Urusan Perasaan

1.4K 130 3
                                        

Jaden tidak menghabiskan waktu yang lama di rumah sakit, bahkan sebenarnya ia sudah ingin langsung pulang setelah selesai diperiksa dan diobati. Namun, dokter membujuknya untuk menetap setidaknya satu malam agar tim medis dapat memantau dan memastikan kondisinya. Selain itu, ia juga diberikan sebuah janji oleh sahabat-sahabatnya. Raph akan menginap untuk menemani Jaden selama masa pemulihan di rumah, sementara Aleesna, Emy, dan Kell akan datang menjenguknya setiap hari. Akhirnya Jaden diperbolehkan pulang pada Senin pagi.

Pada sore harinya sepulang dari kampus, Raph langsung datang ke rumah Jaden untuk menginap. Ia sudah membawa pakaian ganti dan perlengkapan pribadi. Setibanya di kamar Jaden, ia sudah sibuk menyusun barang-barangnya di lemari pakaian. "Terima kasih sudah mengosongkan sebagian lemari pakaian untukku," ujar Raph.

"Tidak masalah, bahkan awalnya ibu mau membawakan lemari lain khusus untuk barang-barangmu. Seolah aku sedang akan berbagi kamar dengan adikku," jawab Jaden, "meskipun memang benar begitu sih untuk beberapa hari ke depan," sambungnya diikuti tawa kecil.

"Hahaha, terakhir kali kita bicara soal persaudaraan, aku adalah kakaknya. Ya, tapi kau memang tumbuh lebih besar daripada aku," balas Raph.

Ketukan pintu terdengar beberapa kali dan menjeda obrolan ringan itu. Nyonya Andreas datang dengan membawa sebuah nampan yang penuh. Jaden mendekat dan mengambil bawaan itu dari tangan ibunya.

"Raph sayang, maaf jadi merepotkanmu," ujar Ny. Andreas sembari memeluk Raph.

"Mana mungkin ini merepotkan, aku sangat senang bisa menginap lagi setelah sekian lama," jawab Raph.

"Silakan makan ya, Raph. Jaden tadi sudah makan, sekarang dia hanya perlu minum obatnya. Tolong Bibi untuk mengawasinya, ya. Dia sedikit nakal," titip Ny. Andreas kepada Raph.

"Dia masih saja nakal ya, Bibi," balas Raph kemudian tertawa bersama dengan ibunya Jaden.

Lelaki yang dibercandakan itu menatap Ibu dan sahabatnya dengan datar. Namun, ia teringat untuk bertanya sesuatu. "Ah, Ibu, apa teman-teman sudah datang? Ya ... Aleesna mungkin."

"Belum, jika sudah ada tentu Ibu membawa mereka ke sini," jawab Ny. Andreas.

Jaden mengembuskan napas pelan. "Baiklah, beritahu jika Aleesna sudah datang ya, Bu," pinta Jaden.

"Iya, jika teman-temanmu sudah datang, Ibu akan beritahu padamu, ya." Nyonya Andreas mengusap-usap pipi Jaden, lalu pergi meninggalkan kamar.

Jaden hendak meletakkan nampan di meja kecil kamarnya, tetapi ia tersadar bahwa Raph menatapnya dengan serius. Pergerakan Jaden terhenti dan jadi mematung. "Ada apa?" tanyanya.

"Emy, Kell, atau mungkin arwah Shavero, aku tidak dengar kau menyebut nama mereka," protes Raph.

"Kan aku sudah sebut 'teman-teman'." Jaden membela diri. Ia lalu meneruskan niat awalnya.

Raph mengikuti Jaden ke meja dan duduk di sebelahnya. "Jadi Aleesna tidak terwakilkan dengan teman-teman, ya?"

"Ya, karena justru Aleesna yang mewakilkan teman-teman. Seperti Raph c.s., kau mewakilkan kami dengan namamu," kilah Jaden sembari menggeser makanan ke hadapan Raph.

Senyum Raph mengembang melihat hidangan hangat yang menebarkan aroma menggiurkan. Ia sepakat begitu saja dengan jawaban Jaden dan sudah fokus menyantap makanannya.

***


Aleesna, Emy, dan Kell sudah hadir dan bergabung bersama dengan Jaden dan Raph. Obrolan dibuka dengan membahas perkembangan kondisi Jaden. Selanjutnya, mereka sibuk membicarakan perkuliahan di hari tersebut serta gosip-gosip yang muncul setelah insiden Jaden di Gedung Bakat.

E37BTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang