Jeni POV
Aku tersenyum ke arah pria yang berdiri menjulang tidak jauh dari tempatku berada, tanganku melesakkan handphone ke dalam kantung celana jeans ku.
Kulihat wajahnya terlihat sedikit terkejut.
Sosoknya berbeda dari terakhir yang aku lihat, wajah tampannya makin terlihat matang, tubuhnya makin menjulang tinggi dan senyumannya itu, senyuman yang di klaim sebagai senyuman mega watt yang bisa bikin nyetrum kejet-kejet, menghiasi wajahnya yang menatapku lurus.
Aku mengamati sosoknya lagi dengan seksama, sepertinya pria yang berusia 7 tahun di atasku ini sudah berubah. Tampak lebih dewasa dan pembawaannya lebih kalem, tidak seperti waktu 6 tahun yang lalu.
Aku kembali tersenyum, tetapi senyumanku perlahan memudar ketika melihat arah mata Dimas sesaat kemudian.
Matanya melirik perempuan yang berjalan melintas di antara kami, ohh... mungkin hanya sekedar melihat ke arah depan di mana kakinya melangkah menghampiriku.
Atau mungkin takut menginjak orang-orang yang berlalu lalang di antara kami, karena maklum, postur tubuhnya tinggi menjulang, kan indera penglihatan itu mata yang di atas, bukan mata yang di bawah, alias mata kaki.
Aku tidak boleh berburuk sangka terhadapnya.
Sekali lagi matanya melirik perempuan berambut pendek yang melintas dari arah belakangku, hmm... Persepsiku ternyata salah, dia tidak berubah.
Matanya kembali melirik bahkan mengerling genit melirik perempuan yang memakai jaket hoodie sesaat sebelum kami berdua berdiri berhadapan, ok fix, Dimas masih seorang player.
Aku menghela nafas panjang.
Mana mungkin sifat playernya itu menghilang.
Itu kan bakat alamnya. Ck.
Dimas tersenyum secara tangannya mengulur mengacak puncak kepalaku. Mata hijaunya berbinar, tangannya meraih sejumput rambutku.
"You surprised me, dengan rambut panjang seperti ini, bikin elu terlihat cantik"
Dimas masih seperti yang dulu, masih menggunakan kata gue-elu dalam percakapan.
Aku mendongak menatapnya.
See, gombalannya itu.
"Kalo soal cantik, saya emang cantik dari lahir mas" Aku menarik tangannya yang masih memegang rambutku.
"Apa kabarnya mas Dimas?" Tanyaku mengacuhkan gombalannya.
Pria bermata hijau itu tersenyum.
"Baik, elu sendiri apa kabarnya selain makin cantik?" Dimas menarik dan merangkul pundakku.
"Kayanya saya bikin mas Dimas kaget ya, udah dua kali lho bilang saya cantik, itu pujian atau sekedar basa-basi aja? Mengingat mas Dimas itu dulunya sering ngatain saya muka pantat wajan sangking gelapnya kulit saya ini" Aku mendorong tubuhnya mundur.
Perlu di ingat, dari dulu aku ini orang yang tidak mempan terbius terkena pesona laki-laki, mungkin karena sudah terlalu kebal dan terlalu kenyang dari aku kecil sering melihat pria di sampingku ini sedang beraksi.
Semua jenis perempuan tidak memandang umur di goda habis-habisan olehnya, mulai dari bayi merah yang masih berada di kereta dorong sampai babysitter yang menjaga bayinya itu.
Pesonanya memang tidak bisa dipungkiri, Dimas memang terlalu charming untuk ukuran seorang pria.
"Masa sih gue bilang elu pantat wajan? Hitam dong?" Tanyanya dengan wajah tidak percaya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Catch You
HumorWarning for +21 only Penulis hanya menuangkan ide cerita, tidak menganjurkan untuk dipraktekkan, harap bijak dalam membaca Happy reading 23/3/18 - 12/5/18
