Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hari ini cuaca lagi gak bersahabat. Dari pagi sampe udah menejelang petang kayak gini, langit masih mendung dan nunjukkin tanda-tanda bakal turun hujan deras.
Setelah hampir tiga jam berada di dalam lab buat praktik yang entah udah keberapa kalinya dalam sebulan ini, gue memutuskan buat mampir ke kantin bentar karena tenggorokan gue rasanya kering banget. Sesampainya di sana gue langsung mengambil sebotol air mineral dari dalam kulkas kemudian memberi beberapa nominal uang pada si penjual.
Pandangan gue menangkap sesosok cewek berambut cokelat panjang sepunggung dengan masker yang menutpi bagian mulut dan hidungnya. Dia berdiri gak jauh dari tempat gue sekarang, pandangannya fokus pada layar ponsel yang ada di genggamannya.
Kaki gue melangkah mendekati cewek itu dan saat gue berdiri tepat di hadapannya, kepalanya menengadah dan menatap gue.
"Loh? Kak Darel? Kirain siapa ngagetin aja!" dia tertawa kemudian menarik turun maskernya.
"Sendirian?"
"Iya, seperti biasa. Kakak ngapain di sini? Udah jam lima lewat biasanya udah pulang jam segini."
"Baru selesai praktik. Lo juga kenapa belom balik? Udah sore banget."
"Masih nunggu jemputan, niatnya mau beli minum dulu tapi tukang jus nya udah tutup."
Gue menoleh ke arah kedai yang biasanya menjual aneka jus dan minuman-minuman lainnya yang ternyata emang udah tutup.
"Lo balik sama siapa? Leo?"
Ekspresi mukanya langsung berubah setelah gue nanya begitu. Oke... Salah banget kayaknya gue nyebut nama itu orang di saat mungkin mereka berdua lagi gak baik-baik aja sekarang.
"Bukan, Raskal."
Ah... Ternyata tuh anak langkahnya jauh lebih maju ya dibanding Leo yang selama ini cuma bisa jalan di tempat.
"Oh, cepet dia mah pasti. Lo mau gue tungguin atau gue tinggal aja nih?"
"Ih gak usah, Kak. Gak apa-apa kok tinggal aja."
"Haha oke deh. Kalau gitu gue cabut ya?" gue menepuk pelan bahunya kemudian melangkah buat pergi dari tempat ini. Tapi baru beberapa langkah yang gue ambil, suara dia kembali terdengar dan gue sukses dibuat terdiam karena mendengar kalimat yang keluar dari mulutnya.
"Ah iya, Kak. Barusan aku ketemu Trisha. Di depan gedung A sendirian. Kayaknya... Dia nunggu Kakak."
Gue berharap kalau kuping gue gak lagi salag denger waktu. Karena... Seorang Fadella Trisha Qiana bela-belain jalan jauh dari gedung fakultasnya ke gedung fakultas gue? Rasanya gak mungkin. Untuk saat ini. Saat semuanya udah gak lagi sama kayak dulu.