§§§
Mobil hitam dengan dua pintunya dipacu dengan kecepatan lebih dari 150km/jam. Mesin mobilnya berbunyi dengan sangat halus tanpa menganggu musik hip hop yang di putarnya. Matanya di lindungi oleh sebuah kacamata hitam dari silaunya sinar matahari sore. Jemarinya bergerak naik turun diatas roda stirnya, mengikuti irama dari alunan musik yang di putarnya.
Kakinya menginjak pedal rem begitu ia tiba di tempat parkir gedung pengadilan. Memarkir mobilnya ditempatnya dan keluar dari sana, melihat sederetan mobil murah yang terparkir disebelah Lamborghini hitamnya.
Kwon Jiyong.
Siapa yang tidak mengenalnya? Keluarga satu-satunya dari seorang pengusaha kaya raya yang kini bekerja di sebuah firma hukum miliknya sendiri.
Ia seorang pengacara. Dengan persentase keberhasilan sebanyak 99%. Sebelumnya, ia tidak suka datang ke pengadilan. Keberhasilannya, bukan selalu berarti ia menang melawan jaksa penuntut. Melainkan keberhasilan untuk memuaskan kliennya. Memberi apa yang kliennya mau, tanpa perlu ke pengengadilan.
Namun kali ini berbeda. Ia terpaksa harus datang ke pengadilan. Bukan untuk kliennya, tapi untuk juniornya, yang baru saja menjabat menjadi jaksa penuntut.
Dengan setelan mahal yang selalu melekat pada tubuhnya, menutupi sebagian besar kulitnya yang sangat berharga, Jiyong—sapaan akrabnya—melangkah memasuki bangunan megah itu. Terus melangkah semakin dalam hingga ia menemukan ruang sidang tujuannya. Tiga kursi di atas podium untuk tiga hakim persidangan, sebuah meja di bagian kiri untuk jaksa penuntut, ditengah untuk notulen sidang, dan di bagian kanan untuk pengacara dan yang tertuntut. Serta jangan lupakan sederet kursi kayu untuk menonton persidangan itu juga sudah disiapkan bagi para saksi persidangan.
Jiyong duduk dibaris paling belakang kursi kayu. Ia sedikit terlambat karena sidang itu sudah hampir selesai.
"... mengenai seorang wanita yang akhirnya membunuh suaminya, setelah menerima ancaman kematian dan tindak kekerasan," ucap sang hakim begitu Jiyong baru saja duduk didalam ruang sidang itu dengan sangat tenang. "Tidak ada kekerasan yang boleh di hentikan dengan pembunuhan. Akan tetapi, wanita tidak punya cara membela diri, ketika pria dengan kekuatan fisik mereka menyerang. Para wanita yang di serang terus menerus, tetap melanjutkan hidup mereka demi anak anak mereka. Terdakwa memang membuat pilihan yang sangat ekstrem akan tetapi, demi menghentikan kekerasan yang tidak manusiawi, sebagai Hakim saya tidak yakin untuk menghukumnya. Kasus ini mengenai seorang yang harus membela dirinya sendiri dari ancaman yang tidak manusiawi. Untuk itu, Majelis Hakim menyatakan terdakwa tidak bersalah."
Palu hakim di pukul tiga kali.
Dan putusan itu dinyatakan sah.
Sang pengacara di sisi kanan tersenyum, begitupun si jaksa penuntut yang terlihat sangat lega. Sementara sang terdakwa menangis memeluk putrinya yang duduk di bangku saksi. Sementara Jiyong? Hanya tersenyum simpul seakan hal itu memang sudah seharusnya terjadi.
"Hei," sapa Jiyong pada gadis yang baru saja lewat di hadapannya dengan wajah berseri-seri.
"Sunbaenim?!" seru gadis itu setelah menoleh pada Jiyong yang bersandar di dinding. Menunggunya. "Astaga! Astaga! Sunbaenim! Aku merindukanmu!" seru gadis itu, suaranya memenuhi lorong pengadilan yang sepi, tidak bisa di kontrol.
"Haha halo, nona Jaksa, kenapa kau tersenyum? Kau baru saja kalah nona," goda Jiyong sembari mengusap poni gadis yang masih memakai jubah jaksanya.
"Hehe, habis bagaimana ya? Aku merasa tidak benar karena menghukum wanita tadi,"
"Aigoo... nona jaksa masih saja berhati lembut eoh? Sudah berapa tahun kau disini heum?"
"Ng... sudah... 3 tahun! Heol! Aku tidak menyangka aku sudah 3 tahun disini, dan satu tahun terakhir tanpamu, sunbaenim,"
"Wah sudah satu tahun ya aku tidak lagi jadi Jaksa? Tidak terasa, kau ada waktu luang?"
"Kalau sunbaenim mau mentraktirku makan siang, aku akan meluangkan waktu untukmu,"
"Bagus, kalau begitu ganti bajumu dan aku tunggu di tempat parkir," jawab Jiyong yang kemudian kembali mengusap poni gadis dihadapannya. "Jangan membuatku menunggu nona jaksa,"
"Ay ay captain," jawab si gadis yang kemudian berlalu untuk pergi ke ruangannya untuk mengambil tasnya dan melepas jubahnya.
Jiyong pun melangkah kembali ke tempat mobilnya di parkir tadi. Melangkah dengan santai dengan senyum mempesona yang tidak lepas dari wajahnya. Senyum dingin yang terkesan merendahkan, namun tetap dapat membuat beberapa gadis salah paham.
"Ya, aku sudah keluar dari pengadilan sekarang," suara seorang gadis yang menelpon didalam lift menarik perhatian Jiyong. Jiyong menoleh ke arah suara—diserong belakangnya—kemudian menemukan seorang gadis dengan penampilan luar biasa. Dengan sebuah dress hitam ketat yang terlalu pendek untuk ukuran seorang pegawai negri, sepatu berhak merah terang yang juga kurang lembut untuk ukuran pegawai negri. Rambutnya yang di cat coklat di biarkan tergerai begitu saja.
"Berhenti menatapku seperti itu," ucap si gadis yang risih karena Jiyong yang tanpa sadar melihat gadis itu secara terang-terangan. "Aku akan menanggapnya tindak pelecehan kalau kau terus melakukannya... pengacara-"
"Pengacara Kwon, namaku Kwon Jiyong," ucap Jiyong tanpa sadar, seakan terhipnotis oleh pesona si gadis yang terlihat berbeda dari seluruh gadis di gedung Pengadilan megah itu.
Namun alih-alih menjawab, si gadis langsung melangkah keluar begitu pintu lift terbuka—dilantai 3.
"Kim Jennie! Pengacara Kim!" teriak seorang pria yang berlari menghampiri si gadis mempesona terdengar oleh Jiyong sebelum pintu liftnya benar benar tertutup.
"Ah... namanya Kim Jennie," gumam Jiyong. "Seharusnya tidak perlu jual mahal kalau akhirnya tetap memberitauku namanya," gumamnya angkuh sembari menunggu liftnya berhenti di lantai 1, di lobby utama.
Sementara Jiyong sudah menunggu 10 menit di depan mobilnya. Gadis seksi yang sebelumnya ia lihat di lift berjalan ke arahnya, tidak benar benar ke arahnya, melainkan ke mobil SUV silver yang di parkir di sebelah mobilnya.
"Jadi namamu Kim-"
"Apa anda tertarik padaku pengacara Kwon? Tapi bagaimana ya? Aku sama sekali tidak tertarik padamu," sela gadis itu setelah gadis itu melemparkan tas tangannya masuk kedalam mobilnya. Gadis itu menatap Jiyong dengan tatapan meremehkan, sementara Jiyong hanya bertahan pada ekspresi datarnya.
"Sunbaenim!" sapa nona Jaksa yang sejak tadi di tunggu Jiyong. "Eh? Annyeonghaseyo pengacara Kim," lanjutnya begitu melihat Kim Jennie yang hanya tersenyum simpul kemudian masuk kedalam mobilnya.
"Kalian saling kenal Sunbaenim?" tanya nona jaksa begitu mobil Jennie menderu keras dan pergi dari tempat parkir itu.
"Kurasa aku harus mengenalnya, ayo pergi, apa yang ingin kau makan nona Jaksa?"
"Kimbab. Kimbab segitiga!"
"Huh? Hanya itu?"
"Ne, karena kita harus makan di jalan,"
"Waeyo? Kau harus ke suatu tempat?"
"Ya, dan sunbaenim harus mengantarku,"
§§§
KAMU SEDANG MEMBACA
Belladonna
FanfictionBelladonna Berarti wanita cantik dalam bahasa Italia. Belladonna Juga mengartikan sebuah Berry beracun. Belladonna Wanita cantik dan racun.
