17. Cinta tdk bisa dipaksa

13.7K 1.9K 318
                                        

Tahh kan ngopi lagi, emang dpt uang dari mana dek? Kan blom dpt CD lagi sejak kemarinan? 😂

Jeni POV

"Kamu sama Dimas kenapa Jen? Lagi marahan ya?"

Pertanyaan bunda Dav membuatku tersedak.

Aku menggeleng pelan setelah meneguk es teh manis untuk menetralkan kerongkonganku.

"Terus kenapa gak ngobrol?" Tanyanya lagi, matanya mengamatiku.

Aku tersenyum.

"Di kantor kan udah sering ketemu sama ngobrol bun, kalo tiap saat ngobrol kan bosen" Jawabku cepat.

Mataku melirik ke arah ruang keluarga di mana Dimas, mama dan ayah Bill berada, jarak dari dapur ke ruang keluarga tidak terlalu jauh, sehingga kami bisa melihat ke arah sana dengan jelas.

Bunda Dav berdeham. Aku menoleh ke arahnya yang sedang memotong frozen caramel apple crunch yang tadi aku bawa.

"Bunda seneng lho Jen kamu kembali ke Jakarta, apalagi pas tahu kalau kamu kerja di kantornya Dimas" Bunda Dav mengusap pundakku, aku kembali tersenyum ke arahnya.

"Ihhh... Dimas itu matanya minta di colok kali ya Jen, ngelirik-ngelirik ke sini terus" Lanjutnya lagi.

Aku kembali tersedak. Buru-buru tanganku meraih gelas es tehku yang tersisa setengah dan menegaknya sampai tandas.

Bunda Dav memutar pundakku menghadap dirinya.

"Ceritain ke bunda, apa yang sebenarnya terjadi di antara kalian, bunda juga pernah muda, tatapan mata Dimas itu bunda tahu artinya"

"Tatapan player bun, bunda kan tau mas Dimas gimana" Sahutku, lalu tersenyum tipis dan menyibukkan diri untuk meletakkan cake yang sudah di potong bunda ke atas piring kecil.

Bunda Dav terkikik.

"Gitu ya, tatapan player, kalau yang bunda liat sih tatapan memuja" Katanya, tangannya menjilati jarinya yang terkena cream dari cake yang kembali dipotong olehnya.

Tatapan memuja, sama persis seperti yang Dimas katakan tempo hari kepadaku.

Aku mendengus.

Bagiku itu mah tatapan player pengintai cangcut, batinku.

Aku kembali meletakkan satu slice cake lagi ke atas piring.

"Bun mau tanya, selama kamu berangkat dan pulang kerja bareng Dimas, kamu nemuin sesuatu yang aneh gak di mobilnya Dimas?" Bunda Dav bertanya sambil kembali memotong cake.

"Uhuk... Uhukkk..." Kali ini aku tidak sekedar tersedak.

Bunda Dav mengusap pundakku dan mengangsurkan gelas yang sudah diisikan es teh lagi kepadaku.

"Pelan-pelan, kamu kenapa sih? Bunda kan cuma nanya, dari tadi gelagat kamu itu kaya orang yang ketahuan ngelakuin sesuatu yang iya-iya deh Jen" Katanya lagi.

Aku meringis.

Bunda Dav ini terlalu peka apa terlalu kepo sih?

Mama aja gak sampe segininya.

Aku meletakkan gelas yang setengahnya sudah berpindah ke dalam perutku.

"Nemuin sesuatu yang aneh apa bun? Jeni gak ngerti sama pertanyaannya bunda" Kataku berusaha untuk menampilkan raut wajah polos.

Bunda beringsut mendekat dengan wajah serius.

"Bunda tau, Dimas itu player, bakatnya aja udah keliatan dari dia kecil, yang bunda khawatirkan... Ehem..." Bunda berdeham lalu memotong cake lagi.

Catch YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang