchihayuuki99

***

Zena melirik pada jam tangan yang melingkari pergelangan tangan. Kemudian mengedarkan pandangan dengan raut bingung sekaligus kesal.
Hari ini ia memang memiliki janji untuk bertemu dengan seseorang.

Seseorang yang ia kenal dari media sosial dan kini menjadi kekasihnya. Ini adalah kali pertama ia bertemu secara langsung dengan kekasihnya setelah menjalin hubungan setengah tahun lamanya. Aneh? Memang, ia sendiri heran kenapa bisa langsung mempercayai pemuda itu dan jatuh hati pada chat pertama.

"Ke mana orang itu? Kenapa belum muncul juga?" gerutunya karena tidak juga mendapati batang hidung kekasihnya. Ponsel pemuda berkupluk itu bergetar, menandakan ada chat masuk pada aplikasi WE nya.

Hei, kau di mana? Aku sudah berada di depan gerbang taman hiburan. —Curut kesayangan.

Kening Zena mengerut, pesan yang baru saja di terimanya dari si Curut tersebut bingung, jika kekasihnya sudah di depan pintu masuk, kenapa ia tidak melihatnya sedari tadi? Kebanyakan orang sibuk pada dunianya sendiri.

Zena mendongak, menatap pada sisi lain pintu masuk dan mendapati seorang pria berpakaian rapi tengah menatapnya dengan seringai yang membuat bulu kuduk berdiri.

'Anjir, ada Sugar Daddy model majalah porno,' batin pemuda itu.

Bagi Zena, lelaki dewasa yang baru saja menutup pintu ferari hitam miliknya itu mirip CEO ganteng yang suka nangkring di majalah porno langganan.

Bentuk tubuh yang bagus terlihat walaupun tertutup jas. Langkah kaki gagah penuh karisma lelaki itu yang perlahan mendekatinya. Zena terpesona, ia menatap lelaki itu tanpa berkedip sama sekali.


'Tunggu, kenapa dia menuju ke arahku?' Zena melangkah mundur, wajah lelaki itu terlihat menyeramkan di mata Zena. Bagaimana tidak? Seringai mesum sudah tercetak dengan jelas di wajah pria itu. Oh, ayolah, Zena juga laki-laki. Dia tau betul apa maksud dari seringai lelaki itu.

Pemuda itu tanpa pikir panjang berlari menjauh, jadi sasaran pria mesum bukanlah sesuatu yang mengenakkan. Apalagi sepertinya lelaki itu tipe orang yang kuat di ranjang walaupun tidak mengonsumsi viagra.

Menoleh ke belakang, Zena mendapati orang itu mengejarnya. Hari sudah malam dan dia berlari menuju tempat yang sepi. Makinlah ia ketakutan. Bukannya tidak bisa melawan, hanya saja ia tidak mau babak belur sebelum bertemu kekasihnya.

Merogoh tasnya, Zena meraih kipas angin portable dan melemparkannya tepat mengenai hidung pria itu.
"Auh! Oi, bocah! Kenapa kau malah lari dan melempari aku, hah?" teriak lelaki itu.

Langkah Zena terhenti, ia berbalik dan menatap tidak percaya pada pria yang mendekatinya. Zena tahu betul suara siapa itu, sangat kenal.
"Adnan?" panggilnya.

"Iya! Memangnya kau pikir siapa?" gerutuan lelaki yang ternyata kekasihnya sendiri itu membuat Zena tersenyum malu. Ia melangkah mendekati lelaki yang lebih tua tujuh tahun darinya itu dan mengelus hidung merah akibat berciuman dengan kipas angin portable.

"Maafkan aku ... kupikir kau pria mesum yang suka nangkring di majalah porno."

Adnan mendengkus.
"Apa-apaan itu? Pemilik restoran dengan Chef terbaik ini kau samakan dengan pria-pria lemah itu? Cih, jauh." Adnan meraih tangan Zena dan menariknya menuju pos ronda yang sudah lama tidak terpakai.

"Ngapain kita di sini?" tanya Zena.

"Sudah tanggung sampai di tempat sepi begini, sekalian saja kau beri aku jatah." Adnan duduk di pos dan menarik Zena duduk di pangkuannya.

"Tunggu dulu, ini tempat terbuka, kalau nanti ada yang lewat bagaimana?" Zena berusaha menarik dirinya untuk menjauhi Adnan. Tapi lelaki itu tahu betul apa kelemahan Zena.

Adnan menggigit leher Zena dan menghisapnya keras. Lenguhan tertahan sukses meluncur dari bibir Zena dan pemuda itu kembali terduduk di pangkuan Adnan.

"Kenapa kau tahu titik sensitifku? Padahal kita baru bertemu sekarang." Protes Zena.

Adnan menyeringai.
"Tentu saja, aku tahu betul apa saja yang kau pegang setiap kita melakukan phone sex."

Zena merengut, ia memukul kepala lelaki yang memangkunya kemudian mendaratkan bibirnya pada bibir Adnan, melumatnya.

Adnan membalas lumatan Zena. Tangannya bergerak menyusup ke dalam kaos Zena, menelusuri punggung kekasihnya perlahan. Mengundang lenguhan kembali lolos.

Zena melepas lumatan, dia dengan tergesa membuka setiap kancing baju kekasihnya. Selesai melucuti kemeja Adnan, pria itu beralih melepas ikat pinggang Adnan dan mengeluarkan sesuatu yang telah berdiri tegak dari sarangnya.

Zena merosot ke bawah, mata sayunya memandangi adik kecil milik kekasihnya yang sudah mengundangnya untuk segera di nikmati. Adnan menggeram keenakan saat benda sakralnya telah terperangkap dalam rongga mulut Zena. Lelaki itu melenguh saat gigi-gigi kekasihnya menggeseknya.

"Berhenti, aku ingin memasukkan milikku di lubangmu yang lain sebelum aku klimaks." Adnan kembali menarik Zena duduk di pangkuannya, menurunkan celana milik pemuda itu, jemarinya mulai mempersiapkan Zena untuk ia masuki nanti.

Satu jari masuk, Zena menggeliat tak nyaman. Jari kedua masuk dan bergerak zig zag, Zena meringis merasakan sakit. Ketika jari ketiga masuk, Zena melenguh keras saat tanpa sengaja ujung jari Adnan menyentuh titik ternikmatnya.

Adnan tersenyum puas, ia mengeluarkan jemarinya dan mempersiapkan diri untuk acara puncak.

"Hihihi ... Anak zaman sekarang memang tidak tau tempat, ya?"

Belum sempat Adnan memasuki Zena, suara lain dari atas pohon di samping pos ronda membuat keduanya menghentikan kegiatan. Ketika mereka menoleh, sosok kuntilanak tengah menonton mereka anuan dengan salah satu tangan menutupi hidung, semut merayapi wajahnya dan masuk ke mata.

"Ah ... walaupun aku sudah mati, masih saja aku dapat asupan yang luar biasa. Ihihihihi~"

Tawa melengking itu bagai tanda untuk Zena pingsan saat itu juga, dan bencana bagi Adnan.

End.

SeSum - Selasa MesumCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang