[Completed Chapter]
Pada kepindahaannya yang ke-45, Leila kabur dari rumah. Dia melihat kacaunya dunia, serta alasan ayahnya yang terus mendesak mereka untuk terus bergerak sebagai keluarga nomaden.
---***---
Leila, 17 tahun, ter...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
KAKIKU MASIH terjepit saat mereka menemukanku di bawah reruntuhan ruko.
Entah sudah berapa lama aku bertahan di bawah reruntuhan. Aku tidak bisa merasakan pinggangku lagi. Kulitku penuh luka gores dan tanganku mati rasa. Wajahku terasa kaku, bertopeng debu dan pasir semen, tercampur keringat dan air mata. Kakiku kebas di bawah bongkahan tembok miring yang siap meratakan betisku kapan saja. Udara pengap dan bau semen hancur meracuni pernapasanku. Ingus yang menyumbat hasil dari terisak berjam-jam sama sekali tidak membantu.
Satu-satunya ruang untukku mencari udara hanya ada di atas kepala. Jauh di atas sana, akses keluar-masuk tertutup. Aku sudah berteriak ratusan kali, tetapi tidak ada yang mendengar. Tidak ada orang di dalam Garis Merah.
Seharusnya aku tidak pergi ke Garis Merah, di mana segala hal mengerikan terjadi.
Sesekali aku tertidur, atau pingsan. Begitu bangun, aku menangis lagi. Yang kulakukan hanya mengumpulkan napas dan semangat hidup, sampai kemudian ....
Sebongkah logam di atas sana terangkat perlahan. Seberkas cahaya masuk. Harapanku melambung tinggi. Sepasang mata mengintip ke dalam, lalu wajahnya berpaling. Aku baru akan berteriak meminta tolong saat suara laki-laki itu terdengar lebih dulu—sebuah bisikan lembut di tengah keheningan malam. Katanya, "Anak cewek."
Disertai decakan, suara lain yang lebih berat menyahut dengan datar, "Tinggalkan. Tutup lagi."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ini adalah cerita pertama saya di wattpad ^^ Mohon dukungannya
ヾ(*゚ー゚*)ノ Thanks for reading
Secuil jejak Anda means a lot
Vote, comment, kritik & saran = support = penulis semangat = cerita lancar berjalan