Teror (2)

1.4K 141 1
                                        

Waktu-waktu telah berlalu, Jaden pun sepenuhnya pulih. Setelah kejadian yang melibatkan Jaden di Gedung Bakat, sepertinya tidak akan ada yang berani berurusan dengannya. Terbukti bahwa cerita ketangguhan Jaden bukan isapan jempol belaka. Para mahasiswa menjadi semakin ramah, sementara mahasiswi tentu kian tergila-gila pada Jaden.

Penolakan Ny. Sofie untuk penjagaan oleh anggota kepolisian membuat Tn. Andreas mengambil langkah lain. Tuan Andreas mengirimkan sejumlah anggota kepolisian dengan alasan keamanan untuk putranya. Padahal, Tn. Andreas meminta anggota-anggotanya itu untuk mengawasi jika ada pergerakan mencurigakan yang mungkin akan berujung teror. Ia sengaja menggunakan dalih pengawalan untuk membuat musuh tidak terlalu berhati-hati sehingga mungkin ada jejak yang terlacak.

Selama di kampus, anggota kepolisian itu berjalan mengikuti setiap langkah Jaden untuk lebih mendalami rencana. Kelompok pengawal dari kepolisian itu akan berjaga di luar ketika Jaden mengikuti pembelajaran di kelas. Sebagian tetap di dekat kelas, sebagiannya lagi menyebar di lingkungan kampus.

Namun, itu tidak bertahan lama. Setelah seminggu berlalu, pengawalan tersebut dihentikan. Jaden meyakinkan sang ayah bahwa ia dan teman-temannya yang akan mengawasi tindakan-tindakan tidak wajar di kampusnya. Tuan Andreas pun sepakat dengan penawaran yang diberikan oleh putranya.

Pagi itu, Jaden baru datang mendekati waktu kelas pertama dimulai. Emy melongok sekilas ke arah luar kelas dan tidak melihat anggota kepolisian seperti kemarin.

"Hei, kau sudah tidak jadi pemandu wisata ya, Jaden?" gurau Emy memancing tawa mahasiswa di kelas.

"Kau ini asal bicara, ya," balas Jaden seraya duduk di kursinya.

Tak lama kemudian, Tuan Fred dan beberapa staf masuk ke dalam kelas. Suasana seketika menjadi hening.

"Anak-Anak, aku mohon untuk duduk di tempat masing-masing," ujar Tuan Fred.

Tepat setelah para mahasiswa menempati posisi mereka, seseorang bertubuh tinggi besar berjalan masuk. Ia berdiri tegap beberapa langkah di sebelah kanan Tuan Fred. Pria itu diikuti oleh dua orang anggota kepolisian.

"Ayah?" Sebuah suara terdengar pelan di antara sunyinya kelas. Pria yang dipanggil ayah oleh Jaden itu tersenyum dan memberikan sedikit lambaian tangan ke sumber suara. Jaden membalas lambaian itu masih dengan tatapan bingung.

"Hari ini Tuan Andreas dan timnya akan melakukan pemeriksaan terhadap semua mahasiswa di kampus. Khusus kelas ini, Tuan Andreas akan mengawasi pemeriksaannya secara langsung," papar Tuan Fred.

Pemeriksaan berlangsung sekitar satu setengah jam. Dari semua orang yang ada di kelas, hanya Jaden saja yang tidak diperiksa. Jaden mulai berpikir bahwa ini masih berkaitan dengan kasus penyerangannya.

"Ayah, pemeriksaan apa ini?" Jaden menghampiri ayahnya yang hendak keluar dari kelas. Tuan Andreas lantas merangkul putranya itu keluar dari kelas bersamanya. Mereka berjalan sedikit menjauh dari pintu. Kini ayah dan anak itu berhadapan.

"Apakah ada sesuatu? Apa ini tentang penyeranganku kemarin? Karena jika ini hanya pengawasan, kurasa kita sudah sepakat untuk menyerahkan tugas itu kepadaku dan teman-teman." Jaden menyinggung soal keputusan yang sudah mereka sepakati.

"Ini di luar kesepakan kita, Jaden. Benar, ini tentang penyeranganmu di Gedung Bakat. Kemarin malam, orang yang menyerangmu sudah bisa keluar dari rumah sakit. Pelakunya sudah memberi keterangan. Ia menyampaikan bahwa ada warga kampus yang terlibat."

E37BTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang