#5

20.8K 2.9K 709
                                        

| RavAges, #5 | 2902 words |

| RavAges, #5 | 2902 words |

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

KEGELAPAN LAGI. Kaki kembali terjepit, dan semuanya terulang.

Ini persis sama dengan ambruknya ruko yang menguburku, hanya saja saat itu aku sendirian. Kali ini, tangan seseorang merengkuh kepalaku, dan kedua lenganku menahan bobot dadanya di atasku.

Aku gemetar ketakutan di bawah Alatas. Ada bongkahan logam di atas kepala pemuda itu, berkeriut turun, siap menggencetnya sampai mati. Kucoba meledakkan logam itu seperti yang kulakukan sebelumnya, tetapi tidak ada yang terjadi.

Sisa pasak yang tajam dan serpih tembok mengepung kami. Kalau kuledakkan ini semua, apakah kami akan mati terpanggang? Apa aku dan Alatas akan ikut meledak?

Ajal merosot turun di atas ubun-ubun pemuda itu. Jeritanku akhirnya pecah juga bersama isakan.

"Sst ...." Kudengar Alatas bersuara. Aku tidak bisa melihat wajahnya karena wajahku tersimpan rapat-rapat di dadanya. "Kau mengacaukan konsentrasiku."

Logam berbunyi lagi, tetapi kali ini ia bergerak naik. Aku mendongak untuk melihatnya lebih jelas, daguku menggesek dada Alatas. Saat itulah logam yang hampir tersingkir malah kembali berkeriut turun, membuatku menjerit lebih keras.

"Sudah kubilang," desis Alatas, kedengarannya agak kesal, "kau mengacaukan konsentrasiku. Sekarang, tolong diam dan jangan bergerak barang sesenti pun, oke?"

Logam di atas kepalanya terangkat lagi, membuka ruang di atas kami. Begitu bongkah logam tersebut jatuh ke samping, Alatas bangkit dari atasku dan menghirup udara bebas. Aku ikut bangkit dan mengamati besi bengkok itu dengan ngeri. "Kok bisa?"

"Aku Steeler," kata Alatas. "Aku mengendalikan logam ... yah, walau sejauh ini aku cuma bisa menggerakkannya. Aku belum pandai melelehkannya."

Keningku berkerut, merasa kasihan padanya. Padahal dia masih muda. "Kau sedang bercanda, 'kan?"

Alatas ikut mengerutkan kening. "Kau tak tahu cara menggunakan Fervormu sendiri, ya?"

Aku tidak mengerti istilah yang dipakainya, jadi aku menggeleng saja. Alatas kemudian memanjat naik dari ceruk reruntuhan. Tangannya pun terulur kepadaku.

"Apa?" kataku dengan suara serak. "Mau menguburku lagi?"

Alatas berdecak. "Dasar cewek pendendam. Mau naik, tidak?"

Ragu-ragu, aku menyambut tangannya. Tangannya kasar, kotor oleh tanah, lecet, dan bekas luka mengular di mana-mana seperti bekas perkelahian.

Alatas mendapatiku menatap luka-lukanya, jadi aku buru-buru mengalihkan pandang darinya. Kusisir rambutku yang kusut dengan jari, lalu berhenti setelah merasa rambutku sudah tidak punya harapan lagi.

"Bisa jalan?" tanyanya, yang kubalas dengan anggukan. Alatas mengedikkan kepala agar aku mengikutinya, tetapi yang kulakukan hanya diam berdiri. Dia lantas berdecak. Ditariknya tanganku, satu tangannya yang lain meraba-raba udara. Dia memanggil nama Truck dan Erion beberapa kali sebelum sebuah tangan yang tidak terhubung dengan badan muncul dari udara kosong dan menarik pemuda itu.

RavAgesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang