7. kekhawatiran yg aneh

15.9K 2K 337
                                        

Elahhhh dedek Dimas ikut2an aja pake kacamata muka, iyaaaa tauuu pengen ngasih unjuk ke akoh juga kan klo muka mu bukan muka KW macam akohhh 😂😂

Jeni POV

Sudah 3 hari aku bekerja di kantor milik Dimas, mama sangat senang mendengar berita ketika aku memberitahukannya kalau Dimas menawarkan pekerjaan untukku.

Sangking bahagianya mama sampai menelpon bunda Dav, bunda Dav menelpon ayah Bill, sampai akhirnya ayah Bill menelponku dan mengajakku makan siang hari ini.

Entah kenapa mereka sampai sebegitu senang dan antusiasnya.

Wajah ayah Bill tidak berhenti-henti tersenyum, walaupun usianya sudah tidak muda lagi, malah bisa dibilang dirinya terlihat semakin hot, pesonanya seakan tidak termakan oleh waktu dan masih menjadi daya tarik bagi kaum hawa.

Lihat saja sekarang, banyak lirikan dari perempuan-perempuan yang duduk di sekitar meja kami menatap lapar ke arah pria matang yang tampak tidak terpengaruh dan memilih fokus menghabiskan makanannya.

Para pramusaji pun kerap kali hilir mudik menawarkan atau menanyakan apa saja kepada ayah Bill, padahal pesanan makanan kami sudah tersedia semua.

Kulihat kedua sikunya tidak menempel di atas meja sepanjang kami menghabiskan makan siang kami, table manner nya terlihat sekali, pria itu makan dengan tenang walaupun sesekali tersenyum ke arahku.

Suapan terakhir steak wagyu masuk ke dalam mulutnya menandakan berakhir main course di hadapan kami, ayah Bill menyeka mulut dengan napkin yang tersedia.

"Pelayanan di restaurant ini is the best, mereka sangat ramah melayani para customer" Katanya sambil mengacungkan ibu jari lalu menyesap wine nya.

Aku meringis, apa beliau tidak menyadari perlakuan yang di dapat karena para pramusaji itu mencari-cari perhatiannya ya?

Hmm... Bunda Dav kenapa bisa sampai khawatir kalau ayah Bill bakal terkena rayuan pelakor? Terlihat sekali kalau beliau bukanlah seorang player lagi. Dan menghiraukan perempuan-perempuan muda yang bermaksud merayunya.

"So, bagaimana pekerjaan kamu Jeni?" Tanyanya, kedua tangannya menopang dagunya, matanya lurus menatapku.

Aku meneguk lime squash dengan beberapa tegukan besar sebelum membuka mulut menjawab pertanyaan yang di lontarkan.

"Gak ada masalah yang berarti, tugas saya hanya menyapa karyawan-karyawan yang datang, menyambut kedatangan tamu-tamu dan menerima telepon masuk" Jawabku.

"Yeah, saya tau itu tugas front desk, terus bagaimana Dimas memperlakukan kamu di kantor?" Tanyanya lagi.

Keningku mengernyit.

"Maksud ayah?" Tanyaku bingung.

"Jeni, kita semua tau Dimas seperti apa. Dia itu player, semua perempuan tidak pandang umur digoda dan dirayu olehnya. Apa Dimas memperlakukan kamu normal sebagaimana mestinya?"

Aku terdiam beberapa saat mencerna perkataan beliau lalu terkekeh.

"Ayah gak perlu khawatir, saya tidak pernah terpengaruh sama godaannya, dan ya, mas Dimas memperlakukan saya dengan normal" Jawabku.

Kulihat beliau menghela nafas panjang, raut wajahnya berubah.

"Kenapa ayah?" Tanyaku bingung.

"Sekarang saya malah khawatir" Jawabnya pelan.

"Ha?" Aku mencondongkan tubuhku mendekat ke depan.

"Khawatir kenapa?" Tanyaku lagi.

Dirinya kembali menghela nafas.

Catch YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang