Klo ada yg kaya gini 👆 di tempat gym, akoh rela tiap hari ngangkat beban berat ngelebihin berat badanku buat narik perhatiannya, rela badan remek semingguan abisan itu buahahaa 😅😅😆
Jeni POV
"Selamat pagi"
"Pagi mba"
"Halo mba, pagi"
"Selamat pagi Pak"
Sapaku berkali-kali dengan tersenyum riang kepada karyawan-karyawan yang baru datang. Hari Senin pagi, semangat baru setelah weekend.
Pekerjaanku memang tidak menguras otak seperti para pejuang rupiah yang lain. Jadi aku harus memberikan energi positif berupa senyuman manis, mungkin saja bisa menjadi sedikit penyemangat mereka untuk berkutat dan menghadapi pekerjaan yang akan mereka hadapi selama 5 hari ke depan.
Mataku menangkap sosok pria jangkung yang berjalan dengan tegap, matanya melembut menatapku ketika dirinya semakin mendekat.
Kilasan tubuhnya yang hanya berbelitkan handuk di pinggangnya membuatku menelan ludah.
Seumur-umur aku mengikuti kemana dirinya pergi sejak aku kecil, baru sekali itu aku melihatnya hanya berbelitkan handuk, memperlihatkan perutnya yang berotot, jadi totalnya dua kali seumur hidupku melihatnya shirtless.
Kalau melihat perut menyembul satu milik bapak-bapak tetanggaku yang berkaus singlet hampir setiap hari aku lihat. Sampai berdoa setiap membuka mataku setiap pagi, biar si bapak udah kelar manasin motornya ketika aku sarapan.
Tanpa sadar aku menghela nafas panjang.
Dimas memang menggiurkan, sangat menggiurkan, santapan lezat bagi perempuan-perempuan yang rela melepaskan celana dalamnya dan di terima suka cita oleh si player cangcut itu.
Kejadian di mobilnya tempo hari itu, sungguh, perkataan Dimas yang mengatakan terbawa suasana benar adanya.
Ciuman yang melibatkan lidah itu benar-benar menggairahkan, sampai-sampai membuatku mendesah.
Aku menggelengkan kepalaku pelan.
"Pagi Mr. Dimas" Sapaku, senyuman yang ku berikan aku usahakan semanis mungkin menyambutnya.
Permasalahan hari Jum'at malam kemarin di rumahnya itu tidak terlalu aku pikirkan, um, bohong sih kalau aku tidak kepikiran.
Weekend kemarin aku menghabiskan waktu di rumah membantu mama membereskan rumah, sampai-sampai mama keseringan melemparku dengan lap karena aku kebanyakan bengong.
Perkataan bunda Dav terngiang-ngiang di benakku.
Aku memang memikirkan perkataan bunda Dav, tetapi masih belum yakin kalau Dimas itu seperti apa yang dikatakan bundanya.
Terlalu banyak pikiran yang bersarang di otakku.
Celana dalam.
Ciuman melibatkan lidah.
Jatuh cinta.
Curhatan bunda Dav.
Dimas membalas senyumanku, tubuh jangkungnya berdiri di depan mejaku.
"Mimpi apa semalam?" Tanyanya, sorot matanya itu loh, inikah yang dinamakan tatapan memuja? Atau tatapan orang yang sedang jatuh cinta?
Aku menelan ludahku, hanya diam tidak menanggapi pertanyaannya.
"Kalo aku mimpiin kamu, kita jadi sepasang kekasih, terasa seperti kenyataan, bahagia sekali" Katanya langsung tanpa berbasa-basi.
Mulai lagi deh si player cangcut ini tebar pesona.
KAMU SEDANG MEMBACA
Catch You
HumorWarning for +21 only Penulis hanya menuangkan ide cerita, tidak menganjurkan untuk dipraktekkan, harap bijak dalam membaca Happy reading 23/3/18 - 12/5/18
