Pemandangan ini benar-benar tak pantas untuk dilihat secara langsung. Darah berceceran bahkan menggenang di sepanjang lorong yang dilewati Raph. Entah siapa yang kehilangan darah sebanyak ini. Raph menutup hidungnya untuk menghindari bau amis yang begitu tajam. Rasanya ia ingin muntah sekarang juga. Namun, tidak ada waktu untuk itu. Ia harus menemukan keberadaan Erick. Setidaknya itu harapan Raph untuk bertemu dengan Jaden.
Temukan di mana Erick, aku akan ada di sana
Itu yang terakhir didengar Raph sebelum akhirnya ia dan Jaden berpencar. Raph menarik napas dalam, tentu dengan terlebih dahulu mencari udara bersih untuk dihirup. Ia mengepalkan tangannya, melangkah menyusuri lorong yang menyeramkan itu. Namun, sekuat apa pun motivasinya, Raph tetap tidak tahan dengan kondisi lorong yang demikian buruk. Raph buru-buru bergerak dan mencari lorong yang bersih, aman, dan nyaman untuk dilalui. Tanpa sadar Raph menemukan jalan yang bersih total. Bahkan sudah beberapa kali berbelok, area itu baik-baik saja seperti Gedung Bakat yang Raph tau.
Raph bersyukur dan mengambil napas dengan semangat. Setelah tengok kanan kiri, Raph tersadar bahwa saat ini ia ada di rute yang biasa dilaluinya jika ingin ke ruang tari. Itu membuat Raph teringat akan sahabat-sahabatnya. Bayangan wajah mereka melintas satu per satu. Air mata Raph mulai menetes. Bukan, bukan karena ia takut. Ia justru begitu geram. Mengapa ini semua harus terjadi dan merusak indahnya persahabatan mereka?
Raph mengusap air matanya, ia meneriakkan tekadnya, ia harus kuat. "Aku kuat! Aku pasti bisa! Ini demi sahabat-sahabatku!" ujar Rapholen dengan tegas kepada dirinya sendiri.
Di tengah tekadnya yang menggebu-gebu, tiba-tiba sesuatu menghentikan langkah Rapholen. Telinga Raph menangkap suara meski hanya terdengar sayup-sayup. Kedengarannya seperti orang yang tengah berdebat. Perlahan ia meraih pistol yang sebelumnya menggantung di pinggangnya. Ia berjalan mengendap-endap dengan tangan sudah siap memegang senjata. Suara yang samar itu menuntunnya ke ruang tari. Rapholen mengintip ke dalam ruangan melalui kaca kecil pada pintu.
Mata Raph langsung tertuju pada kedua sahabatnya. "Erick? Jaden?"
Jantung Raph berdebar tak karuan menyaksikan Jaden berdiri di tengah todongan senjata para pasukan berpakaian hitam. Menurut tebakan Raph, Erick tengah bernegosiasi dengan seorang pria yang menodong Jaden dari sebelah kiri. Dikarenakan sedang beradu mulut dengan Erick, pria dengan pakaian paling rapi itu jadi membelakangi pintu. Raph yakin pasti lelaki itu adalah bos dari Pasukan Hitam. Sayang sekali ia tidak dapat melihatnya.
"Siapa itu? Dilihat dari pakaiannya, pasti dia bosnya. Dia menodong Jaden bersama anak-anak buahnya. Kalau seperti ini, apa yang harus kulakukan?" Raph mulai panik sendiri.
Seperti tebakan Raph, di dalam ruangan Erick memang sedang bernegosiasi dengan Shavero agar tidak menyakiti Jaden. Sebenarnya Shavero tidak keberatan asalkan Erick dan Jaden mau bergabung dengannya.
"Terima tawaranku, mudah saja, kan?" desak Shavero.
"Tembak saja aku," ujar Jaden mengisyaratkan bahwa ia tidak setuju.
"Tidak, tidak, tidak." Erick maju menggenggam pistol yang Shavero tempelkan ke pelipis Jaden. "Kau sahabatnya Jaden, Shav, kau tau dia sangat berani, tapi kau tidak akan diuntungkan dengan membunuhnya."
"Aku juga tidak akan untung jika membiarkan kalian hidup tanpa bergabung denganku," balas Shavero.
"Jika kau yakin aku bisa menasihatimu untuk menguasai dunia, cobalah terima nasihatku untuk tenang sekarang."
"Sejujurnya kau memang bisa menasihatiku untuk tenang. Itu sebabnya aku takut terhasut olehmu. Kita selesaikan ini," ujar Shavero.
Regu Shavero langsung bersiap menembak. Namun, Raph menyeruduk masuk dan menggagalkan keputusan Shavero.
KAMU SEDANG MEMBACA
E37B
Mystery / ThrillerRencana penggusuran gedung Universitas Kaciles menjadi awal dari rentetan peristiwa pahit yang menghantui seisi kampus. Erick Bastian, mahasiswa paling berprestasi pemilik kursi E37B, disebut-sebut sebagai dalang di balik pembunuhan yang terjadi di...
