22. 💞💞💞

15.8K 1.9K 520
                                        

Ayolah saing2an nunjukin 6pack nya tahhh. Tante mah ga bisa milih di antara kalian bedua, cuma bisa ngambil kaleng khong guin isi renggining, ngemilin sambil ngeces2 liat kalian dedek2 gemessss 😅😂

Bagi yg kemarin nyangka mulmed chap sebelumnya itu Dimas, wah2 kalian itu bukan penggemar Dimas sejati yesss.

Yg pake iket pinggang tali sepatu itu cuman Bryan seorang, klo Dimas pake iket pinggang dari karet celana dalam perempuan 😂😂

Dimas POV

"Jen" Panggilku setelah menyalakan mesin mobil.

Jeni menoleh ke arahku.

"Lanjutin ya" Kataku sambil mengulum senyumku, mengingat mommy yang mengetuk pintu kamar padahal posisi kami sudah pas banget buat saling hisap menghisap lidah dan bibir yang dapat mengakibatkan kejontoran sementara.

Hey, aku sudah bilang belum sih, ternyata apa yang dikatakan dad itu benar, berciuman melibatkan lidah itu...

Man!

Rasanya luar biasa, selama ini aku tidak pernah melibatkan lidahku setiap kali berciuman dengan perempuan, aku sendiri bingung kenapa ketika berciuman dengan Jeni pertama kali, aku langsung melupakan perkataan dad.

Gairah benar-benar terbakar, bagus tadi mom mengetuk pintu di saat dedekku belum tegang sepenuhnya.

Mommy itu, ternyata dia menguping, bilangnya mau ngeberesin dapur, ternyata ketika aku membuka pintu, mom masih berdiri dan terkejut ketika pintu terbuka.

"Tadi kan ada gangguan tak terduga, enak kali lanjutin sekarang, kalo di depan rumah kamu takut di liat sama tante" Lanjutku lagi.

Karena minimnya penerangan di halaman rumahku, aku tidak bisa melihat apakah wajah Jeni memerah atau tidak mendengar perkataanku.

Yang kulihat matanya melebar.

"Tumben pake ijin" Katanya pelan.

Aku terkekeh.

"Aku kan player santun Jen, semua-muanya harus ijin dulu" Jawabku.

"Masa? Perasaan kemarin-kemarin langsung nyium aja" Jeni menunduk.

"Ck, itu kan hanya perasaannya dek Jeni aja" Kataku pelan lalu berdeham.

Aku mencondongkan tubuhku mendekat ke arahnya, bergerak melewati tubuh Jeni untuk membuka seat beltnya.

Matanya mengerjap.

"Biar enak nanti ciumannya, gerak bebas" Kataku.

Jeni kembali menunduk.

Aku mengusap puncak kepalanya.

"Di kamar tadi kok keliatan agresif, kenapa sekarang kaya malu-malu mau Jen" Kataku, tanganku bergerak mengusap pipinya. Wajahku mendekat ke arahnya. Mataku fokus melihat bibirnya yang siap aku lumat.

Jeni meringis, sebelum bibir kami bertemu, Jeni mendorongku pelan, jarinya menunjuk ke arah luar jendela di belakangku.

Aku mengikuti arah telunjuk tangannya.

Mataku membulat.

Melihat mommy yang mengintip ke dalam jendela mobil.

Ya ampun mommm, ganggu banget sih, runtukku dalam hati.

Tangan mommy bergerak memintaku untuk menurunkan kaca mobil.

Aku meringis begitu jarinya mendarat di telingaku.

Catch YouCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang