Sebelumnya mau kasih tau, bagian yang di italic itu flashback ya. Thank you :)
***
Darel
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kesempatan kedua itu ada kan?
Tuhan aja mau memaafkan hamba-hambaNya dan memberi kesempatan mereka untuk memperbaiki diri, masa kita yang hanya berstatus sebagai manusia biasa gak mengizinkan seseorang untuk mendapat kesempatan kedua?
Berulang kali gue yakinin diri gue sendiri kalau gue gak boleh menyerah sebelum mendapat kesempatan kedua. Tapi setelah dipikir-pikir, gue malah pengen menertawai diri gue sendiri.
Gue gak pantas dapetin itu.
Gue terlalu brengsek. Ah enggak, bahkan brengsek aja gak cukup untuk mendeskripsikan gimana bangsatnya seorang Darel Azio Farjana.
Kalau orang lain menganggap gue sebagai sosok yang mereka idam-idamkan, gue malah menganggap diri gue sendiri sebagai sampah. Gak berguna.
Gue emang bisa menghafal dan mencerna pelajaran dengan mudah. Gue emang bisa bersosialisasi dengan baik dalam sebuah organisasi. Gue emang bisa mengerjakan soal-soal yang kalau kata Bara bisa bikin kepala keluar asap dan berpotensi merontokkan rambut dengan cepat.
Tapi gue gak bisa mendapatkan kesempatan kedua atau sekedar maaf dari Fadella Trisha Qiana.
Ah iya, gak pantas.
Gue cukup tahu diri dan gak mau berharap ataupun minta apa-apa lagi. Selagi gue masih bisa lihat dia walau dari kejauhan, itu udah lebih dari cukup buat gue.
Karena seenggaknya gue cuma kehilangan dia sebagai orang yang mencintai gue dengan sangat-dan dengan gak tahu dirinya gue malah nyakitin dia- bukan sebagai Fadella Trisha Qiana yang gue kenal.
Dia tetap bisa tertawa bareng teman-temannya. Tetap menjadi sosok Trisha yang ramah, supel, dan periang. Tetap menjadi Trisha-nya orang-orang.
Dan tetap gak mau menatap gue ataupun sekedar melirik saat kita berpapasan.
Gue bisa terima itu. Karena gue merasa pantas buat menerima itu atas apa yang udah gue lakuin ke dia.
Gue juga harus belajar memanggilnya dengan sebutan Trisha seperti orang-orang, karena dia bukan lagi Qiana gue. Gak akan pernah kembali jadi Qiananya gue.
Sambil menyesap secangkir espresso dan sibuk dengan laptop gue walau sebenernya gue gak mengerjakan apapun, gue memandang perempuan yang sekarang lagi duduk beberapa meter di depan gue sambil tertawa dengan laki-laki lain yang gue tau jelas itu siapa walaupun hanya dilihat dari arah samping.
Gue gak marah. Gak bisa marah. Karena itu bukan hak gue lagi.
Ujung bibir gue tertarik untuk membetuk sebuah senyum tipis. Rasanya... lega. Saat lo tetap bisa melihat orang yang lo sayang bahagia walaupun bukan karena lo, percaya sama gue, rasanya bakal selega ini.