Keanu 4 - Kehilangan

267 51 10
                                        

MULMED: Samar - Fiersa Besari
#Kplaylist1

***

Keanu

Dulu saat gue kecil, gue senang mendengar cerita temen-temen gue tentang betapa hebatnya ayah-ayah mereka

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Dulu saat gue kecil, gue senang mendengar cerita temen-temen gue tentang betapa hebatnya ayah-ayah mereka. Ada yang bercerita mendapat mainan baru dari ayahnya, ada yang diajak liburan setiap akhir pekan, atau sekedar bermain bola bersama setiap hari Minggu.

Gue hanya bisa duduk diam sambil mendengarkan. Gue emang senang dengar mereka semua cerita dengan raut wajah yang begitu antusias, tapi gue pun gak bisa menampik kalau saat itu gue merasa iri luar biasa.

Karena sejak umur gue delapan tahun, gue telah kehilangan figur seorang ayah.

Dan selama delapan tahun gue hidup saat itu, hanya sedikit waktu yang gue lewati bersama beliau.

Dia selalu pulang setiap gue udah terlelap, dan ketika gue bangun gue gak menemukan sosoknya karena udah pergi lagi.

Keanu kecil selalu bertanya-tanya pada ibunya kapan ayah akan pulang. Dan jawaban yang ia dapati selalu sama,

"Sabar ya, ayah lagi sibuk, jam terbangnya padat."

Iya, ayah gue pilot dengan jam terbang yang tinggi. Keren 'kan? Seharusnya gue bangga dengan pekerjaan ayah gue. Seharusnya gue bisa ikut menceritakan betapa hebatnya ayah gue pada temen-temen gue karena ayah gue gak kalah hebatnya dari ayah-ayah mereka.

Tapi saat itu Keanu kecil memilih bungkam karena dia gak tahu ingin bercerita soal apa.

Ayah gue pilot, bener. Tapi dia gak pernah cerita barang sedikitpun tentang pekerjaanya itu. Kenapa dia bisa jadi pilot, gimana perasaan dia setiap kali mengendalikan pesawat, kota atau negara mana aja yang pernah dia kunjungi. Gue gak tahu. Karena dia gak pernah memberi tahu.

Tapi bukan berarti dengan begitu gue membencinya, justru gue sayang banget sama dia. Saat itu gue hanya merasa sedikit... Kecewa. Kecewa karena dia gak bisa memberi waktunya lebih banyak lagi untuk gue. Kecewa karena gue gak bisa mendapatkan kasih sayang seorang ayah sebesar yang teman-teman gue dapatkan.

Dari kecil gue lebih suka memendam
semua perasaan gue sendirian. Gue gak pernah cerita kalau gue sedih. Gue gak pernah mengatakan pada siapapun kalau gue kangen ayah. Bertanya kabar beliau pun ya cuma sekedar bertanya, tanpa ngucapin kata rindu sama sekali.

Karena gue terlalu takut membebani orang lain saat gue bercerita.

Gue takut ayah gak fokus bekerja setelah tau anaknya kangen banget sama dia. Gue takut menambah beban pikiran ibu kalau gue rewel karena pengen ketemu ayah.

Gue gak mau menjadi beban untuk orang lain.

Karena gue inget banget dulu, saat perayaan ulang tahun gue yang ketujuh selesai dan gue sedang duduk berdua dengan ayah di ayunan yang berada di belakang rumah, ayah mengatakan sesuatu yang sangat membekas sampai sekarang.

Tacenda [Republish]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang