Pasti kalian punya tempat-tempat special yang sering kalian kunjungi dengan orang yang special pula 'kan? Saat kalian mengunjungi atau sekedar melewati tempat itu tanpa ditemani dengan orang tersebut rasanya seperti ada yang berbeda.
Itu yang gue rasain saat ini.
Dulu, jauh sebelum keadaannya berantakan kayak sekarang, gue dan Qiana punya tempat special yang sering kita kunjungi setiap ada libur panjang.
Jogjakarta.
Iya, walaupun gak semenarik Bali atau Lombok, gue dan Qiana tetap menjadikan tempat itu sebagai destinasi wajib yang harus dikunjungi saat liburan. Menurutnya, Jogja adalah tempat yang klasik tapi romantis. Daripada naik pesawat atau kereta, gue sama dia lebih suka road trip. Gue sama sekali gak merasa keberatan badan pegel-pegel karena terlalu lama nyetir asalkan dia ada di samping gue.
Ini udah yang kedua kalinya dalam sebulan gue berkunjung ke kota ini. Hanya seorang diri. Tanpa sosok Fadella Trisha Qiana.
Dan rasanya hampa.
Kalau dulu gue ke angkringan ditemani Qiana karena dia suka banget sama kopi yang di jual di sana, sekarang gue malah menikmati kopi itu bersama semilir angin malam Jogja.
"Masnya sendirian aja? Si mbak cantik kemana, Mas?"
Gue sedikit tersentak begitu mendengar suara si bapak penjual kopi yang emang udah akrab banget sama gue karena saking seringnya gue ke sini. Gue hanya membalas pertanyaannya dengan senyum simpul karena gak tau mau jawab apa. Rasanya terlalu berat untuk mengatakan kalau gue dan Qiana udah selesai.
Ponsel yang gue letakkan di atas meja beegetar. Ternyata ada telepon masuk via LINE dari Si Pecundang Abadi, Alchandra Leonardy.
"Apa?" kata gue setelah menempelkan ponsel pada telinga kiri gue.
"Buset, buset galak banget?"
Gue menghela nafas lelah. Gak Bara, gak Leo, atau pun penghuni kontrakan lainnya kayaknya hobi banget bertele-tele dalam menyampaikan suatu hal.
"Buruan, kerjaan gue banyak."
Bohong. Sebenarnya gue gak sedang mengerjakan apapun. Walaupun gue ke Jogja bukan buat liburan melainkan mengontrol rumah sakit kakek gue, tapi saat ini yang gue lakuin malah bersantai sambil mengenang masa lalu.
"Trisha lagi main nih di sini."
"Dimana?"
"Di rumah kita."
Gue terhenyak. Fadella Trisha Qiana mau menginjakkan kakinya di rumah kontrakan yang selama kita putus rumah itu seolah haram buat dia kunjungi atau hanya sekedar melewati? Gue gak percaya.
"Jangan ngasal."
"Siapa yang ngasal? Kalau gak percaya sini pulang."
Dan saat itu gue langsung percaya. Ada perih luar biasa yang menyerang dada gue begitu gue menyadari suatu hal. Bukan rumah itu yang haram buat Qiana, tapi salah satu penghuninya.
Yaitu gue.
Gue yang menjadi alasan kenapa dia gak pernah mau datang ke rumah walaupun dulu dia pernah bilang kalau rumah itu bagaikan rumah keduanya. Gue emang udah bener-bener menjijikan di mata dia.
"Rel, masih hidup 'kan lo?"
"Hm,"
"Bagus deh. Sebenernya ini bukan yang pertama kalinya dia ke sini after... You know lah. Yang kemarin gue lupa bilang hehe."
KAMU SEDANG MEMBACA
Tacenda [Republish]
General Fiction[ON HOLD] (n.) things better left unsaid; matters to be passed over in silence "Not all words should be spoken."
![Tacenda [Republish]](https://img.wattpad.com/cover/90877580-64-k472482.jpg)