Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ada masa dimana lo berpikir, menyimpan semua yang lo rasain sendiri lebih baik ketimbang menceritakannya pada orang lain.
Bukan berarti lo gak percaya sama orang tersebut, tapi lo merasa kalau itu percuma. Mereka gak akan pernah ngerti sama yang lo rasain karena mereka cuma mau tau, bukan peduli.
Jujur aja gue gak suka ditanyain: Lo kenapa? Ada masalah? Mau cerita?
Dan ketika gue cerita, tanggapan mereka cuma: Sabar ya.
Gue gak suka yang kayak gitu. Terkesan basa-basi padahal cuma mau tau bukannya bener-bener peduli.
Bukannya gue ngemis minta dipeduliin tapi ya muak aja sama orang yang modelannya begitu. Apa sih untungnya mereka tau masalah kita? Biar bisa diumbar? Basi banget, Jing.
Gue gak suka sama orang yang sok bersimpati kayak gitu. Bodoamat gue dibilang gak bersyukur karena menyia-nyiakan orang yang-katanya-peduli sama gue karena kenyataannya gue gak menyia-menyiakan apapun-atau lebih tepatnya siapapun. Justru mereka yang menyia-nyiakan waktu mereka buat sekedar berbasa-basi menanyakan keadaan gue.
Mungkin alasan itu lah yang membuat gue dekat dengan makhluk-makhluk ajaib yang sekarang tinggal satu rumah sama gue ini.
Kita tinggal bareng-bareng bukan sekedar tidur-makan-main bareng. Kita merasa punya kesamaan dalam bentuk yang beragam.
Setiap ngeliat Adriel gue berasa ngaca. Apa yang dia alamin sama persis dengan apa yang gue alamin. Kita berdua sama-sama dianggap gak berguna sama orangtua kita sendiri. Kita berdua sama-sama kehilangan perempuan yang berarti buat hidup kita-bedanya dia cuma kehilangan ibunya, sedangkan gue juga kehilangan adik yang gue sayangi lebih dari rasa sayang gue sama diri gue sendiri.
Dan kalau lo lupa, kita berdua sama-sama brengsek. Therealdefinitionofbastard.
Jujur aja selama gue tinggal bareng mereka, gak pernah sekalipun gue ditanyain pertanyaan; Kenapa? Ada masalah?
Bukannya mereka gak peduli. Mereka peduli, tapi caranya berbeda.
"Yaelah kusut amat tuh muka kayak belom dapet jatah?" itu kata Adriel saat dia berhasil mergokin gue ngehabisin dua bungkus rokok di balkon kamar karena lagi frustasinya mikirin Kayla.
"Kenapa sih lo bengong mulu? Banyak pikiran? Kayak punya otak aja," kalau ini lo semua pasti tau siapa yang ngomong. Ya siapa lagi manusia dengan mulut pedasnya yang setara dengan bon cabe kalau bukan Darel Azio Farjana.
Masih banyak lagi sebenernya. Mereka tuh nunjukin kepedulian mereka lewat aksi dan cibiran-cibiran yang mungkin bagi orang lain bikin sakit hati tapi enggak bagi gue.
Sebangsat-bangsatnya mereka, gue bersyukur banget bisa kenal sama mereka.
Dulu waktu Lizzy masih ada, gue pernah nemenin dia les ballet sampe hampir larut malam. Sebenernya lesnya udah selesai dari jam tujuh, tapi dia bersikeras untuk tetap di sana hanya karena mau ngajarin temennya yang masih belum hafal gerakan tari.