Bara 2 - Kesederhanaan

432 76 51
                                        

Bara

Dari kecil, gue selalu diajarkan untuk perduli terhadap hal-hal sederhana

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Dari kecil, gue selalu diajarkan untuk perduli terhadap hal-hal sederhana. Entah itu seperti kakek si penjual es potong yang tiap sore lewat depan rumah gue dulu, anak muda yang membantu seorang nenek meyeberang jalan, atau bahkan terkadang gue suka mengamati Bi Minah-pembantu di rumah gue- yang sedang mencuci baju atau menyiram tanaman di halaman rumah.

Itu semua gak penting. Jelas. Tapi nyokap gue selalu bilang kalau suatu saat nanti sesuatu yang kita anggap gak penting itu bakal berubah menjadi sesuatu yang kita butuhkan.

Manusia itu makhluk sosial. Makhluk yang gak bisa hidup tanpa eksistensi orang lain. Kadang dari hidup orang lain kita bisa mengambil pelajaran. Pelajaran yang berguna untuk dipakai di masa depan nanti. Pelajaran yang gak kita pelajari di masa sekolah.

Gue kira hanya gue yang senang memerhatikan hal-hal kecil yang bagi orang lain adalah hal yang gak penting dan hanya membuang-buang waktu kalau mengamatinya. Tapi begitu gue kenal sosok Naina Syarmila gue tau kalau gue gak sendirian. Bukan hanya gue yang senang memerhatikan hal-hal kecil itu.

"Harga gulalinya cuma seribu, si Bapak dapet untung berapa ya, Bar? Terus kalau dagangannya gak abis rugi dong dia?"

Itu pertanyaan saat kita berdua baru pulang dari acara pernikahan rekan bisnis papanya dan berniat buat mampir sebentar di sebuah warung kopi karena hujan yang tiba-tiba mengguyur Bandung padahal sebelumnya cuacanya terang benderang.

Saat itu ada bapak-bapak tua yang berjualan gulali. Gulali yang ada kerupuknya dan diisi sama gula yang sering disebut rambut nenek. Naina memberhentikan si penjual gulali itu karena katanya dia kangen berat sama jajanan jaman SD itu, jadi dia memutuskan untuk membelinya sebanyak sepuluh buah.

"Tadinya aku mau beli dua puluh ribu tuh biar dagangannya cepet abis terus dia dapet untung, tapi aku takut sakit gigi hehehe."

Salah satu yang menjadi favorit gue dari seorang Naina Syarmila adalah caranya tertawa. Entah itu hanya kekehan kecil atau tawa meledak-ledak saat ngeliat meme atau video lucu yang gue kirimin tiap dia lagi bete.

"Kan aku bantuin," kata gue sambil meraih satu gulali dari kantung plastik putih yang ada di pangkuannya.

"Aku kira kamu gak suka. Abis selama ini kamu selalu menghindari makanan yang manis-manis. Pake sok-sokan bilang takut diabetes segala."

Satu lagi yang menjadi favorit gue dari Naina Syarmila, cara dia berbicara saat keadaan mulutnya penuh. Kalau kebanyakan cewek bakal bersikap anggun dan manis di depan pacarnya, Naina gak pernah kayak gitu. Dia bakal dengan santainya sendawa atau kentut di depan gue tanpa merasa malu. Dan gue sendiri pun gak pernah merasa terganggu dengan hal itu.

Gue sayang dia. Gue menerima segala baik-buruknya dia seperti apa yang dia lakuin.

Karena saat lo jatuh cinta lo bukan hanya berkewajiban untuk memberi, tapi juga menerima. Menerima segala cacat dan ketidak sempurnaan orang yang lo cinta itu.

Tacenda [Republish]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang