Sendal jepit, celana bolong, elahhh mau nyaingin Dimas yakkk? Mana ga punya gesper trs ngiket celananya pake tali sepatu 😅😂
Pasti balik nge-zoom buat mastiin yakkk 😆😂😂
Dimas POV
Rasa penasaran yang besar membuatku mengikuti kemana Jeni pergi pada saat makan siang.
Aku melangkah masuk ke dalam sebuah cafe dan mengambil duduk di sudut cafe yang lumayan jauh dari tempatnya berada tetapi aku masih bisa melihatnya jelas dari sini.
Jeni tampak sedang menerima telepon, wajahnya terlihat manis tersenyum berbicara dengan orang yang sedang menelponnya.
Kemudian Jeni berdiri meletakkan handphonenya dan senyumannya kembali mengembang ke arah pintu masuk cafe.
Reflek aku menoleh ke arah pintu masuk, seorang pria yang sangat kukenal memasuki cafe, matanya langsung tertuju ke arah Jeni. Pria asing itu tersenyum membalas senyuman Jeni.
Darn!
Ngapain si bangke Bryan di sini?
Mataku mengarah ke Jeni yang masih tersenyum menyambut kedatangan Bryan.
Mereka berdua?
Bagaimana bisa?
Kepalan tanganku mengerat.
Lebih baik mencari tahu sendiri daripada aku menerka-nerka sesuatu yang bikin aku mendidih.
Aku bangkit dari tempatku duduk dan berjalan menghampiri meja mereka, mata Jeni melotot kaget melihatku mendekat dan tanganku langsung meraih kaus Bryan memaksanya untuk berdiri.
Gerakanku jelas membuat Bryan kaget.
Matanya mengerjap ke arahku lalu tersenyum.
"Dude, apa kabar?" Tanyanya sambil menepuk pundakku.
Pukulan uppercut mendarat di perutnya, Bryan terbatuk dan membungkuk, padahal tenaga yang kukerahkan tidak sampai maksimal, aku tidak ingin mengirim tubuhnya kembali dirawat di rumah sakit.
Pukulan yang tidak aku rencanakan. Dan Bryan pun tidak siap menerima pukulan dadakan dariku.
Jeritan tertahan keluar dari mulut Jeni, tangannya melerai kami berdua.
Pengunjung cafe yang duduk di sekitar meja dan beberapa karyawan cafe datang mendekat ke arah kami.
"It's okay, ini cuma salam antar teman yang baru aja ketemu" Kataku santai ke arah mereka. Meredakan kekacauan kecil, yang aku ciptakan.
Tatapan ingin tahu masih terlihat, aku tersenyum berusaha untuk menyakinkan mereka kalau kami sedang tidak terlibat baku hantam.
Bryan masih membungkuk, Jeni membantunya untuk duduk.
Rahangku mengeras melihat mereka, mataku menatap Jeni tajam.
Si perempuan tidak menyadari tatapan mataku yang membara karena amarah.
Rasa ingin tahuku hilang sudah, niat untuk bertanya bagaimana mereka bisa bertemu, yang tadi Jeni bilang sudah ada janji, ternyata janji temu dengan Bryan.
Menyadari hal itu membuatku panas dan kehilangan kendali.
Aku berjalan meninggalkan cafe dengan berbagai macam pertanyaan yang muncul di benakku.
°•°•°
Jeni tidak terlihat berusaha untuk menjelaskan atau memberitahukan ku soal kejadian tadi siang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Catch You
UmorismoWarning for +21 only Penulis hanya menuangkan ide cerita, tidak menganjurkan untuk dipraktekkan, harap bijak dalam membaca Happy reading 23/3/18 - 12/5/18
