Diteror, siapa?

1.2K 8 0
                                        

Sesum :

Tema : Cinta Terbentur Restu Netizen
Genre : Action, Horor
Keywords : Kelakar, Pelumas, Angry Bird, Lonceng, Pelir

Kumpul mulai jam 7 ampe jam 9.


“Hng ... Ahh ... t-terushh ... lebihh cepathh ....” Seorang pemuda mengerang erotis dalam rengkuhan pria dewasa. Kedua kaki pemuda terbuka lebar, sementara sang pria yang berada di antara kaki si pemuda tampak memaju-mundurkan pinggulnya.

“Kh... kau selalu berhasil membuatku lepas kendali.” Lidah pria dewasa terjulur dan menyapu permukaan leher sosok dalam dekapan. Kedua kaki yang melingkar di pinggang ia angkat lebih tinggi, menaruh keduanya di atas bahu tegap penuh bekas luka.

“Hyaa! Ah! Hhnn ....” Pemuda itu tersentak kala titik nikmat dalam diri tersentuh oleh ujung penis sang dominan. Hantaman demi hantaman yang ia terima membuatnya semakin terbuai.

“Pelankan suaramu. Kalau tidak, kita akan ketahuan,” bisik pria dewasa itu mengingatkan.

Pemuda itu buru-buru membungkam mulut dengan kedua telapak tangannya. Karena kenikmatan yang ia terima, pemuda itu sampai lupa bahwa kini mereka tengah bersembunyi dari kejaran orang gila yang gemar membunuh pasangan-pasangan seperti mereka ini, penyuka sesama jenis. Sudah lebih dari sepuluh pasangan sesama jenis yang menjadi korban. Kebanyakan mereka berakhir dengan keadaan mengenaskan, kehilangan benda sakral pria pun menjadi ciri khas pembunuhannya.

Teror ini bermula saat salah satu postingan foto kemesraan dua orang pria mendapat komentar negatif dari beberapa akun dengan nama angry bird. Awalnya cuma ungkapan ketidaksukaan, bahasanya masih sopan, lama kelamaan menjadi kasar, cacian dan makian tak pernah absen dari komentar-komentar yang pemilik akun itu ketik. Sampai akhirnya, ancaman pun ikut andil dalam komentarnya. Besoknya, pasangan dalam foto ditemukan tak bernyawa dengan penis yang hilang entah ke mana.

Kejadian itu terus terulang sampai korban ke sekian dan sekarang, merekalah yang jadi sasaran.

“Hei, kau lihat pelumas yang kutarus di situ?” tanya si pria sembari menunjuk pada samping kiri kepala si pemuda.


“Tidak tahu, memang kenapa?”

Pria itu menghela napas.
“Aku membutuhkan itu untuk ronde kedua.” Sebuah kepalan tangan menghantam dagu sang dominan. Sementara pelaku penghantaman itu kini menatap tajam pria yang sepuluh tahun lebih tua darinya.

“Kita sedang dikejar-kejar pembunuh berantai dan kau malah dengan santainya minta ronde kedua?” Pemuda itu menggeleng-gelengkan kepala tak habis pikir.

Pria itu tak mengacuhkan ucapan kekasihnya, justru sekarang dia sedang mempersiapkan miliknya di lubang kenikmatan sang submissive. Dalam sekali hentakan, miliknya sudah tertanam sepenuhnya di dalam lubang hangat sang terkasih.

“Sakit!” protes pemuda itu dengan air mata mengalir, walaupun sebelumnya sudah dibobol, tetap saja sakit kalau dimasuki sekali hentak begitu. Setelah terdiam beberapa saat untuk membiasakan diri, pelir si pria siap beraksi.


BRAK!


Namun, belum sempat bergerak, pintu gudang tempat mereka bersembunyi terbuka lebar secara paksa. Dua laki-laki yang sedang bercumbu dibalik lemari bekas diam membeku karena terkejut.

“Hallo ... kalian di mana? Urusan kita belum selesai ....” Suara dingin mendayu terdengar mengerikan bagi si pemuda. Sedangkan bagi pria dewasa, suara itu sama menyebalkannya seperti pemiliknya yang berani mengganggu acara pentingnya.


“K-kita harus segara kabur ....” lirih si pemuda dengan tubuh gemetar, wajah yang tadinya merona merah kini berubah pucat. Genggaman erat pada kemeja sang dominan yang semula karena menahan kenikmatan, kini berganti menjadi ketakutan.


Pria tampan yang diduga tidak pandai berkelakar itu mendengus, ia meraih mantel panjang miliknya dan membungkus tubuh dalam dekapan tanpa melepas kejantanan dari dalam si pemuda. Diangkatnya tubuh berpeluh itu, ia berdiri tanpa kesusahan walaupun sedang menggendong pemuda bertubuh tak mungil itu. Bahkan ia mengangkat tubuh itu dengan satu tangan. Sementara tangan lain meraih pistol dari sabuknya.

