Kell dan Raph yang sudah sedikit maju beberapa meter kompak berhenti berlari. Mereka menoleh ke belakang. Aleesna dan Jaden tidak ada bagai hilang ditelan malam. Hanya ada siluet anak buah Ny. Sofie yang mendekat dengan langkah cepat.
"Raph, mereka ...," bisik Kell panik.
"Lari!" seru Raph.
Saat mereka berbalik untuk lari lagi, mereka merasakan tarikan kuat dan cepat di bahu mereka. Dalam sepersekian detik, keduanya terseret ke balik semak dan pondok yang gelap.
Raph c.s. kini meringkuk di balik bayangan dengan jantung berdebar kencang. Raph hendak berteriak, tetapi sebuah tangan membekap mulutnya dengan cepat, sementara tangan yang lain menahan kepala Kell agar tetap menunduk.
Erick.
Lelaki yang menyembunyikan mereka berempat dalam bayangan yang nyaris tak terlihat. Ia memberi isyarat agar mereka diam.
Anak buah Ny. Sofie tiba di titik terakhir mereka melihat target. Mereka menoleh ke segala arah dengan senter yang menyapu nisan.
"Tidak ada. Mereka secepat hantu," kata salah satu pria.
"Mungkin mereka hanya remaja iseng," timpal yang lain. "Ayo kita kembali, kita harus mengambil tanah. Bos pasti sudah menunggu."
Setelah langkah mereka menjauh, Erick melepaskan bekapan tangannya dari Raph. Mereka menyalakan senter dan mengarahkannya tidak terlalu tinggi agar tidak sampai terlihat dan menarik perhatian rombongan Nyonya Sofie. Raph terengah-engah, menatap Erick dengan mata lebar.
"Perlu bantuan?" tanya Erick pelan, suaranya nyaris berbisik.
Raph, yang baru saja diselamatkan dari situasi yang sangat berbahaya oleh orang yang paling ia curigai, hanya bisa menatap. Matanya kini tidak lagi sinis, melainkan dipenuhi rasa syok dan berutang budi.
Mereka semua berdiri.
"Mengapa kau ada di sini, Erick?" tanya Aleesna.
"Aku memang selalu kemari setiap hari. Mengunjungi makam ayahku di ujung sebelah sana. Aku sering datang pada malam hari, jadi aku tau di mana tempat tergelap di sini," papar Erick.
"Terima kasih," ujar Raph dengan tulus.
"Ya, terima kasih banyak sudah menyelamatkan kami, Erick," timpal Jaden, ditambah anggukan penuh rasa syukur oleh Aleesna dan Kell.
Erick mengangguk. "Tidak masalah. Ayo kita keluar. Aku tau jalan lain selain gerbang depan," ajak Erick dan langsung memimpin di depan.
"Bagaimana kau bisa tepat menyelamatkan kami di sini Erick?" tanya Jaden dari baris belakang.
"Itu kehendak Tuhan. Kalian kebetulan berlari ke arah yang tepat menuju kegelapan," jawab Erick. "Aku sebenarnya sudah melihat sejak awal kalian datang. Sibuk menggali makam, ya?" ledek Erick kemudian.
Mereka sudah menepi ke samping pemakaman. Jalanan pun lebih luas dan kelimanya dapat berjejer dalam satu baris.
"Kami menemukan kotak permen Shavero di dekat Nyonya Sofie. Raph curiga itu adalah kotak permen dari dalam peti mati Shavero," jelas Jaden.
Erick mengerutkan dahinya. "Sepertinya kalian lupa. Ia adalah donatur terbesar. Kekayaannya saja bisa sampai menguasai yayasan. Apa perlu sampai menggali makam hanya untuk sekotak permen? Dia mampu membeli sekaligus dengan pabriknya."
Raph tertawa kecil. "Masalahnya aku juga melihat hantu Shavero."
Keterangan tambahan itu membuat Erick tertawa geli. "Hantu Shavero? Baik sekali dia datang membawakan permen. Kalau begitu, mengapa Shavero tidak mendatangi kalian saja? Kalian kan sahabatnya."
KAMU SEDANG MEMBACA
E37B
Mystery / ThrillerRencana penggusuran gedung Universitas Kaciles menjadi awal dari rentetan peristiwa pahit yang menghantui seisi kampus. Erick Bastian, mahasiswa paling berprestasi pemilik kursi E37B, disebut-sebut sebagai dalang di balik pembunuhan yang terjadi di...
