Sore hari ini, matahari memang terasa cukup terik.
Jam pelajaran terakhir sudah usai sejak beberapa menit yang lalu. Namun anak-anak kelasku masih belum beranjak untuk pulang.
Aku mengabaikan mereka, terserah lah mau apapun mereka. Toh itu hidup mereka, bukan urusanku.
Herin dan Koeun mengajakku untuk segera pulang, dan aku hanya menyetujui.
Di koridor tampak sedikit ramai, karena siswa-siswi berlalu lalang menuju gerbang sekolah, untuk apalagi kalo tidak pulang. Ya jam pulang, suatu waktu yang mereka inginkan, bahkan sejak jam pertama.
"Pulang sama siapa Vel?" Tanya Herin.
"Bang Doy," jawabku singkat.
Dan mereka berdua hanya mengangguk, kemudian tak lama mereka berdua dipanggil oleh guru. Entah lah mungkin ada beberapa tugas yang belum mereka selesaikan.
Aku mengendikkan bahu, dan tersisalah aku disini. Berjalan ke depan sendirian.
Aku berjalan dengan menatap lurus ke depan, karena lebih menyenangkan daripada harus melihat ke segala arah, dimana akan bertemu tatap dengan orang-orang.
Namun, sudut mataku menangkap orang yang ku kenal.
Ya, itu dia, Renjun.
Dia tidak sendiri, namun bersama seorang perempuan. Perempuan itu lagi, adik kelas yang kemarin mendekatiku dan Renjun.
Aku meliriknya sekilas, ah sepertinya sangat sibuk dan mengasyikkan.
Tapi sesaat aku akan memutus pandangan dari mereka, Renjun sudah menoleh terlebih dahulu.
Sebelum aku mengalihkan pandangan, dia terlihat berbicara sesuatu pada perempuan itu sebelum akhirnya dia berjalan mendekatiku.
"Mau pulang?" Tanyanya.
Basa-basi yang sangat basi.
Aku mengulum bibir kemudian mengangguk.
"Aku ga bisa nganter," katanya.
"It's okay,"
"Ada-"
"Kak Renjun!"
Kita berdua menoleh, terlihat perempuan itu menghampiri Renjun. Dia terlihat membawa sesuatu.
Aku mengembuskan napas pelan kemudian menyelipkan beberapa helai rambutku ke belakang telinga.
Sedikit berdecak kemudian hendak melangkahkan kaki, karena tidak ada gunanya aku masih berdiri disini bersama Renjun dan dia.
Itu sama sekali bukan urusanku, dan aku tidak mau tau, karena pada akhirnya itu akan membuatku sakit.
Tapi Renjun menahan tanganku. Mataku membola, untuk apa menahan ku?
Terlihat cewek itu menatap ke arah tangan Renjun yang saat ini sedang memegang tanganku, tapi sesaat kemudian dia memberikan senyuman pada Renjun.
"Sebelum aku pulang, aku mau ngasih ini,"
Aku ya?
Dia memberikan tote bag bergambar moomin pada Renjun. Renjun tersenyum tipis lalu menerimanya.
"Makasih, padahal gausah ngasih kaya gini," ucap Renjun.
Perempuan itu tersenyum yang terkesan dimanis-maniskan.
"Gapapa, sebagai ucapan terimakasih,"
"Ah ya, Kak Renjun mau pulang?"
"Belum,"
"Oh nganterin temennya.. lagi?"
KAMU SEDANG MEMBACA
[✓] One Last Time
Fanfictionrenjun × oc Kala berbicara tentang rasa, sebuah kata singkat yang memiliki beragam makna. Pada cerita ini menceritakan tentang Renjun yang diumpamakan sebagai sang langit dan Evelyn sebagai sang matahari. Bagaimana jika langit ternyata ingin selalu...
![[✓] One Last Time](https://img.wattpad.com/cover/150178438-64-k947602.jpg)