Pencarian Jawaban

1.2K 123 2
                                        

Kematian Emy menyisakan luka yang mendalam. Terlebih bagi Aleesna dan Kell karena mereka adalah orang-orang terakhir yang bersama Emy sebelum kematiannya. Kesaksian kedua orang itu sangat penting dan bisa membahayakan jika jatuh ke tangan pihak yang salah. Saat ini, Aleesna dan Kell tengah berada di rumah Jaden. Tuan Andreas hendak mendengar kesaksian yang asli. Demi menjaga perasaan dua orang yang baru ditinggal pergi sahabatnya itu, Tuan Andreas mengajak mereka untuk mengobrol dengan santai.

Setelah dua jam berlalu, Tuan dan Nyonya Andreas beserta Aleesna dan Kell keluar dari ruangan secara bergantian. Jaden yang menunggu di depan ruang kerja ayahnya itu pun menyambut keempat orang tersebut.

"Bagaimana, Ayah?" tanya Jaden yang penasaran langsung menghampiri Tuan Andreas.

"Kesimpulannya, mereka tidak merasakan hal-hal aneh atau menemukan sesuatu yang bisa memudahkan penyelidikan," jelas Tn. Andreas mengungkapkan fakta yang sedikit mengecewakan.

"Huft ... sekarang bagaimana?" Jaden mulai putus asa.

"Kita harus datang ke rumah Erick. Kell dan Aleesna bertemu dengannya ketika hendak pulang malam itu. Bisa saja Erick melihat pelakunya atau ia menemukan sesuatu yang terlepas dari perhatian Kell dan Aleesna," jelas Tn. Andreas lagi.

"Oh, baiklah, ayo kita pergi sekarang."

Tn. Andreas, Jaden, Kell dan Aleesna segera menuju ke rumah Erick. Dengan Aleesna sebagai penunjuk jalan, perjalanan mereka tidak memakan waktu yang lama.

Tn. Andreas memarkir kendaraannya di depan pagar kayu setinggi pinggang yang mengelilingi rumah Erick. Mereka turun dari mobil dan berjalan ke pintu. Aleesna menekan bel. Tak lama, gagang pintu bergerak. Ketika pintu terbuka, terlihat pria berambut pirang berdiri di baliknya. Merasa sangat mengenal tamunya, ia segera mempersilakan mereka masuk.

Jaden, Kell, dan Aleesna memilih duduk di satu sofa panjang berwarna hijau. Sedangkan Tn. Andreas tampak nyaman menduduki sofa tunggal yang berwarna senada. Nyonya Carla yang merupakan ibu dari Erick tampak bergabung bersama mereka.

"Maaf karena tidak dapat memberikan penyambutan yang baik untukmu, Tuan Andreas. Apa ada yang bisa kami bantu?" Ny. Carla memulai percakapan. Ia cukup terkejut karena orang penting itu berkunjung ke rumahnya.

"Tidak perlu repot, Nyonya. Kau tidak perlu melihat jabatanku. Lihat aku sebagai orang tuanya Jaden, teman putramu," balas Tn. Andreas. "Sebelumnya pasti Nyonya sudah mengetahui kejadian yang menimpa Emy Violet," ujar Tn. Andreas sebagai permulaan.

"Ya, aku pun turut berduka atas kejadian itu."

"Jadi begini, Nyonya. Kami hanya ingin meminta keterangan dari Erick. Karena menurut kesaksian yang lain, Erick juga ada di sekitar tempat kejadian pada malam itu."

Ny. Carla menoleh ke arah putranya yang baru saja kembali dari dapur dengan membawa beberapa gelas teh hangat. "Erick, jelaskan semua yang kau tau dan yang kau lakukan di gedung itu pada malam kematian Emy, ya," ujar Ibunya dengan lembut.

Erick meletakkan teh-teh hangat itu di meja. Ia mengangguk dan mulai bercerita, "Begini, Tuan Andreas. Aku datang cukup larut malam itu. Saat aku tiba, kalau tidak salah sudah pukul sebelas atau mungkin sudah hampir setengah dua belas malam. Alasanku datang selarut itu karena sebelumnya lebih dulu mencari informasi mengenai keberadaan Aleesna. Hingga akhirnya aku tau bahwa Aleesna ada di Gedung Bakat. Aku pun segera menuju ke sana. Saat aku tiba, hanya ada dua buah kendaraan yang terparkir, satu mobil dan satu motor. Aku sudah tidak asing dengan mobilnya, jelas sekali itu mobil Kell.

"Aku semakin yakin jika Aleesna ada di sana. Aku memarkir kendaraanku dan masuk. Aku kira Aleesna ada di ruang tari, jadi aku segera menuju ke sana. Begitu sampai, ternyata tidak ada orang. Aku memutuskan untuk pulang dan berencana menemui Aleesna di kampus saja. Aku pikir akan sulit mencari orang di gedung yang sudah sepi. Namun, aku lebih dulu pergi ke toilet yang ada di sebelah ruang tari.

E37BTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang