[Completed Chapter]
Pada kepindahaannya yang ke-45, Leila kabur dari rumah. Dia melihat kacaunya dunia, serta alasan ayahnya yang terus mendesak mereka untuk terus bergerak sebagai keluarga nomaden.
---***---
Leila, 17 tahun, ter...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
MELIHAT BANGUNAN ruko yang miring dan separuh terbakar itu mengingatkanku pada suatu malam saat uji nyali di area Garis Merah dengan Ryan. Jauh sekali jarak kami sekarang. Aku di Kompleks 45, dia masih di Kompleks 44.
Beberapa jam sebelumnya, saat aku baru keluar dari rumah tanpa sepengetahuan ayah dan ibuku, aku diadang oleh Aaron. Dia adalah lelaki seumuranku yang mendiami vila bersama di Kompleks 45—bangunan khusus yang disediakan NC untuk orang-orang yang tidak bisa memiliki rumah sendiri. Anak-anak lain memanggilnya "Anak Jaring" dan sering kali mengusiknya karena Aaron penyandang difabel secara kognitif.
Aaron sempat mengejarku waktu itu, melarangku pergi ke Garis Merah. Jala masih terkait di bahunya seolah dia mau menjaringku bak ikan tangkapan. Dia meneriakiku, barangkali berharap warga berdatangan. Namun, tak seorang pun menampakkan dirinya pukul 3 pagi, bahkan jikalau teriakan Aaron adalah lolongan minta tolong. Perangai acuh-tak-acuh macam itu sudah lumrah kutemui. Aku sendiri heran kenapa Aaron berada di pesisir, sedangkan ikan-ikan layak konsumsi sudah tidak ada di sekitar pantai gara-gara kapal NC.
Jauh di belakang Aaron, sebuah kapal besar tertambat. Pada badan kapalnya, tertuliskan NC: Penggerak Baru Bumi Nusantara. Aku tidak melihatnya saat kami pertama tiba kemarin. Kurasa, ia baru saja berlabuh tadi malam.
"Akan kuadukan kau ke ayahmu!" teriak Aaron.
Mendengar ancamannya, aku teringat kembali akan pertengkaranku dengan Ayah. Aku hilang kendali sampai membentaknya, "Adukan saja, Anak Jaring! Kau kira, akan ada yang mendengarkanmu?"
Bahkan saat meneriakkan itu, aku tahu betapa jahatnya perkataanku barusan.
"Jangan ke Garis Merah!" Aaron berteriak lagi, terdengar lebih putus asa. "Kau akan dibunuh oleh mereka—monster Garis Merah! Monster api! Monster listrik!"
Aku hampir putar balik saat melihat Aaron tersedu-sedu histeris di atas pasir pantai, tetapi kutahan diriku dan berjalan terus. Dia bukan urusanku. Perihal monster di Garis Merah, aku sudah kenyang menelan semua bualan itu.
Beberapa Kompleks yang kudiami belakangan mengalami krisis listrik, tetapi Kompleks 45 yang paling gelap. Kugunakan senter dari ponselku, dan aku masih kesulitan melihat ke depan.
Saat langit mulai terang dan garis pantai tidak lagi terlihat di belakangku, aku sampai di perbatasan Garis Merah. Hutan menjulang ganjil dengan tinggi pohon yang timpang dan tumbuhan merambat yang melilit-lilit. Seperti namanya, dibatasi oleh pagar kawat, Garis Merah dipenuhi cat semprot merah yang menyala mengerikan dalam gelap hutan pada dedaunan yang mati.
Ryan mengajariku cara melewati pagar batas Garis Merah. Selalu ada lubang tiap beberapa ratus meter. Ryan berjanji kalau listrik di pagar itu tidak akan membunuh siapa pun karena hanya dialiri listrik DC. Malah, beberapa kali pagar itu tidak dialiri listrik sama sekali. Saat aku menemukannya, ukuran lubang itu cukup untuk kulewati. Aku hanya perlu merangkak melaluinya, memastikan rambut atau ranselku tidak mengenai kawatnya.