Part 16. Aldi dan Cita-citanya

880 64 3
                                        

Happy Reading!!
Jangan Lupa Bahagia...

***

Kayaknya cuman lo yang bisa buat gua kek gini.
- (Namakamu) Fadiyah -

___

"Nggak ada pilihan lain, Zik." (Namakamu) mengendikkan bahunya lalu memasang dengan kuda-kuda siap menyerang.

Zikri menoleh ke belakang. Ia melirik Syakir seakan berkata: jagain Syifa. Syakir hanya mengangguk mengerti.

Pada akhirnya Zikri dan (Namakamu) harus melawan 12 orang termasuk Chandra. Bukan hal mudah untuk Zikri dan (Namakamu), tapi mereka juga tidak mudah dikalahkan begitu saja. Mereka memang hanya berdua, tapi bukan berarti mereka tidak bisa melawan.

Syakir berbalik melihat seseorang berhenti dengan motor ninja merah. Syifa ikut melihat orang itu juga. Syakir sedikit terkejut saat tahu siapa pemilik motor itu. Seorang pria yang menjadi musuh bebuyutan (Namakamu).

Bastian melihat sekilas Syakir dan Syifa. Ia sudah turun dari motornya dan ikut berlari ke arah (Namakamu) dan Zikri yang masih berkelahi disana. Kedatangan Bastian yang membantu (Namakamu) dan Zikri membuat keduanya mengerutkan keningnya dan saling pandang, tapi tidak lama karena mereka harus melawan lagi.

(Namakamu) menendang musuh terakhirnya. Ia melihat ke Bastian dan Zikri yang juga sudah mengalahkan semuanya. (Namakamu) melihat Chandra yang babak belur. Bukan ia yang melawan Chandra tadi, tapi Zikri. Ia bisa saja membunuh adiknya itu jika ia hilang kendali.

(Namakamu) menarik kerah baju Chandra. "Bilang sama Pak Tua itu. Mati sekali pun dia, gua nggak bakal dateng. Jadi stop paksa gua." (Namakamu) mendorong keras Chandra membuat suara keras akibat benturan punggung Chandra dengan aspal.

"Noona. Ayah cuman mau ngeliat lo. Ayah khawatir sama lo, Noona. Selama ini Ayah selalu ngehubungin lo, tapi lo nggak pernah biarin Ayah untuk jelasin semuanya. Lo nggak pernah mau dengerin penjelasan Ayah."

"Apa yang perlu dijelasin lagi, sih?" tanya (Namakamu) yang mulai emosi lagi.

Zikri langsung menahan (Namakamu). "Udah. Dia udah bonyok." Zikri mendorong pelan (Namakamu) untuk mundur.

"Kalau Noona berubah pikiran, Ayah ada di Rumah Sakit Jaya Bakti, kamar 231 Melati," ucap Chandra.

(Namakamu) tidak peduli. Ia berjalan menuju motornya diekori Bastian dan Zikri.

Zikri melihat Bastian dan menepuk pundak sepupu Aldi itu. "Thanks, Bas," ucapnya.

"Em." Bastian mengangguk. "Tapi gua denger kalian putus. Itu beneran nggak, sih?" tanya Bastian akhirnya. Sedari tadi ia memang menyimpan banyak pertanyaan. Apalagi mendengar Chandra memanggil (Namakamu) dengan sebutan Noona yang artinya kakak perempuan dan juga menyebut ruang rawat Gilang, Ayah (Namakamu). Ia jadi penasaran apa yang terjadi selama ini pada (Namakamu).

"Kita udah putus," jawab Zikri. "Tapi kok lo ada disini?" tanya Zikri mengalihkan pembicaraan. Ia tidak ingin Bastian bertanya lebih lanjut. Takutnya (Namakamu) akan marah.

"Gua disuruh Aldi nyari (Namakamu). Katanya dari tadi dia ngehubungin (Namakamu). Dia takut kalau (Namakamu) dikejar lagi dan ternyata memang benar," jawab Bastian. "Cek hp lo, deh!!" pinta Bastian ke (Namakamu).

(Namakamu) tidak bersuara. Ia mengeluarkan ponselnya dan melihat beberapa notif yang memang dari Aldi. "Gua duluan," ucapnya hanya kepada Zikri. (Namakamu) memakai helmnya.

"Gua mau ke rumah Aldi. Kita bareng aja. Daripada lo dihadang lagi." Bastian mencoba menawarkan diri. (Namakamu) diam saja. Gadis itu masih marah kepada Bastian.

Aldy MaldiniCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang