Happy Reading!!
Jangan Lupa Bahagia..
***
Si Zikri itu sahabat gua dari gua bayi sampai sekarang dan dia punya segudang ide gila.
- (Namakamu) Fadiyah -
___
(Namakamu) diam. Pertanyaan yang tidak pernah ia harapkan. Ia menunduk. Luka lamanya seperti terkoyak kembali dan kali ini lebih sakit. Aldi melihat perubahan (Namakamu) itu. Aldi merasa bersalah sudah bertanya sedemikian rupa. Ia memegang tangan (Namakamu) untuk sekedar menguatkan gadis itu. Hatinya sudah menduga-duga hal yang bisa saja terjadi.
(Namakamu) menangis terisak sekarang. Ia tidak bisa menahan semuanya lagi. Aldi yang melihat itu langsung panik. "(Namakamu)," panggil Aldi pelan.
"Loh, (Namakamu) kenapa, Al?" Astrid yang baru saja datang dari lantai 2.
Aldi menggeleng meminta Mamanya untuk tidak bertanya dulu. Astrid pun diam dan duduk di single sofa tidak jauh dari Aldi. (Namakamu) masih menangis. Aldi mempererat genggamannya di tangan (Namakamu). Melihat reaksi (Namakamu) yang seperti ini, ia merasa sangat khawatir. Semenderita apa gadis itu sejak 2 tahun terakhir ini?
Aldi lebih mendekatkan duduknya ke (Namakamu). Ia meraih tengkuk (Namakamu) dan membawanya dalam dekapannya. Ia tahu, (Namakamu) butuh sandaran. (Namakamu) butuh kekuatan. Ternyata dibalik diri (Namakamu) yang jagoan ada hati yang rapuh.
"Nangis sepuas lo. Keluarin semuanya. Gua nggak akan ninggalin lo," ucap Aldi mencoba menenangkan (Namakamu). Hatinya ikut terluka melihat gadis itu menangis.
"Bu... bun..da u..dah me..ninggal," ucap (Namakamu). Ia menggenggam erat tangan Aldi yang tidak memeluknya.
Aldi dan Astrid terperangah mendengar pengakuan (Namakamu). Aldi melepas tangannya dan memeluk (Namakamu) dengan 2 tangannya. Astrid berjalan mendekati (Namakamu) dan mengelus bahu gadis itu. (Namakamu) terus menangis. Ia membalas pelukan Aldi. Ia menenggelamkan wajahnya di dada Aldi.
"Sabar ya, sayang. Ada Tante disini. Ada Aldi juga. Kamu nggak sendirian, kok." Astrid ikut menenangkan (Namakamu).
"Sori, gua nggak tahu." Aldi meletakkan dagunya di puncak kepala (Namakamu). Air matanya ikut menetes sekarang. Apa karena ini, (Namakamu) seperti ini?
Kiki pernah berkata bahwa 2 tahun yang lalu (Namakamu) benar-benar hancur. Apa ini alasannya? Sebenarnya apa yang terjadi? Aldi sangat ingin bertanya, tapi tidak mungkin melihat kondisi (Namakamu) yang sepertinya masih belum bisa kembali ke kenyataan.
"Al, bawa (Namakamu) ke kamar. Mama bikinin teh jahe," pinta Astrid sembari mengelus punggung (Namakamu).
"Iya, Ma." Aldi melepas pelukannya lalu melihat wajah (Namakamu) yang lembap marena terus menangis. "Ayo!!" Aldi membantu (Namakamu) berdiri.
Astrid masuk ke dapur saat (Namakamu) dan Aldi mulai menaiki anak tangga. Aldi memegang bahu (Namakamu). Gadis itu terlihat begitu rapuh sekarang. Aldi tidak tega. Ia merasa bersalah karena sudah membuat (Namakamu) mengingat hal pahit di hidupnya itu.
Aldi mendudukkan (Namakamu) di tepi ranjang dan mengelus lengan gadis itu untuk meredakan isakannya. "Sori," ucap Aldi melihat (Namakamu) menghapus air matanya.
(Namakamu) menggeleng. "Lo.. nggak salah," ucapnya masih setengah terisak.
Aldi mengambil tisu yang disediakan di laci meja nakas di samping ranjang lalu memberikannya ke (Namakamu). (Namakamu) menerimanya dan menghapus semua air matanya serta cairan yang juga keluar dari hidungnya. Aldi belum bicara. Ia masih ingin menunggu (Namakamu) sedikit tenang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aldy Maldini
Fanfiction》Selesai《 Sinopsis By : Jumriani Ismail ¤¤¤ Anak Manja Vs Anak Garang? Good Boy Vs Bad Girl? Kira-kira yang mana yang menang? Aldy Maldini yang manjanya ketulungan atau (Namakamu) Fadiyah yang garangnya bukan main? Aldi dan (Namakamu) dipertemukan d...