Oh, jangan salah, begitu-begitu pria tegap itu salah seorang anggota mafia terkenal. Semua orang takut padanya. Ya, semua. Kecuali orang bodoh yang saat ini masih mengincar nyawanya dan sang kekasih.


Pria itu mulai melancarkan aksinya. Tanpa suara ia memposisikan pistol hingga bidikkan sesuai. Ia menarik pelatuknya dan timah panas meluncur, terbenam dengan mulus di bahu si pengejar. Sosok itu limbung, darah mengucur deras dari bahunya.

Memanfaatkan keadaan, pria dewasa menarik mantelnya hingga membungkus seluruh tubuh kekasihnya, termasuk kepala. Didekapnya erat tubuh itu sebelum berlari dan menabrakkan diri pada kaca jendela hingga jendela itu pecah. Pria itu mengulurkan tangan dan meraih terali besi pada balkon gedung seberang sebelum mereka berdua jatuh ke bawah, dengan susah payah ia memanjat ke atas balkon dan menuruni tangga hingga kini mereka berada di trotoar. Mereka bebas.

Pemuda dalam pelukan mengintip dari balik bahu, sedikit mendongak, ia menatap pada lantai lima, tepat pada gudang tempat mereka tadinya berada. Di sana, ia melihat si pembunuh berantai berdiri, menatap bengis pada dirinya yang membeku. Seringai lebar mengerikan terukir di wajah itu. Bibir merah ternoda darah terbuka, mengucapkan sesuatu yang tidak dapat ia mengerti. Kemudian, tubuh itu condong ke depan dan terjun bebas ke bawah. Pemuda itu menatap tak percaya pada apa yang baru saja disaksikannya. Dengan perasaan tak karuan, ia membenamkan wajah di bahu kekasihnya yang berlari semakin jauh.

****


“Ugh ... aku tidak mau terus-terusan begini. Diteror terus-menerus itu melelahkan!” gerutuan pemuda itu bergema di kamar minimalis sebuah apartemen. Setelah berhasil kabur dari si pembunuh berantai, mereka memutuskan pergi ke apartemen yang baru mereka beli beberapa waktu lalu.

“Salahmu sendiri, tidak mengizinkan aku membunuhnya.”

Pemuda itu mengerucutkan bibir, sembari mencibir, ia meraih ponselnya dan membuka salah satu media soalnya. Tangannya bergerak menyusuri satu persatu status serta komentar-komentar dalam fotonya. Sedetik kemudian, ia membanting ponsel itu keras. Ekspresi wajahnya menunjukkan kekesalan yang kini berada di puncaknya. Bukan hanya kesal, tapi juga takut. Apalagi setelah menyaksikan kejadian mengerikan itu.


Pria di sampingnya mendengus.
“Kau tahu, aku sudah bosan bolak-balik ke toko untuk membali ponselmu.”

Pemuda itu tidak menjawab, ia lebih memilih menggerutu sendiri daripada berdebat dengan kekasihnya itu.

“Omong-omong, apa yang membuatmu membanting ponsel lagi?” tanya si pria.


“Katanya, aku ini tidak cocok untukmu. Orang sepertiku harusnya mati saja,” ucapnya setengah berbohong.


Mendengar penuturan pemuda itu, si pria merengkuh tubuh yang masih berselimutkan mantel panjangnya.
“Sepertinya kebahagiaan kita masih harus tertunda, ya? Para Netizen belum memberi kita restu.” Pria itu kemudian menciumi seluruh wajah pemuda dalam dekapan.
“Ayo, kita lanjutkan ronde kedua yang sempat tertunda,” bisiknya. Lonceng kematian imajiner menggema dalam benak sang submissive.

Yah, mungkin kekasih mafianya ini tidak perlu tahu mengenai fakta bahwa yang membuatnya membanting ponsel kali ini adalah akun dari seseorang yang seharusnya telah terjun ke trotoar dari lantai lima kembali mengomentari statusnya di salah satu media sosial.



End


Storyboard:

Scene.

Ide : seorang pria dan pemuda berniat menghabiskan malam bersama di gudang penuh lumut sembari menunggu suasana aman.

Konflik : si pelaku teror menemukan gudang tempat mereka bersembunyi.
Sequel.

Reaksi : keduanya berpikir, bagaimana cara mereka kabur?

Dilema: apakah mereka harus tetap di tempat dan berdoa tak ada yang mengenalimu, atau menerobos jendela yang letakknya dipaling atas.

Keputusan: pria itu memutuskan untuk menerobos jendela.

uchihayuuki99

SeSum - Selasa MesumCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang